
Oleh : Zhanlie
Jika seseorang mempertanyakan kualifikasi dari seorang pendidik, dan mempertanyakan perihal output pendidikan yang instan. Pernahkah terbesit dalam pikiran berbagai faktor yang mempengaruhi proses pendidikan?. Masih ingatkah masyarakat Indonesia dengan tri pusat pendidikan?, yaitu rumah sekolah dan lingkungan. Karena rasanya tidak sesuai jika menyinggung catur pusat pendidikan sedangkan urgensi masjid telah luntur di kalangan masyarakat di Indonesia zaman sekarang.
Mengingat bahwa dimulai dari rumahlah pendidikan itu dan tidak harus menunggu capaian umur sekolah formal untuk belajar. Ibu memilki peran penting di dalam rumah, ialah madrasah pertama untuk setiap anaknya. Tidak peduli apapun derajat dan pekerjaan seorang ibu entah wanita karir, PNS atau ibu rumah tangga. Ia tetap guru pertama dan sempurna untuk menemani pendidikan di setiap tumbuh kembang anaknya. Lalu apakah para wanita sudah paham akan perannya yang tidak bisa digantikan?
Sebuah rumah tidak akan bisa dikatakan indah atau mewah hanya dari satu pintu saja. Seperti itulah analogi pendidikan yang ada di Indonesia tidak bisa dinilai dari hasil kinerja seorang guru yang ada di sekolah yang terbatas waktunya. Manakah waktu yang lebih lama dengan si anak, rumah sekolah ataukah lingkungan?. Mengingat bahwa lingkungan juga sangat berpengaruh. “Khuluq (jama dari akhlak) yang jelek itu menular”. Demikianlah salah satu bunyi mahfudhot (kata mutiara bangsa Arab) .
Cobalah sesekali menengok bagaimana persiapan seorang guru sebelum mengajar di kelas atau salah satu tugas mahasiswa FKIP yang harus membuat RPP sebelum praktik mengajar, metode yang digunakan bukan hanya ceramah namun disesuaikan dengan kondisi siswa serta pendekatan yang digunakan, kontekstual inkuirikah atau fakta maupun konsep. Penguasaan materi sebelum memasuki kelaspun haruslah matang. Pendekatan emosionalpun harus tetap terlaksana karena seorang pendidik bukan hanya mengajar namun juga mendidik. Seperti yang diterangkan dalam buku Ushulu Tarbiyah wa Ta’lim karya ustadz Ali Syarqowi Lc.bahwa mendidik adalah segala sesuatu yang berpengaruh dalam pembentukan manusia dari segi jasmani, akal, akhlak, sejak buaian hingga liang lahat termasuk segala sesuatu yang disengaja maupun tidak seperti di rumah sekolah ataupun lingkungan. Senada denga hal tersebut pendapat Imam al Ghozali dimana pendidikan adalah “belajar dari waktu shibyan* diniyyah ataupun khuluqiyyah agar dapat berpikir dan merasakan nikmat dunia yang tujuan mulianya beribadah dan mendekat kepada Rabb pencipta untuk kehidupan akhirat (lihat di kitab Asas Tarbiyah al Islamiyah fi ‘Ashri Nabawiyyah percetakan ad Daar al’ Arabiyyah lilkutub Libiya, Tunis tahun 1983 hal. 24). Mengingat bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah (QS:51:56) . Begitu pula pendapat filsuf dari Inggris, Herbert Spencer “pendidikan adalah persiapan manusia untuk hidup dalam kehidupan yang sempurna” (lihat di kitab Ruh Tarbiyah wa Ta’lim percetakan Daar Ihya’ l Kutub al ‘Arabiyah hal. 5-6). Output pendidikan di Indonesia di pengaruhi oleh pendidikan formal dan nonformal, di rumah sekolah maupun lingkungan yang terinpretasikan dalam sikap dan tingkah laku.






