LPM Pabelan

Sumber: Kompas.com

Langit sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera kembali diselimuti asap sepanjang pertengahan 2026. Melansir Tempo.co, data SiPongi, sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) milik Kementerian Kehutanan, mencatat luas area yang terbakar melonjak dari sekitar 56 ribu hektare di 31 provinsi pada April, menjadi setidaknya 107 ribu hektare di 38 provinsi hanya dalam waktu dua bulan berikutnya.

Di balik lonjakan ini, ada satu nama yang berulang kali disebut: El Nino. Tempo.co melaporkan bahwa fenomena pemanasan Samudra Pasifik ini tahun 2026 tergolong sangat kuat, bahkan digadang-gadang menuju rekor terparah, dengan puncak musim kemarau diperkirakan jatuh pada Agustus dan September. Kombinasi El Nino yang kuat dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) membuat curah hujan anjlok jauh di bawah normal, sekaligus menyulitkan upaya penyemaian awan yang selama ini jadi jalan pintas mempercepat turunnya hujan.

Namun, musim kering saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa api terus berulang setiap tahun. Rapat Koordinasi Khusus Pengendalian Karhutla 2026, menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar lantaran jauh lebih murah dibanding memakai alat berat.

Ketiga benang merah ini: musim kemarau yang kian panjang, El Nino, dan praktik pembukaan lahan, saling berkelindan setiap tahun, tetapi jarang dipahami secara utuh oleh publik. Untuk mengurai persoalan ini, Pabelan-online.com mewawancarai Kuswaji Dwi Priyono selaku Guru Besar Ilmu Geografi, yang menjelaskan bagaimana ketiganya sebenarnya saling terkait, dari pola angin monsun hingga kenapa lahan gambut begitu sulit dipadamkan.

Sumber: news.ums.ac.id

Banyak orang merasa kemarau kali ini lebih panas dan lama. Apakah ini normal?

Sebenarnya kita kan di daerah iklim tropis, iklim tropis itu ada pola angin yang mempengaruhi angin monsun barat dan monsun timur. Karena kita hanya dua musim, musim penghujan dan musim kemarau. Polanya itu antara bulan Oktober hingga April itu musim hujan, Mei hingga September itu musim kemarau.

Berarti masih terbilang normal, ya?

Iya, masih taraf normal.

Mungkinkah ada pergeseran prediksi?

Pergeseran memang ada, karena kita di daerah kepulauan kemudian dari segi geografis, panjang garis bujurnya itu panjang, ya: dari Sabang di Sumatera hingga Merauke di Papua. Itu terpengaruh di dalam pola angin, yang kemudian mempengaruhi cuaca dalam konteks tahunan, mempengaruhi iklim kita.

Seandainya Oktober nanti hujan belum turun juga, apa yang tengah terjadi?

Ya, jadi kita di Indonesia tadi, itu kan ada dua pengaruh anomali pemanasan atau pendinginan di Samudera Pasifik. Yang kemudian dikenal sebagai fenomena La Nina. La Nina itu kalau musim hujan itu agak panjang dari—tadi yang saya sebutkan—Oktober sampai April itu. Tapi juga ada fenomena yang kemudian dikenal sebagai El Nino. Itu musim kemaraunya tambah panjang. Dan pada tahun ini, pengaruh El Nino itu kuat. Kemungkinan kemarin memang agak panjang.

Berarti ada kemungkinan jika Oktober bahkan November nanti masih musim panas?

Iya, sangat bisa. Itu tadi karena pengaruh El Nino yang kuat semakin memperkuat bertambah panjangnya musim kemarau.

Berarti adanya hujan di Oktober itu belum tentu, ya?

Belum tentu. Kita kan kalau bicara tentang cuaca, iklim itu kan sangat-sangat predictable, walaupun polanya itu tadi bisa diramalkan, bisa diprediksi, tapi ini bukan keniscayaan.

