Sumber: www.pinterest.com

Belakangan ini, mindfulness kembali menjadi salah satu tema yang banyak dibicarakan setelah pernyataan salah satu public figure, Maudy Ayunda, terkait pentingnya memahami apa yang masuk ke dalam pikiran di tengah berbagai informasi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Melansir Kompas.com (14/09/2026), Maudy Ayunda menyoroti mindfulness sebagai salah satu pendekatan dalam menghadapi beragam informasi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah rutinitas yang dipenuhi berbagai distraksi, kemampuan untuk hadir dan sadar terhadap apa yang sedang dilakukan menjadi hal yang penting. Mindfulness tidak hanya berkaitan dengan ketenangan pikiran, tetapi juga kemampuan untuk memusatkan perhatian pada apa yang sedang dilakukan tanpa menghakimi atau terburu-buru memberikan penilaian. Penerapannya pun dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari, sekaligus memberikan jeda bagi otak dari berbagai informasi yang terus berdatangan.

Untuk memahami lebih jauh mengenai mindfulness, Pabelan-online.com mewawancarai Sri Lestari selaku Guru Besar Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ia menjelaskan mindfulness sebagai kemampuan untuk menyadari secara penuh kondisi internal, seperti pikiran, emosi, sensasi tubuh, dan lingkungan sekitar. Menurutnya, mindfulness juga berkaitan dengan kemampuan memusatkan perhatian pada apa yang sedang dilakukan tanpa menghakimi atau mengevaluasi pengalaman tersebut.

Apa yang dimaksud dengan mindfulness?

Bagaimana kita menyadari penuh, gitu ya, kondisi internal yang kita alami, yaitu pikiran, emosi, kemudian juga sensasi-sensasi pada tubuh dan lingkungan sekitar saat kita berada.

Jadi misalnya saat ini saya, kalau saya mindfulness, berarti saya menyadari bahwa saya sedang berada di depan laptop, sedang berbincang dengan Anda mendengarkan suara, dan berada di sebuah ruangan. Nah, itu saya sadari sepenuhnya bahwa saya ada di sini dan sedang melakukan apa.

Mindfulness juga sampai pada sensasi tubuh. Misalnya kalau kita bicara mindful eating, berarti kita betul-betul menyadari saat memasukkan makanan ke dalam mulut. Bahkan saat menyendok, memasukkan makanan ke mulut, bagaimana gigi-gigi bergerak untuk mengunyah makanan, bagaimana makanan yang sudah halus kemudian kita telan, serta rasa-rasa apa yang muncul. Mungkin ada benda yang keras, ada yang halus, ada yang bulat, dan seterusnya. Itu mindfulness sebetulnya seperti itu.

Berarti mindfulness berkaitan dengan kesadaran diri?

Iya, kesadaran diri. Jadi kita sadar sepenuhnya terhadap kondisi yang sedang kita alami, kegiatan yang sedang kita lakukan, serta lingkungan yang saat ini ada di sekitar kita. Namun, menyadari saja tidak termasuk menghakimi. Menghakimi atau mengevaluasi itu tidak termasuk dalam mindfulness.

Mindfulness lebih pada kesadaran diri sehingga pusatnya ada pada perhatian kita. Kita melibatkan perhatian yang fokus pada apa yang kita rasakan dan alami saat ini, kemudian juga penerimaan. Jadi, apa yang saat ini kita lihat, apa yang sedang kita dengar, dan apa yang kita rasakan.

Bagaimana seseorang dapat memahami dan memaknai mindfulness dalam kehidupan sehari-hari?

Mindfulness itu sebetulnya mengajak kita sebagai manusia supaya hidup dengan kesadaran penuh. Jadi, hidup itu tidak tiba-tiba pagi, tiba-tiba sudah malam, kemudian tiba-tiba pagi lagi. Tidak sekadar seperti itu.

Hidup itu disadari. Oh, saya bangun pagi, hari ini saya sudah punya agenda apa saja yang akan saya lakukan. Saya bersiap-siap untuk melakukan aktivitas, mandi, makan pagi, kemudian menempuh perjalanan sampai di tempat yang kita tuju, lalu kita mau melakukan apa saja. Itu semua kita sadari penuh bahwa kita sedang melakukan ini dan itu.

