UMS, pabelan-online.com – Kajian Titik Temu spesial Ramadan yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Hajjah Nuriah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini berlangsung tiap dua hari sekali. Kajian rutin yang ditargetkan selesai pada 20 Mei tersebut biasanya berlangsung via Zoom dan Whatsapp.
Kajian yang diselenggarakan oleh IMM Pondok Shabran UMS ini telah rutin berjalan selama bulan Ramadan, dengan mengangkat berbagai macam tema yang menarik, salah satunya adalah “Perlukah IMM Melakukan Tajdid dan Purifikasi sebagai Tradisi Gerakan di Era Milenial”. Kajian tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei lalu via group Whatsapp.
Sebagai pembicara, Ahmad Soleh selaku Sekretaris Bidang Riset Pengembangan dan Keilmuan (RPK) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM, sekaligus Redaktur Republika memaparkan bahwa IMM memiliki cakupan gerakan yang sangat luas, tak hanya mengenai dakwah keislaman dan dakwah sosial saja, tetapi juga tentang pemikiran-pemikiran intelektual.
Ahmad menekankan tentang bagaimana kegiatan dakwah sosial dan agama dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Dalam forum diskusi online, ia juga mengirimkan artikel yang ia tulis sendiri, mengenai bagaimana cara IMM memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media dalam berdakwah.
“Langkah ini bisa ditempuh dengan memanfaatkan platform digital sebagai media dalam melakukan kegiatan-kegiatan dakwah Islamiah dan sosial, dibarengi dengan kegiatan dakwah secara riil,” tuturnya melalui voice note (VN), Sabtu (2/5/2020).
Baca Juga: Lepma FEB UMS: Asah Daya Pikir Inovatif Mahasiswa Lewat Kelas PKM
Selain itu, kajian ini juga menyinggung perihal purifikasi, yakni upaya pemurnian gerakan IMM, tetapi lebih kepada penguatan ideologi pada kader IMM. Lantaran pada zaman sekarang banyak ideologi yang masuk dan tidak sesuai dengan Muhammadiyah, sehingga selain harus pintar memanfaatkan platform digital, juga harus diimbangi dengan tidak meninggalkan nilai-nilai murni Muhammadiyah.
Rahmat Rusma Pratama, salah satu peserta kajian mengungkapkan, bahwa kajian tersebut sangat luar biasa dan penyampaian materinya sangat jelas. Ia juga berpendapat, sebagai kader IMM atau mahasiswa Muhammadiyah secara umum harus pandai dalam membaca tanda-tanda zaman atau mengikuti alur perkembangan zaman, sehingga tidak stagnan dan kaku dalam sebuah gerakan.
“Kita betul-betul dituntut untuk memaksimalkan era digital saat ini, seperti memanfaaatkan platform untuk menyebarkan dakwah Islam yang sebenar-benarnya,” tuturnya di Whatsapp ketika diwawancarai, Minggu (3/5/2020).
Reporter : Wike Tri Wulandari
Editor : Earleanne Typhano R.






