
Beginilah aku, bersandar pada kokohnya kursi jati buatan Eropa. Cokelat mengkilat, siapapun rela menjual apapun demi memiliki barang antik ini. Sejauh mata memandang, hanya terlihat rimbun pohon menari kanan kiri mengikuti irama angin. Berselimut hawa penusuk raga, aku menunggu kehangatan yang dibawa ayah dan ibu dari luar sana. Berkedok mencari nafkah, bagiku penyiksaan batin tanpa henti. Untuk apa aku menunggu hal yang mustahil terjadi dalam hidup?
Aku menyerah. Melangkah masuk menuju petak berlantai dua bagai istana katanya. Punggungku bermanja empuknya sofa tepat di sudut ruangan ditemani chicken steak yang diantar ojek online tadi siang.
“Meong,” seekor kucing yang datang entah darimana terbaring manis di sebelahku.
Ah, sepertinya dia datang dari pintu depan yang lupa kututup.
“Hei, kenapa kau sendiri? Dimana orang tuamu?” tanyaku padanya
“Meong,” jawabnya lirih.
“Ya, aku juga merindukan mereka,” balasku seolah paham apa yang ia rasakan.
“Kau pasti lapar kan? Coba ini ya.” Aku berikan potongan seruas jari daging ayam untuknya.
“Meoooong!” Mungkin itu cara berterima kasih ala kucing, pikirku.
Oh, bulu lebat hitamnya menggoda tanganku tak berhenti mengelus kepalanya.
“Hanya kau yang bisa mengerti aku,” ucapku hanyut tengelam dalam pelukan bersama Koko, nama baru seekor kucing misteriusku.
Sejak saat itu, hari-hari mulai hidup bersama Koko. Keberadaan ayah dan ibu telah terhapus dalam ingatanku. Apalagi sekadar sekolah yang lupa kapan terakhir kali duduk di sana, yang aku tahu, Koko adalah malaikat dari Tuhan yang selalu kurindukan.
Seminggu telah berlalu. Tiada tanda-tanda kehadiran ayah dan ibu. Apakah mereka melupakanku? Uang yang mereka tinggalkan padaku sebelum pergi pun kian menipis.
“Koko! Koko! Dimana dirimu?” teriakku cemas. Belum nampak batang hidungnya pagi ini. Kucoba selidiki setiap sudut rumah, tetapi nihil sia-sia.
“Meong?” Koko datang kepadaku dengan suara lemas dan tubuh lemah tak berdaya, apakah dia sakit?
“Koko! Apakah kau sakit?” kudatangi dia lalu mendekap bulu-bulu halusnya.
“Tidak mungkin kau sakit kan? Ayo kita main lagi!”
Tampak matanya tak kuasa terbuka lagi, padahal aku sudah rutin memberinya makan setiap hari. Apa lagi yang salah?
“Maaf Koko, rupanya kau pun tidak bisa main lagi seperti mereka.” Aku cengkeramkan kedua tanganku di leher Koko.
“Aku sudah bosan bermain denganmu, Koko! Akan kuantar kau bersama mereka!”
Semakin lama, semakin kuat aku mencekiknya. Tak ada lagi yang bisa mengajakku bermain.
“Meoooooonggg!!!” Suara terakhir Koko hari ini, akhir nafas hidupnya.
“Akan kuantar ke tempat peristirahatan terakhirmu.”
Aku melangkah menuju lantai dua sembari menggendong Koko. Satu per satu anak tangga aku naiki. Melangkah menuju sebuah lorong panjang dengan dinding menghimpit di kiri dan kanan. Semakin lama, penerangan yang dibantu lampu bohlam kuning semakin redup. Aroma amis semerbak berlarian penuhi ruangan.
“Kau pasti dari sini ya?” ucapku ketika sampai di ujung lorong.
“Ayah, Ibu, aku membawa teman baru untuk kalian. Namanya Koko.”
Aku duduk membaringkan Koko di atas dua mayat yang bertumpuk.
“Seandainya kalian selalu bermain denganku, ini semua takkan terjadi,” ucapku bangkit dan berbalik arah, tenggelam dalam kegelapan.
“Melihat mereka lagi, jadi ingat masa-masa itu ya.”
Pikiranku menggali kembali ingatan seminggu yang lalu.
“Sudah kubilang, tidak ada untungnya membesarkan anak laki-laki seperti dia!”
“Apa-apaan ucapanmu itu? Kau yang tidak becus menjadi ayah!”
“Kalau kau menyayanginya selayaknya seperti seorang ibu, tidak mungkin dia memukul temannya sampai meninggal begini!”
“Oh, jadi kau kira hanya kau saja yang boleh bekerja? Kita butuh uang yang banyak untuk hidup. Kalau kau sendiri, tidak mungkin kita bisa membeli rumah sebesar ini!”
Ini bukan rumahku. Tak ada sepiring nasi goreng berbalut kasih seorang ibu. Apalagi tendangan bola yang kutangkap dari ayah. Salahkah aku berharap dari sepasang kekasih yang terjebak dalam cinta buta selama dua tahun lamanya? Apakah kehadiranku di dunia yang berawal dari semak adalah suatu kesalahan?
