UMS, pabelan-online.com – Gelombang protes massa meletus di Solo Raya pada 22 Agustus 2024, di depan gedung Balai Kota Surakarta. Aksi ini diinisiasi oleh Aliansi Koalisi Indonesia Melawan, yang bertujuan mengawal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pencalonan kepala daerah.
Sejak pukul 12 siang, massa Aksi Aliansi Koalisi Indonesia Melawan telah berkumpul di gladag dan melakukan orasi di jalan. Setelah melakukan orasi, massa aksi berjalan mundur menuju balaikota Surakarta. Aksi berjalan tersebut menyimbolkan demokrasi di Indonesia yang mengalami kemunduran.
Aksi Aliansi Koalisi Indonesia Melawan telah direncanakan sejak 21 Agustus 2024 pukul 20.30 WIB, dengan ruang konsolidasi yang mengundang seluruh elemen masyarakat. Konsolidasi ini bertepatan dengan upaya Baleg Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menganulir putusan MK melalui pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pilkada.
Tujuan konsolidasi tersebut untuk melakukan koordinasi dengan partisipan yang hadir dan merancang poin-poin tuntutan. Mereka menekankan bahwa, tujuan utama dari aksi ini ialah menyelamatkan demokrasi Indonesia, karena mereka merasa demokrasi telah diacak-acak untuk mempertahankan kekuasaan dan dinasti Jokowi.
Menanggapi hal itu, Agung Lucky Pradita selaku Koordinator Lapangan (Korlap) Aliansi sekaligus Presiden BEM UNS menyatakan bahwa, aksi ini merupakan “pemantik” untuk gerakan nasional yang lebih besar. Ia menegaskan bahwa, tujuan utama aksi tersebut untuk menyelamatkan demokrasi Indonesia.
“Saat ini, dalam pemilihan kepala daerah, terdapat lebih dari 150 kepala daerah yang kemungkinan besar mendukung kandidat yang kurang murni karena pengaruh koalisi politik yang besar,” ujar Agung, Kamis (22/08/2024).
Ia juga menyoroti salah satu keputusan MK yang kontroversial, yaitu terkait batas usia gubernur, walikota, atau bupati. Ia mengungkapkan bahwa, perubahan tersebut akan menguntungkan pihak-pihak tertentu, karena penetapan seharusnya dilakukan pada tanggal 22 September tetapi diubah menjadi pelantikan pada tanggal 1 Januari 2025.
“Hal ini dapat mencederai demokrasi dan konstitusi, serta membuka peluang bagi figur seperti Kaesang untuk maju dalam pilkada tahun ini,” terangnya.
Masyarakat tak ingin kecolongan lagi seperti ketika Gibran tiba-tiba bisa diloloskan oleh MK. Di Jakarta, telah banyak sekali penjegalan dan calon boneka yang diloloskan.
“Begitu juga di Medan dengan Bobby Nasution yang diusung oleh 12 partai besar, serta di Solo dan Jawa Tengah, dan beberapa daerah lainnya,” jelas Agung di tengah kerumunan massa.
Agung menegaskan bahwa, akan ada eskalasi aksi ke depan, karena aksi ini merupakan pemantik untuk memulai aksi-aksi di seluruh negeri maupun nasional. Mereka menyatakan bahwa ini akan menjadi eskalasi yang lebih panjang lagi.
“Solo adalah seperti jarum yang dijatuhkan di Surakarta, yang nyaring bunyinya seperti linggis yang dijatuhkan di Jakarta,” tambahnya.
Kemudian Agung memberikan penilaiannya terhadap pemerintahan Jokowi yang diberi nilai 10 dengan alasan semua upaya telah dilakukan terkait keputusan MK. Hal itu dapat dilihat dari penggunaan MA, DPR, serta melibatkan seluruh aparat yang ada, bahkan menurunkan kepala desa, dan sebagainya.
Menyaksikan keresahan yang ada, Agung juga menyampaikan tujuan penting aksi itu untuk meningkatkan atau mempertahankan rating agar demokrasi sesuai dengan prinsip “Vox Dei”.
“Dengan rating yang sangat bagus ini, kami masyarakat mencoba mencari cara untuk meninggalkan dinasti politik agar masyarakat bisa benar-benar memilih dengan murni atau memilih calon yang lebih berkualitas dan memiliki lebih banyak pilihan. Maka kami akan mengembalikan marwah demokrasi,” tutur Agung.
Agung juga menyampaikan pesan dan harapannya, bahwa mahasiswa ialah penjaga ilmu intelektual dan kaum akademisi yang diharapkan oleh ratusan juta masyarakat Indonesia. Ia mengajak mahasiswa untuk bersatu menyuarakan aspirasi masyarakat dan memperjuangkan kesehatan demokrasi.
Agung mengajak seluruh mahasiswa agar tetap waspada dan sadar dari dalam diri, karena mahasiswa adalah penjaga ilmu intelektual, dan kaum akademisi. Sebab, banyak sekali ratusan juta masyarakat Indonesia yang mengandalkan dan menitipkan harapan kepada para mahasiswa.
“Maka dari itu, mahasiswa, mari kita bersatu untuk benar-benar menyuarakan apa yang sedang dirasakan masyarakat, memperjuangkan kesehatan demokrasi, membobol pintu-pintu dinasti itu, pagar-pagar dinasti agar seluruh masyarakat juga bisa menikmati demokrasi dan menikmati negara Indonesia, bukan hanya dinikmati oleh segelintir elit politik,” seru Agung pada seluruh mahasiswa di Indonesia.
Dalam kesempatan lain, reporter pabelan-online.com mewawancarai Putra, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mengungkapkan pandangannya terkait aksi tersebut. Putra menyatakan akan keprihatinannya terhadap apa yang ia sebut sebagai “pembegalan konstitusi” oleh koalisi partai pendukung pemerintah.
“Mereka memanfaatkan situasi untuk kepentingan dan ambisi mereka sendiri tanpa memikirkan masyarakat Indonesia,” ujar Putra, Jumat (23/08/2024).
Ia juga mengkritisi upaya pembentukan dinasti politik oleh Presiden Joko Widodo, dengan menyatakan bahwa presiden secara terang-terangan sedang membentuk dinastinya sendiri dengan segala cara tanpa mempertimbangkan pendapat masyarakat.
Mahasiswa ini menyatakan dukungannya terhadap aksi dari Aliansi Koalisi Indonesia Melawan, sebagai bentuk kepedulian terhadap negara dan menentang anggapan bahwa aksi turun ke jalan itu tak ada gunanya.
“Kalau tidak ada masyarakat, mahasiswa yang turun ke jalan, saya jamin, UKT naik, gaji yang turun, susah mencari kerja, dan lain-lain,” tegasnya mengkhawatirkan dampak keapatisan masyarakat.
Mahasiswa semester tiga ini juga menyampaikan kekecewaannya terhadap Presiden Joko Widodo. Ia menyatakan bahwa, awalnya ia merupakan pendukung Jokowi dan menganggap presiden yang baik, namun melihat realitas sekarang ia memiliki anggapan yang berbeda.
“Saya sangat kecewa dengan Jokowi karena secara tidak langsung sudah membuat nama kota Solo tercoreng. Sudahi egonya, jangan sampai kejadian seperti Pak Soeharto terjadi lagi,” pungkasnya.
Reporter: Ferisa Salwa Adhisti
Editor: Muhammad Farhan







