
Tetesan tirta, menghiasi adimarga vahana
Disaksikan swastamita berlebur bumantara
Atmaku padu dengan senyum sayu
Paksi kuyup sayapnya di balik cemara
Andai daku mampu menghela rindu
Barangkali sukma adinda masih dalam genggaman kala
Netra jelita bak asmaraloka
Daku tak asal bicara, ini hakikat dharma
Dinda bak sanubari nirmala
Elok tak usai dikata, layaknya buana
Daku hanya pelakon rindu, renjana parasmu
Khalayak jelata bersabda, dinda tak pantas didamba
Suratan ilahi sungguh semena-mena
Di mana hamba, yang benar-benar terpana
Nyatanya dipalun asa jenggala
Itu bukti daku tak asal berucap nafsu
Swastamita nyatanya pembawa kabar pilu
Dikabarkan bahwa daku hanya penghamba rindu
Dan bukan tuan dari apa yang menawan
Bukan pula sultan dari penghambaan
Eloknya hamba memang sekadar peminta
Jelata kasih, pengharap rayu dimuka
Tirta surut, paksi merangas, patra melayu
Pertanda, sukma wajib mendera bhuana
Sawit Juga Berkayu
Nasib pilu bak takdir dalam buku
Pustaka laku tak redam pada kala
Hanyut tirta, pecah lumbung buana
Sang bayu juga perkasa atas semesta
Sabda tuanku, sawit juga berkayu
Titah sultanku, sawit berdaun sumbu
Bisa dikata apa jika seorang hamba?
Ragu atas sabda pelita
Layak ditutur, kecambah berdaun juga
Namun tak sama, atas pahat dewata
Durjana primata agaknya
Jenggala dipalun pada serabut pertala
Niscaya, pada apa asa didamba
Nakhoda lahir dari ketukan palu semata
Belas kasih dalang pada sang putra
Di mercu nasib kekuasaan
Daku ragu, kisah apa ini sebenarnya
Bergunjing pula sabda pelipurnya
“Ini tak separah kenyataannya”
Abdi memang tertakdir dalam keadaan layu
Hamba Pada Yang Dihamba
Daku memang terpasung atas nasib
Hilang suratan hamba pada pencipta
Redam sejenak, Kusut dalam pikir
Belahan jiwa tiada, beserta buah cinta pula
Pada siapa hamba berpulang adinda?
Bumantara merana, seolah dibuatnya
Namun, sasmita selalu dapat makna
Dewata tak usai atas gulana
Buana lantak, namun enggan dengan iman
Insan tetaplah insan atas waskita
Tak henti meminta, bukti abdiku padanya
Namun apa yang dipinta agaknya?
Istriku telah tiada
Putraku bernasib yang sama
Kenapa hamba tak engkau ambil juga?
Seolah menyiksa siapa yang tak punya
Lelah atas takdir dalam pikir
Hilang karsa beserta nama
Wujud rupa atas hakikat dharma
Pilu laku atas diriku
Oleh: Aditya






