
Semenjak itu kebutuhanku semakin terhimpit dan bantuan dari pakdhe tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga kami. Oleh sebab itu, mamak berulang kali masuk psikiater. Juga lantaran rindu dengan adik dan rasa keterpukulanya yang mengalami keguguran dua kali. Beban yang mamak tanggung tidaklah ringan. Selama aku menjadi anaknya aku mengenal mamak sebagai wanita yang tegar, tangguh dan kuat. Mungkin ini adalah puncak ketangguhan mamak hingga ia harus down.
Kini, giliran urusan pribadiku yang diobrak-abrik. Aku tahu alasan sebenarnya kenapa aku tak boleh melanjutkan studiku di Jakarta. Bukan karena masalah biaya yang selama ini menjadi kambing hitam. Lantaran aku tak boleh berdekatan dengan adikku, karena wajahku dan adiku sangat mirip meskipun adiku laki-laki, juga kebiasaan yang tak sengaja mirip seperti menggarukkan pungung pada tembok dan berkacak pinggang sambil berjinjit ketika kelelahan. Adikku tak boleh tahu bahwa aku adalah kakak kandungnya. Padahal kita sudah terpisah sejak lima belas tahun. Ada naluri untuk menjaga, melindungi dan merawatnya.
Bersambung.
Penulis adalah Ayu Purwaningsih.






