
UMS, Pabelan-online.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar aksi pada Senin, 15 Juli 2024 di Gedung DPRD Jawa Timur. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes mahasiswa kepada pemerintah yang tidak menepati janjinya untuk memberikan solusi kepada warga eks-stran Kalijagir.
Aksi yang dilakukan oleh BEM UNAIR dilakukan karena pemerintah mengingkari janji kepada warga eks-stran berupa solusi terhadap kerugian yang diterima warga seperti kesulitan dalam mencari tempat tinggal.
Tidak hanya itu, akibat dari pengusiran tersebut banyak anak-anak putus sekolah karena trauma, dan para ibu yang hampir bunuh diri akibat stres. Bahkan lansia yang sulit untuk bergerak juga ikut terkena dampak dari pengusiran tersebut.
Saat dihubungi oleh reporter Pabelan-online.com, Menteri Sosial dan Politik Erdogan Thayyib sekaligus Koordinator aksi, menerangkan bahwa aksi demo yang dilakukan saat itu terbilang tidak banyak karena belum sempat untuk mengkonsolidasikan kepada aliansi yang lainnya.
Aksi tersebut hanya dihadiri oleh BEM UNAIR dan aliansi masyarakat yang menuntut pemerintah di depan gedung DPRD Jawa Timur. Orasi dan demonstrasi yang dilakukan di depan gedung DPRD Jawa Timur bertepatan dengan dilaksanakannya rapat paripurna DPRD se-Jatim namun tidak jadi dilaksanakan karena ganti tanggal.
Edo menambahkan, situasi demo saat itu berjalan damai dan tidak ada terjadinya kericuhan. Massa aksi juga tidak mengharapkan terjadinya kericuhan atau anarkis yang dilakukan oleh berbagai pihak. Namun yang sangat disayangkan adalah hadirnya mereka saat itu sama sekali tidak disambut oleh pihak yang bersangkutan.
“Kasarnya, negara ini kan kedaulatan rakyat, kita pahami bahwa perwakilan itu posisinya di bawah kita kedaulatan di tangan rakyat ya masa perwakilan yang kita pilih yang kasarnya kita bayar lewat pajak dan sebagainya tidak mau menemui kita,” ujarnya, Kamis (18/08/2024).
Massa aksi menyampaikan beberapa tuntutan, diantaranya warga yang terusir bisa kembali ke Rusunawa, memberikan keringanan pembayaran untuk bisa dicicil, dan keringanan-keringanan yang lainnya.
Dari tuntutan yang telah disampaikan hasilnya cukup positif. Meskipun sebelumnya tidak ada pihak DPRD yang turun menyambut massa aksi, namun akhirnya DPRD mau melakukan audiensi lagi pada 22 Juli 2024. Audiensi tersebut dihadiri oleh warga Rusunawa, Lembaga Berbadan Hukum (LBH), dan dari BEM UNAIR.
“Persoalannya adalah bagaimana janji itu benar-benar tidak hanya sekedar janji tapi juga harus dilaksanakan, dan juga harapannya semoga menemukan solusi yang benar-benar berkeadilan kedua pihak,” jelasnya.
Melihat banyaknya kerugian yang terjadi akibat pengusiran ini, BEM UNAIR juga fokus untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak korban warga Rusunawa, berupa pendampingan pendidikan sekaligus juga melakukan pengecekan kesehatan psikologis oleh ahli. Ia berharap, pemerintah bisa memperlakukan warga Rusunawa sebagaimana mestinya, karena tidak ada lagi yang akan bertanggung jawab terhadap lansia dan para janda.
“Pemerintah itu seharusnya memberikan keadilan kepada keluarganya, apalagi DPRD selaku perwakilan kita. Perwakilan rakyat itu seharusnya benar-benar menjadi representasi perwakilan kita karena rakyat juga manusia,” pungkasnya.
Dihubungi pada kesempatan yang berbeda, Gusti Satrio Pamungkas, Kementerian Sosial dan Politik BEM UNAIR sekaligus penanggung jawab isu Rusunawa Gunung Sari, menjelaskan bahwa isu ini akan terus dikawal hingga akhir.
Ia menjelaskan isu ini merupakan permasalahan sosial yang sudah lama terjadi namun belum pernah terselesaikan. Selanjutnya akan ada pengkajian ulang terkait permasalahan ini melihat informasi-informasi yang diberikan dan akan diikuti di media sosial.
“Kajian terkait isu Rusunawa ini dibentuk atas kerjasama dari warga rusunawa yang memberikan informasi kepada kami, kemudian kami membuat kajian untuk mahasiswa UNAIR dan masyarakat luas agar mengerti terkait masalah ini,” ujarnya, Jumat (19/08/2024).
Ia menambahkan, terkait isu Rusunawa ini memberikan banyak dampak yang terjadi, mulai dari mahasiswa UNAIR yang awalnya tidak tahu tentang permasalahan sosial ini menjadi tahu. Kemudian munculnya lembaga sosial yang ikut membantu untuk warga-warga yang terusir dari Rusunawa tersebut, seperti memberikan tempat tinggal untuk beberapa warga yang memang tidak mendapatkan tempat tinggal sama sekali.
“Tidak hanya untuk masyarakat luas akan tetapi dari internal BEM sendiri, dengan mengkaji isu ini bagaimana merangkai kata-kata untuk menarik pembaca agar mengetahui isu Rusunawa serta memperuncing dan mempertajam pemikiran mahasiswa BEM UNAIR,” jelasnya.
Lebih lanjut Gusti menjelaskan, terkait permasalahan Rusunawa yang belum selesai ini disebabkan oleh pemerintah yang tidak menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat, menunda-nunda, serta memberikan janji-janji yang tidak ditepati sampai saat ini.
Akibat dari permasalahan tersebut akan menjadi beban bagi gubernur terpilih ke depannya. Melihat permasalahan ini sudah terjadi sejak tahun 2009 dan kembali terjadi pada 22 Mei lalu.
“Saya harapkan untuk Rusunawa Gunung Sari, mau siapa pun itu pemimpinnya jikalau itu janji gubernur Jawa Timur maupun itu janji dari periode sebelumnya harus ditepati. Untuk gubernur yang terpilih harus bisa menyelesaikannya jangan sampai masyarakat yang awalnya percaya dengan pemerintah menjadi merasa sebaliknya,” harapnya.
Reporter : Nurrahman Assa’adah
Editor: Ferisa Salwa Adhisti