Bisakah itu diukur? Misalnya, berapa lama atau paling lamanya…

Dalam konteks iklim-iklim datang tahunan. Bisa puluhan tahun, dua puluh tahun, lima puluh tahun, polanya seperti itu. Hanya, akhir-akhir ini, karena pengaruh perubahan tata kelola lahan, itu berpengaruh pada iklim-iklim yang kemudian dikenal sebagai iklim mikro.

Itu yang tentunya harus selalu diwaspadai pada kondisi geografis pulau-pulau yang menyebar itu. Ya, utamanya Kalimantan, Sumatera, itu kan berada di tengah khatulistiwa ini. Nah, ketika di pulau-pulau itu banyak kebakaran, berarti akan berpengaruh pada kondisi cuaca.

Jadi adanya kebakaran di mana-mana itu juga memengaruhi, ya?

Ya, mempengaruhi, yang kemudian dalam skala-skala yang lain perubahan dari hutan menjadi lahan pertanian.

Bagaimana itu bisa memengaruhi?

Kalau agak panas, baik matahari dalam konteks alam, itu kan kemudian di tengah pemanasan yang lebih tinggi tadi, karena akan tekanan udara di atasnya akan berkumpul, sehingga semua udara akan menuju ke situ.

Mengapa kalau terjadi kebakaran, panas, laju angin semakin kuat menuju ke situ, semakin besar dan besar saja? Sehingga mengapa Kalimantan itu sulit untuk dipadamkan—di samping karena memang tanah gambut, ya. Gambut itu kalau kering, kan secara mudah kayak arang gitu kan. Kalau sudah padam, lain hari bisa kebakaran lagi.

Bagaimana pengaruh dari tanah gambut dan pembukaan lahan itu?

Iya, karena tanah gambut itu sehingga memang harus hati-hati di dalam pembukaan lahan gambut. Tapi ya, suka karena kita kalah dengan investasi, uang.

Misal Anda punya uang, diberi hak tata kelola hutan, gitu. Awalnya kan seperti itu. Karena perkebunan kelapa sawit, harga minyak CPO (crude palm oil) di pasaran dunia naik, tadi diberi 10.000 hektare menjadi 100.000 hektare. Kalau misalnya kan awalnya hutan gitu, terus dibabat, terus juga jadi lahan sawit.

Bagaimanapun sawit dengan hutan tetaplah berbeda, ya?

Ketika hutan, semua hijauan, warna-warni yang ada, dengan vegetasi, dengan keanekaragaman hayati yang lain. Itu kan jadi sesuatu yang alami. Ketika pohon sawit, kan ada jarak. Lahan-lahan itu tetap hijau, tapi kan pengaruhnya beda. Kalimantan utamanya, di dalam dunia iklim, itu menjadi paru-paru dunia.

Menurut Anda, apakah sepadan kehilangan hutan diganti dengan investasi itu?

Anda tahulah, investasi itu memberi pendapatan negara, tapi berapa persentasenya? Investasi tadi hutan sudah menjadi lahan pertanian, lahan sawit. Bagaimana juga yang tadinya hutan juga di dalamnya, kemudian juga batu bara, ada nikel, maksudnya… untuk siapa?

Nyatanya penghasilan 82,5% kita masih dari pajak. Itu berarti larinya ke mana hasilnya? Sudah terjawab-lah, kenapa kepala daerah sekian kepala daerah itu tertangkap KPK. Bukan rahasia lagi-lah.

Bagaimana dengan cloud seeding atau penyemaian awan? Bukannya sudah lazim?

Ya, memang seperti itu. Tapi tadi ketika kita menyebarkan garam untuk mempercepat terjadinya hujan, tetap harus ada awan dulu. Tergantung ketebalan awan. Kalau nggak ada justru semakin hilang, sementara itu, kan, biayanya besar.

Jadi kendalanya adalah di biaya yang mahal?

Iya.

Tapi kalau sudah disemai garam lalu turun hujan, berarti masalahnya sudah selesai?