Sejauh mana mindfulness dapat memberikan pengaruh dalam kehidupan seseorang?

Kalau kita bisa hidup mindful, kita akan hidup lebih tenang. Kita bisa fokus. Melakukan sesuatu dengan mindful itu akan berkualitas dan tidak terdistraksi. Nah, itu biasanya juga membuat kualitas kerja kita menjadi lebih baik karena kita melakukan sesuatu secara fokus, mengerahkan semua perhatian, energi, dan pikiran yang kita miliki pada tugas yang sedang kita hadapi atau sedang kita kerjakan.

Kemudian juga mengurangi reaksi-reaksi emosional yang negatif karena kita mindful. Jadi, kita tidak terdistraksi oleh hal-hal yang ada di sekitar kita yang mungkin bisa mengganggu ketika kita sedang melakukan aktivitas.

Berarti salah satu manfaat mindfulness adalah membantu seseorang menjadi lebih tenang dan stabil secara emosional?

Iya, orang yang mindful bisa lebih tenang, emosinya bisa lebih stabil.

Apakah mindfulness dapat membantu seseorang dalam menghadapi tekanan atau stres? Jika iya, bagaimana prosesnya?

Mindfulness itu sendiri bisa meredakan beban, bisa meredakan stres dan cemas. Kenapa? Karena memberikan kita jeda waktu bagi otak beristirahat dari beragam informasi. Sekarang kita kebanjiran informasi.

Kalau kita tidak menepi sejenak dari keramaian dan kepungan informasi itu, rasanya pikiran jadi penuh banget. Ada informasi yang mengepung kita. Kita kadang-kadang kemudian terjebak pada upaya untuk melakukan perbandingan-perbandingan sosial. Akhirnya yang muncul penilaian diri yang negatif. “Saya kok nggak gini, ya? Saya nggak ini. Saya kok nggak sesukses itu? Kok saya nggak secantik itu? Kok itu sudah banyak prestasi, kok saya nggak?”

Kadang yang dibandingkan adalah yang lebih baik. Itu lama-lama akan melelahkan kalau hidup seperti itu terus.

Padahal, semakin kita banyak berkecimpung atau semakin banyak berselancar di media sosial, informasinya sudah tidak bisa dihitung lagi. Jadi, sudah banjir informasi. Kalau yang masuk itu tidak kita filter, kita akan terlalu penuh pikirannya.

Memang sebaiknya ada filter juga. Mana informasi yang memang kita butuhkan dan sering kita simak. Mana informasi yang biar seimbang saja, lewat saja. Tidak perlu semua informasi kita simak kalau itu tidak berkaitan dengan apa yang kita butuhkan, tidak bermanfaat untuk kesehatan mental kita, tidak bermanfaat untuk pekerjaan kita, atau tidak bermanfaat bagi kehidupan kita. Ya sudah, biar saja dia menjadi informasi yang berlalu begitu saja.

Lalu, bagaimana cara menerapkan mindfulness di tengah banyaknya informasi yang terus bertebaran?

Kenapa kita kebanjiran informasi? Karena kita membuka ruang itu. Membuka ruang-ruang yang mendatangkan informasi. Sekarang media sosial punya apa saja. Kemudian, media sosial itu kan kerjanya dengan algoritma. Kuncinya di tadi, kita mau algoritma yang seperti apa yang ingin hadir di media sosial kita.

Kita cari informasi-informasi yang memang positif, yang kita butuhkan, yang bermanfaat untuk diri kita. Bisa untuk sentuhan rohani kita, mungkin untuk semangat kita, atau menjadi tambahan informasi untuk meningkatkan keterampilan hidup dan keterampilan kita dalam bekerja.

Ketika kita masuk ke media sosial dan mencari hal-hal seperti itu, nanti yang masuk ke algoritma juga hal-hal seperti itu, bukan yang lain.

Berarti kita perlu melakukan penyaringan terhadap informasi yang muncul di media sosial?

Iya, better kita melakukan filter. Apa yang kita butuhkan, itu yang kita cari. Di luar itu kalau muncul, ya tidak usah dibuka-buka, lewat saja. Nanti kan tidak muncul lagi.