“Jangan dengarkan mereka yang membencimu, ibu akan selalu ada untukmu.” Sebuah ucapan dari seorang perempuan yang mengaku ibuku empat tahun lalu.
Saat itu, berseragam merah putih, aku melangkah ke sekolah mengharap sejuta mimpi yang akan diwujudkan suatu hari nanti. Apalah daya, puluh pasang mata menatapku seolah ada kotoran abadi di sekujur tubuh mungil ini.
“Pergi kau, ibuku bilang tidak boleh berteman dengan anak haram sepertimu.” Satu kalimat cercaan itu masih tertempel kuat dalam anganku.
Entahlah, masa bodoh dengan para pendamprat itu. Aku patahkan hinaan selama tiga tahun dengan menjadi juara kelas saat duduki tingkat tiga sekolah dasar. Aku masih ingat ukiran senyum ibu dan belaian rambut dari ayah. Biarlah dunia membuang diri, masih ada sepasang malaikat dari Tuhan menemaniku. Hatiku sekilau permata tanpa retak sedikitpun. Aku tidak ingin hari-hari bahagia sirna, saban hari penuh rintik hujan abadi tanpa akhir pesona pelangi.
Aku terbuai sesaat. Tanpa prestasi, hanya raga hampa. Tiada lagi sorot lampu kepadaku setahun ini seperti dulu lagi. Mendung melanda hati, sudah tak tahan lagi menahan air mata. Aku hanyalah seonggok daging besar berpacu waktu perlahan akan membusuk.
“Ibu, main lagi yuk!” Sahutku mendekati bidadari dunia yang Tuhan kirimkan untukku.
“Sudah, belajar saja yang betul! Ibu lagi sibuk kerja!”
Lihat, tak ada lagi yang peduli lagi denganku. Aku dianggap ada ketika mendapat piagam. ayah pun sama rupanya, pulang ke rumah hanya untuk menumpang tidur. Mereka bukan ayah dan ibuku yang dulu, yang menerima diriku apa adanya.
Rembulan telah tiba. Keduanya telah terlelap tanpa berbicara sepatah kata pun padaku hari ini. Aku melangkah menuju dapur, mengambil sebuah pisau berbalut darah ikan segar. Perlahan, aku mengendap-endap masuk ke kamar dua iblis berbusana malaikat kemarin sore.
“Tak ada lagi yang ingin bermain denganku.” Aku menusuk dada kiri ayah.
Ayahku berteriak kencang. Cukup untuk membangunkan lelapnya ibu di sebelahnya. Melihat mata ibu sudah terbuka, aku sayat leher ibu sekencang-kencangnya dari samping kanan. Luka yang cukup dalam bagi mereka berdua. Kasur malam bermandi darah, berbaring raga tak bernyawa.
“Ini kasur orang tuaku yang sering bermain denganku. Bukan kalian yang menghapus kehadiranku dalam hidupnya.” Ucapku di depan kedua mayat yang masih segar.
“Kau yang pertama.” Aku menyeret ayah yang telah tiada menuju ujung lorong rumah ini, kemudian ibuku yang kuletakkan bertumpuk di atasnya.
“Aku akan menunggu ayah dan ibu yang asli.”
Sejak saat itu, aku setia duduk di depan rumah menunggu mereka pulang. Hingga Koko datang sebentar lalu menyusul keduanya.
Begitulah, impian kecil yang tak bisa diwujudkan sebuah keluargaku. Apakah perhatian menjadi sesuatu yang langka bagi mereka? Kenangan itu takkan pernah kulupakan. Aku melangkah ke dunia luar, meninggalkan rumah yang menjadi saksi bisu penyiksaan batinku. Dengan mengenakan pakaian bertambal lubang, aku pasti akan mendapatkannya lagi. Rindu akan sorot lampu yang terfokus padaku.
“Halo Nak, apakah kamu tersesat?”
Benar saja, 10 menit di jalan, aku sudah mendapat simpati dari seorang wanita.
“Iya tante, kedua orang tuaku sudah tiada, keluargaku meninggal semua. Aku sendirian sekarang,” isakku bercampur air mata.
“Oh, kasihan sekali kamu! Ayo ikut tante, kebetulan saya adalah pengasuh dari panti asuhan dekat sini. Ini tante baru pulang dari pasar. Kamu pasti lapar kan?” tanyanya sambil mengelus kepalaku.
“Iya tante.”
“Oh ya, siapa namamu?”
“Namaku Dani, tante.”
“Baiklah, sekarang Dani tidak perlu takut ya. Sebentar lagi kamu akan mendapat banyak teman dan ibu asuh.”
“Baik, tante, terima kasih,” ucapku tersenyum. Kedamaian yang harusnya aku dapat di rumah, ternyata harus aku perjuangkan sampai di luar.
“Semoga kejadian itu takkan terulang lagi,” bisikku.
Penulis : Aryadimas Suprayitno
Mahasiswa Aktif Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
Editor : Mulyani Adi Astutiatmaja