Iya, kalau awan yang sudah ada kandungan airnya itu disemai garam, memang bisa mempercepat turunnya hujan. Tapi tetap tergantung ketebalan awannya. Awan itu kan tetap terbawa angin—kasarnya, di daerah A disemai, tapi yang hujan malah turun di daerah B.

Soal karhutla tadi, pengaruh El Nino akibat kebakaran itu bakal berlangsung lama?

Kalau kebakarannya besar dan tidak kunjung padam, itu bisa membuat pengaruh El Nino makin panjang. Jadi bukan hutannya yang menentukan, tapi El Nino yang memengaruhi panjangnya musim kemarau.

Musim kemarau seperti sekarang ini, begitu cuaca di bulan September menjadi panas, gambut yang ada di bawah tanah Kalimantan bisa langsung terbakar. Tapi ini bukan saya yang bilang, justru kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) periode lalu yang menyatakan bahwa kebakaran itu sengaja dibakar, bukan alami.

Mungkinkah tanpa dibakar pun, sudah ada yang membuka lahan kosong itu sejak awal?

Kalau masih tertutup hutan alami, itu tidak mungkin terbakar dengan sendirinya. Jadi memang harus ada yang membuka lahannya lebih dulu.

Kalau dari sisi geografi, medan atau kondisi wilayah, apakah itu juga memengaruhi rawannya kebakaran?

Iya. Selain posisi kita sebagai negara kepulauan tadi, kita juga diapit dua samudera: Samudera Hindia di selatan dan Samudera Pasifik di timur, serta dua benua, Asia dan Australia. Posisi itulah yang membentuk pola angin di sekitar kita.

Bagaimana pola angin itu memengaruhi iklim kita?

Posisi itu menghasilkan pergerakan angin yang polanya relatif tetap tiap tahun, yang dikenal sebagai angin monsun barat, yang mengalir dari Asia ke Australia dan membawa musim hujan. Sebaliknya, angin monsun timur mengalir dari Australia ke Asia dan membawa musim kemarau. Semua ini juga dipengaruhi kondisi Samudera Pasifik, yang kalau ada anomali kita kenal sebagai El Nino dan La Nina.

Bagaimana pengaruh dari posisi kita yang persis di garis khatulistiwa?

Karena kita berada di daerah tropis, matahari selalu berada tepat di atas kita, jadi kita terus-menerus terkena panas. Meski waktunya bisa sedikit lebih lama atau lebih cepat, kita tetap kepanasan sekitar 12 jam setiap hari, dari pagi sampai sore. Di Solo misalnya, maghrib paling telat sekitar jam 18.15, dan subuh paling pagi sekitar jam setengah lima lebih sedikit. Ini berbeda dengan wilayah subtropis yang mengenal musim panas, musim dingin, dan musim semi.

Omong-omong, setahu Anda, bagaimana cara BMKG memprediksi cuaca?

BMKG punya akses ke data satelit. BMKG juga bagian dari asosiasi cuaca dan iklim dunia, dan diberi kewenangan untuk memberi informasi cuaca se-Asia Tenggara dengan peralatan yang canggih. Tapi sekali lagi, BMKG dan tim ahlinya itu membaca kecenderungan pergerakan angin dari data satelit—jadi tetap sebuah prediksi, karena yang dibaca adalah pergerakan angin di atas sana.

Berarti itu bukan kepastian?

Bukan kepastian, memang. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan wallahu a’lam. Tapi tetap ada data yang bisa dianalisis, dan BMKG kemudian menyampaikan informasi itu ke pelabuhan udara, pelabuhan laut, sampai ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), soal potensi peristiwa cuaca yang terjadi setiap harinya.

Jadi selain soal kompetensi individu, juga tergantung alatnya, ya?

Iya, alat yang canggih. Setidaknya secara keilmuan, alat itu berusaha mendekati data yang paling riil dan faktual. Tapi soal cuaca, semuanya memang bisa sangat berubah-ubah.

Reporter: Syahera Nursita & Muhammad Farhan

Editor: Aqnan Syandi Syahsena

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar