
UMS, Pabelan-online.com – Akreditasi dianggap penting dalam menjaga mutu perguruan tinggi, namun tidak selalu menjadi satu-satunya indikator kualitas pendidikan. Namun, standar penilaian akreditasi yang fokus pada aspek administratif dinilai belum sepenuhnya menjamin kualitas mahasiswa.
Akhir-akhir ini aspek pendidikan seringkali menjadi sorotan publik dan dipandang cenderung ke arah akreditasi. Akreditasi ini sudah seperti aji mumpung jika bersangkutan dengan suatu lembaga pendidikan di perguruan tinggi.
Dihubungi oleh reporter Pabelan-online.com, Harun Joko Prayitno selaku Wakil Rektor I (WR I) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menanggapi, bahwa dalam lembaga perguruan tinggi tentunya akreditasi sangatlah penting dalam meningkatkan mutu lembaga guna menjaga birokasi yang terdiri dari standar mutu, proses mutu, dan budaya mutu.
Harun menyampaikan, sistem akreditasi di UMS memiliki unit penjaminan mutu yang akan menyeleksi tiap mahasiswa yang masuk perguruan tinggi dan juga dosen.
“Itu budaya mutu namanya, kalau semua tidak ada, tidak ada mutu,” ungkapnya, Senin (27/5/2024).
Dalam pembentukan akreditasi perlu adanya budaya mutu, agar dapat berjalan dengan baik, maka perlu mengikuti standar-standar yang ditetapkan pemerintah. Standar tersebut disesuaikan dengan program-program studi apakah ikut standar nasional maupun internasional.
”Jadi akreditasi perpustakaan berbeda dengan akreditasinya biro lain,” ucap Harun dari penggambarannya.
Ia menambahkan, bahwa pemerintah akan menutup perguruan tinggi yang tidak mendapatkan akreditasi dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa salah satu aspek, yaitu akreditasi memang dipandang sebagai penentu kualitas suatu perguruan tinggi.
“Jadi misalnya kalau IQS (Integrasi Question System) peringatan itu juga untuk menunjukkan bahwa tata kelola perguruan tinggi di bidang akreditasi itu benar atau tidak toh, bagus apa tidak toh,” jelasnya.
Dampak dari akreditasi ini didapat dari pengakuan masyarakat luas, seperti dalam kualifikasi kerja yang mengharuskan pelamar dari lulusan akreditasi yang baik. Untuk itu, Harun Joko Prayitno selaku WR I UMS yang bergerak pada bidang akademik, akan terus meningkatkan akreditasi dengan sebaik-baiknya.
“Jadi budaya mutu, standar mutu itu tidak hanya penting di pendidikan tapi juga di perusahaan, harusnya lembaga itu di audit, audit itu pengakuan eksternal,” tambahnya.
Ayang Tarisna, salah satu mahasiswa UMS menanggapi bahwa standarisasi penilaian akreditasi tidak sebanding dengan hal nilai-nilai yang dipertimbangkan. Memang akreditasi didapat dengan fokus pada pembangunan, layanan, fasilitas, dan administratif.
“Tapi sayangnya ini tidak berkorelasi dengan tingkat pembelajaran dan pengalaman mahasiswa, jadi saya rasa mahasiswa disini belum mendapatkan benefitnya,” ungkap Ayang, Rabu (29/05/2024).
Ia menambahkan, bahwa akreditasi merupakan indikator penting untuk mutu pendidikan, namun mutu pendidikan bukan satu-satunya indikator dalam penentuan akreditasi.
Ayang juga menanggapi, bahwa terkait kualifikasi pekerjaan sekarang ini sudah ada beberapa yang tidak memperhatikan akreditasi lulusannya.
“Karena pastinya jika hanya mengedepankan akreditasi tanpa melihat kualitas SDM maka perusahaan/lembaga tersebut akan mengalami krisis yang berdampak pada reputasinya,” jelasnya. Kamis (30/05/2024).
Sebagai mahasiswa, Ayang menegaskan agar lebih fokus untuk mengasah soft skill maupun hard skill. Kedua hal itu dipersiapkan sebelum nantinya bertarung di dalam dunia kerja, karena menurutnya jika hanya mengandalkan akreditasi universitas saja tidaklah cukup.
“Akreditasi hanyalah poin sekian persen untuk menunjang, sisanya adalah kualitas diri yang membuktikan,” tutupnya.
Reporter: Karima Nur Fadila
Editor: Bagas Pangestu






