
Mau dimungkiri hingga bagaimanapun, dunia perkuliahan saat ini tak lepas dari bayang-bayang konsumerisme. Sebagai kelompok dengan daya beli yang signifikan, mahasiswa kerap menjadi target dari berbagai strategi pemasaran di era digital. Kemudahan akses informasi dan platform belanja daring telah mempermudah akses terhadap barang dan jasa, tetapi juga memicu perilaku konsumtif yang berpotensi merugikan.
Meskipun konsumerisme dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan inovasi, dampak negatifnya terhadap finansial mahasiswa, keseimbangan gaya hidup, dan lingkungan jelas tak bisa diabaikan. Ada sejumlah faktor yang turut mendorong perilaku konsumtif ini. Salah satu pemicu utamanya adalah tekanan media sosial yang menampilkan gaya hidup hedonis dan barang-barang bermerek, yang seakan-akan menjadi suatu kewajiban, bahkan menjadi standar dalam bermedia sosial.
Kondisi itulah yang membuat mahasiswa sering kali terpaksa mengikuti tren dengan dalih mengekspresikan dan menaikkan status sosial mereka melalui memamerkan barang-barang yang dikonsumsi. Mahasiswa yang menerapkan gaya hidup dan konsumsi yang hedon ini sejatinya sangat dipengaruhi oleh model, pemengaruh, artis, bahkan teman kelas sendiri. Situasi ini diperparah dengan betapa mudahnya akses kredit maupun pinjol, yang membuat mahasiswa gampang tergiur membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan sama sekali.
Adanya diskon juga menjadi salah satu faktor yang menjadikan perilaku mahasiswa konsumtif. Saat ada diskon di musim-musim tertentu, mereka cenderung kebablasan dalam membelanjakan duitnya untuk barang yang jauh dari kebutuhan mereka. Di sisi lain, yang tak kalah penting, literasi keuangan yang jongkok semakin memperburuk kondisi mereka.
Banyaknya mahasiswa yang rupanya belum paham betul cara mengatur keuangan dengan benar menjadikan mereka rentan terjerat utang. Berdasarkan laporan sosialisasi OJK dan studi lapangan, sepanjang tahun 2022 terdapat 311 mahasiswa IPB dan 58 mahasiswa UMY yang secara resmi tercatat terjerat pinjol demi memenuhi kebutuhan gaya hidup (OJK, 2023).
Adapun jurnal penelitian “Dampak Sosial Ekonomi dari Peningkatan Konsumerisme Digital di Kalangan Mahasiswa di Lingkungan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia” menyebutkan, 70% mahasiswa melakukan pembelian daring setidaknya satu kali dalam seminggu. Sebanyak 60% responden mengalokasikan sebagian besar pengeluaran mereka untuk barang-barang yang tidak mendesak. Dengan kata lain, itu merupakan pola konsumsi yang cenderung impulsif. Sebanyak 60%mahasiswa juga menyatakan bahwa perilaku konsumtif mereka meningkatkan pengeluaran bulanan secara signifikan.
Anehnya, meskipun terdapat peningkatan konsumerisme digital, 80% responden mengaku tidak merasa tertekan untuk mengikuti tren belanja dari lingkungan sosial mereka. Hanya ada dua alasan di balik itu. Kemungkinan pertama adalah mereka memang memiliki sumber dana yang besar, seperti orang tua yang tajir, dan memiliki penghasilan sendiri, misalnya. Kemungkinan kedua adalah mereka memang tidak tahu diri.
Namun, sejatinya, konsumerisme bukanlah ihwal yang sepenuhnya negatif. Kita tak perlu memungkiri bahwa konsumsi yang cerdas dan bertanggung jawab juga turut berkontribusi mendukung pertumbuhan ekonomi negara. Alangkah banyaknya produk-produk seperti lauk sambal, pisang coklat, bakso aci, camilan basreng, hingga kaos murah dan sandal yang pangsa pasarnya didominasi oleh kawula muda, khususnya mahasiswa.
Mahasiswa harus memiliki strategi untuk menyeimbangkan perilaku konsumtifnya. Kesadaran atas pentingnya menggenjot literasi keuangan harus dilakukan demi keselamatan dan kemaslahatan masa depan diri mereka sendiri. Mahasiswa dapat mulai menentukan prioritas finansialnya, seperti menabung untuk dana darurat, pendidikan, atau investasi leher ke atas.
Sebagai contoh, cara ini sesuai untuk para mahasiswa yang asal masuk kuliah sehingga asal pilih prodi yang dinilai tak sesuai dengan jalur karir di masa depan. Jika memiliki rezeki, duit itu bisa dialokasikan untuk membeli e-course/kelas daring untuk menunjang skill di luar prodi, agar setelah lulus nanti, mahasiswa tidak terlalu polos dan plonga-plongo menganggur di rumah, bingung karena tak punya kemampuan apa-apa selain materi kuliah yang sudah mengendap di kepala.
Konkretnya, andai memiliki hobi memotret, maka dapat membeli kelas fotografi agar bisa menghasilkan duit dari situ. Sama halnya dengan membeli kelas videografi jika mahasiswa memiliki kecenderungan ke arah sana. Masih ada skill-skill lainnya seperti menulis, data analisis, teknik pemasaran, periklanan, hingga TOEFL dan IELTS. Itu bisa disesuaikan dengan minat, hobi, dan bakat masing-masing mahasiswa, sepanjang tidak malas dan memiliki kemauan yang besar.
Berkaca pada kondisi politik yang morat-marit, investasi untuk meningkatkan diri semacam itu jauh lebih bermanfaat dan berdampak ketimbang terus-menerus membuang duit untuk kepentingan perut atau malah sekadar menuruti gaya hidup hedon demi memperoleh validasi. Semakin ke sini, negara semakin tak bisa menjamin lapangan kerja untuk masyarakat, tak peduli lulusan kuliah atau bukan.
Di zaman ini, amat naif jika mencari pekerjaan hanya bermodal gelar dan ijazah sarjana. Tak ada gunanya memasrahkan nasib hidup pada negara yang porak-poranda. Percaya kepada ikhtiar dan doa jauh lebih masuk akal dan realistis dalam menyelamatkan nasib diri di masa depan.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu berlatih mengabaikan paparan iklan di media sosial agar tidak ikut-ikutan bergaya hidup hedon dengan barang-barang mewah. Mengonsumsi iklan-iklan serupa hanya akan membuat mahasiswa terbius dan terus menuruti keinginan yang semu itu. Menerapkan gaya hidup minimalis mungkin dapat menjadi solusi, dengan membeli barang yang perlu-perlu saja.
Dengan meningkatkan literasi keuangan, menumbuhkan kesadaran akan nasib masa depan, dan memanfaatkan media sosial secara bijak, kita dapat menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan diri sendiri tanpa harus memiliki rencana yang muluk-muluk dan semu. Sudah saatnya kita menjadi mahasiswa yang produktif dengan perlahan meninggalkan perilaku-perilaku konsumtif yang dikhawatirkan tak ada kontribusinya bagi masa depan diri mereka sendiri.
Penulis: Gladys Mayleny






