LPM Pabelan

Dua orang sedang bernyanyi sebelum pemutaran film dokumenter. (13/3) Fotografer: Aqnan Syandi Syahsena

Pabelan-online.com, UMS – Dalam rangka menolak pembangunan proyek geotermal Lawu, Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu (FRPGL) menggelar acara Buka Bareng Kawan (BUBARKAN) dan launching film dokumenter di RBEI Wonorejo, Bejen, Karanganyar pada Jumat, 13 Maret 2026. Acara ini mengundang berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam FRPGL dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang isu lingkungan, salah satunya yaitu penolakan untuk membangun proyek geotermal.

Salah satu tokoh masyarakat yang akrab disapa  Mbah Po  menceritakan bahwa banyak sumber air yang sudah mati di kawasan gunung lawu. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat bergotong-royong untuk menjaga lawu agar generasi selanjutnya merasakan air yang dihasilkan gunung lawu. 

“Dulu ada sumber besar, sekarang tidak ada, cuma jadi selokan. Terus air terjun di atas Pancaran, itu dulu juga ada tapi mati. Sumber Jendel mati, Jublegan mati. Besok anak cucu kita mungkin tidak tahu kalau dulu ada sumber air,” tuturnya saat sesi diskusi Jumat, (13/3/2026).

Ia juga berterima kasih dengan adanya film dokumenter ini karena dapat menjadi sarana edukasi untuk masyarakat. Selain itu Mbah Po juga mengajak untuk bersilaturahmi ke masyarakat Jenawi.

“Kita bisa ke utara sana menjenguk teman-teman Jenawi,” harapnya.

Disisi lain, selaku koordinator FRPGL Aan Shopuanudin mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan untuk menjaga semangat pergerakan dari anggota FRGPL. Acara ini telah rutin diselenggarakan setiap tahunnya saat bulan Ramadan dan sudah memasuki tahun ke-7 dalam pelaksanaannya. 

“Kita sebenernya udah lama menggelar acara ini, ya tujuannya untuk bersama menyuarakan isu lingkungan apalagi terkait isu geothermal,” tuturnya saat ditemui usai acara, Jumat (13/3/26).

Selain itu, Aan juga menjelaskan bahwasanya membuat film dokumenter ini didasari oleh perkembangan zaman. Ia menilai, jika menyosialisasikan dampak geotermal dari rumah ke rumah akan memakan banyak biaya dan tenaga. Oleh karena itu, ia memilih untuk membuat film agar mudah disebarkan ke masyarakat.

“Kalo kaya dulu kita sosialisasi rumah ke rumah bakal ngabisin tenaga, dan film ini baru awalan bagi kami dan akan diteruskan ber-episode,” jelasnya.

Ia juga mengatakan film dokumenter ini menggunakan bahasa sederhana yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai isu lingkungan. Ia berharap dengan film ini masyarakat yang belum peduli dengan isu geotermal bisa mulai peduli. 

“Dengan adanya ini kan bisa buat belajar bagi mereka yang acuh tak acuh, yang belum paham, ya melalui film ini,” ujar Aan.

Warga menonton film dokumenter ‘Di Bawah Harga Dumilah: Cerita Warga Lereng Gunung Lawu Tentang Rumah dan Ancaman’ di RBEI Wonorejo, Bejen, Karanganyar. (13/3) Fotografer: Aqnan Syandi Syahsena

Rafikhansa Dzaky Saputra selaku ketua tim produksi mengatakan bahwa film dokumenter berjudul ‘Di Bawah Harga Dumilah: Cerita Warga Lereng Gunung Lawu Tentang Rumah dan Ancaman’ dicetuskan dari acara nonton bareng yang diselenggarakan LPM Pabelan terkait isu geotermal. Aan, yang hadir pada acara tersebut mengajak untuk berkolaborasi pembuatan film dokumenter yang terdiri dari kolektif dan beberapa reporter LPM Pabelan.

Baca selengkapnya: https://pabelan-online.com/lpm-pabelan-gelar-nobar-film-tentang-pltp-di-lawu-berjudul-geothermal/ 

“Nah, kita diajak kolaborasi dan kita meng-iyakan, lalu kita mulai kajian isu dan itu di akhir bulan November,” katanya, Jumat (13/3/26).

Rafi menceritakan tim produksi juga melakukan penelitian untuk data pendukung film dokumenter ini. Rafi mengatakan bahwa ternyata masyarakat Jenawi menolak proyek geothermal dengan persentase 95% dan sisanya netral. Ia mengatakan jika proses pembuatan film dokumenter ini sekitar dua bulan lamanya. 

“Kalau ditotal-total, estimasi pengerjaan film ini waktu efektifnya adalah 2 bulan, 1 bulan untuk syuting dan 1 bulan untuk editing,’  jelasnya.

Rafi mengatakan dalam film dokumenter ini terdapat tujuh narasumber, mulai dari tokoh masyarakat hingga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional. 

“Untuk narasumber ada Mbah Po, Mas Wawan, Petani dari Jenawi (Mujiono dan Suprianto -red) , Mas Jekek, Mas Budi, Mas Aan,” tutupnya.

Reporter: Hilmi Izza Faturrahman

Editor: Aqnan Syandi Syahsena

Also Read

Tinggalkan komentar