Apa saja faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan seseorang dalam menerapkan mindfulness?

Untuk melaksanakan mindfulness ini memang, mindfulness itu kan keterampilan. Artinya, dia perlu dilatih agar kita bisa melakukan itu. Tidak semua orang bisa melakukan mindfulness, tetapi itu membutuhkan keterampilan untuk melatihnya.

Nah, kadang kala karena pikiran itu sudah penuh duluan, ini perlu dikeluarkan dulu. Perlu ada teman untuk berbagi, teman untuk sharing. Jadi, di dunia saat ini kita dikepung oleh banjir informasi. Kita butuh orang dekat yang bisa menjadi tempat untuk curhat, yang kita percaya. Karena kadang-kadang kalau kebanjiran informasi, yang muncul bisa terus negative thinking.

Masalahnya sekarang justru Gen Z kadang-kadang tidak punya teman yang bisa ditemui secara langsung dan diajak bicara tanpa memegang HP. Jadi, bicara bertatap muka. Sering kali mereka temannya penuh, tetapi di media sosial semuanya. Teman-teman itu bersliweran, hadir tetapi sekilas, tidak ada yang mendalam.

Jadi, punya teman yang bisa berinteraksi secara mendalam itu menurut saya tetap penting. Kalau misalnya tidak, sebetulnya yang pertama di rumah dulu. Di rumah itu perlu ada orang-orang yang bisa mendengarkan. Kalau orang tua, ya orang tua perlu menjadi pendengar anak. Bisa juga kakak atau adik. Itu dari keluarga dulu.

Kalau dari keluarga tidak ada, mencari ke teman dekat. Harapannya teman sebaya ini ditemukan, entah teman sekolah, teman organisasi, teman kuliah, atau teman pengajian. Yang bahaya adalah ketika di antara teman-teman ini juga tidak ada yang mau mendengarkan dan dia akan mencari siapa pun yang dianggap bisa menerima dan mendengarkan. Itu bisa terjadi di media sosial. Entah siapa yang kadang-kadang baik di awal, tetapi punya maksud tersembunyi. Akibat buruknya ke sana.

Mindfulness merupakan keterampilan yang perlu dilatih. Seperti apa bentuk keterampilan tersebut?

Keterampilan mindfulness itu sebenarnya kalau mau mencari di video-video juga ada. Tetapi kalau mau belajar, sebenarnya paling tidak kita coba. Misalnya yang sederhana saja, kalau kita mau mindful ketika makan. Coba ketika makan tidak sambil melakukan apa pun. HP jauhkan. Hanya fokus pada makanan yang ada di hadapan kita.

Kita amati makanan kita, kita baca doa, kita syukuri bahwa hari ini kita bisa makan. Ada ayam goreng di situ, ada sup, ada apa, ada apa. Nah, itu kita amati dulu.

Kalau sudah, kemudian kita mulai ritual makannya. Kita sendok. Ketika menyendok, coba rasakan gerakan tangan yang menyendok. Rasakan gerakan tangan memasukkan sendok ke mulut. Rasakan makanan yang ada di dalam mulut ketika sedang proses dikunyah. Bagaimana pipi kita bergerak, bagaimana gigi-gigi kita beradu, dan seterusnya.

Itu betul-betul dalam kondisi tenang, fokus, merasakan sensasi tubuh saat makan. Jadi, mengunyahnya juga pelan-pelan. Tidak empat atau lima kali kunyah langsung ditelan. Jadi, mengunyahnya seperti yang idealnya 33 kali. Itu untuk membantu kita merasa tenang karena saat itu otak kita jeda dari beragam informasi yang bermacam-macam, fokus hanya pada satu kegiatan yang kita lakukan.

Nanti kalau kita terbiasa, kita bisa mengimplementasikan untuk kegiatan yang lain. Sedang mengerjakan tugas kuliah, coba mindful. Notifikasi misalnya ditutup dulu, HP disimpan, fokus pada tugas.

Mindful ini sebenarnya bagus untuk mengerjakan tugas. Beberapa tahun yang lalu saya juga mengikuti webinar terkait hasil riset di neuropsikologi. Otak kita itu sebetulnya kesulitan kalau kita melakukan beberapa tugas sekaligus dalam satu waktu. Kita kan biasa multitasking. Ini belum selesai, nyambi ini, nyambi ini. Makan sambil melihat HP, sambil ini itu. Sebenarnya kita tidak fokus juga untuk kerja otak kita. Kinerjanya menjadi tidak optimal.

Jadi, sebenarnya otak akan baik bekerja kalau dia bekerja satu pekerjaan sampai selesai, baru berpindah ke pekerjaan lain. Karena ada semacam sisa. Kalau satu pekerjaan belum tuntas sudah beralih, itu ada semacam sisa yang akan mengganggu kinerja di pekerjaan berikutnya.

Maka, kalau kita punya tugas banyak, multitasking bukan solusi. Kita bisa bekerja dalam waktu yang mepet, tetapi tetap ketat dengan alokasi waktu. Misalnya saya mau mengerjakan ini 15 menit, ya sudah 15 menit selesai, jeda, pindah. Yang ini mengerjakan 30 menit selesai, pindah. Itu yang ideal kalau kita mau bekerja sesuai kinerja otak.

Berarti memberikan jeda juga penting dalam menerapkan mindfulness, ya, Bu?

Iya, baiknya ada jeda. Walaupun itu hanya lima menit untuk memberi tadi sisa-sisa ini supaya otak bersih. Jadi, “oh ini tuntas,” kemudian “oh ini baru buka lagi ini,” buka ruang yang lain.

Walaupun, ya, itu saya belum bisa melakukan sepenuhnya. Saya juga ikut webinar itu baru berpikir, “Oh iya, saya biasa multitasking, ya.” Kadang lagi buka ini, mengerjakan ini, sambil ini, sambil itu, jadinya tidak optimal.

Mindfulness saat ini sedang banyak dibicarakan, salah satunya setelah dibahas oleh Maudy Ayunda. Bagaimana sebaiknya masyarakat memahami mindfulness yang disampaikan melalui pengalaman pribadi seorang publik figur?

Kalau kita memahami mindfulness, sebetulnya maksud Maudy itu baik. Artinya kita jangan mudah terpengaruh oleh paparan-paparan informasi buruk karena memasukkan informasi yang buruk itu juga kita menyimpan sampah psikologis. Jadi, yang buruk itu tidak begitu saja hilang dari pikiran dan perasaan kita.

Namun, Maudy sebagai publik figur sebenarnya membagikan pengalaman pribadinya. Artinya, itu tentang pribadi dia yang tidak setiap orang bisa melakukan apa yang dia lakukan. Tidak semua orang punya privilege seperti yang dia miliki. Kondisi kehidupan dia berbeda dengan kondisi kehidupan kita.

Problem-nya, netizen menganggap itu harus dilakukan oleh semua orang. Padahal Maudy juga tidak mengatakan, “Ayo semuanya melakukan seperti yang saya lakukan.” Dia hanya membagikan pengalaman dan apa yang dia lakukan.

Kalau itu cocok, ya ambil. Kalau tidak, ya sudah, abaikan saja. Sebenarnya simpel. Hanya saja, yang namanya idola dan netizen memang reaksinya seperti itu. Mereka kemudian mudah untuk mencerca, mudah untuk menghakimi, dan mudah protes.

Jadi, sebenarnya apa yang disampaikan ada baiknya. Kita perlu menjaga kesehatan mental dengan mindfulness, dengan fokus pada apa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa yang kita lakukan supaya tidak terlalu banyak sampah-sampah psikologis yang masuk ke diri kita. Begitu maksudnya Maudy. Ini yang disalahpahami.

Bagaimana sebaiknya individu menentukan informasi yang perlu diterima atau diabaikan dalam menerapkan mindfulness?

Tentunya kuncinya pada kita. Kita punya filter, kita yang punya kendali. Informasi, segala macam informasi di media sosial, tidak akan pernah masuk ke ruang kita kalau kita tidak mengundang dia untuk masuk.

Kalau kita tidak membuka Threads, tidak membuka Instagram, ya tidak akan masuk informasi-informasi itu ke ruang kita.

Reporter: Tsabita Inas Fathina Rahma  

Editor: Baso Muh Wahidin

Penulis

Also Read

Tinggalkan komentar