
UMS, Pabelan-online.com – Program Studi (Prodi) Sastra Jawa tak hanya diminati oleh mahasiswa dari Pulau Jawa, melainkan juga diminati dari luar Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan budaya Jawa semakin menarik perhatian dan membuka peluang kerja yang bagus bagi para lulusannya.
Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap budaya Jawa, beberapa universitas di Indonesia telah membuka Prodi Sastra Jawa. Hal ini membuka peluang untuk memberikan wadah kepada mahasiswa yang tertarik akan pembelajarannya.
Salah satu daya tarik Prodi Sastra Jawa yaitu mempelajari bahasa Jawa, dimana akan membuka pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai budaya Jawa. Jika dilihat peminatnya, tidak hanya orang-orang yang berasal dari Jawa saja yang mendaftar prodi ini, tetapi banyak pula mahasiswa luar Jawa yang mengikuti Prodi Sastra Jawa.
Melansir dari kabar wonosobo.com, mengenai mata kuliah yang ada pada Prodi Sastra Jawa meliputi mata kuliah Sejarah Kebudayaan Jawa, Kesusastraan Jawa, Filologi Jawa, Antropologi Budaya Jawa, dan Filsafat Jawa.
Lulusan Prodi Sastra Jawa tidak hanya memiliki wawasan seputar budaya Jawa saja, namun juga ada penanaman berbagai keterampilan yang dibutuhkan pada era modern ini. Prospek kerja yang ditawarkan pula tidak sedikit dan terbuka di berbagai bidang, seperti pendidik, penelitian, penerjemah, pelestarian budaya Jawa, media, dan pariwisata.
Sejalan dengan hal itu, Sucipto Hadi Purnomo, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa di Universitas Negeri Semarang (UNNES) menjelaskan alasan dibukanya Prodi Sastra Jawa adalah untuk pengembangan keilmuan di bidang Bahasa dan Sastra Jawa dan juga menyediakan ahli di bidang Bahasa dan Sastra Jawa.
Hingga saat ini, beberapa Universitas di Indonesia sudah membuka Prodi Sastra Jawa, diantaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Prodi Sastra Jawa di UNNES sendiri sudah dibuka lebih dari satu dekade, setelah dibukanya program Pendidikan Bahasa dan Jawa. Namun peminat dari Prodi Sastra Jawa sendiri relatif lebih sedikit dibandingkan dengan program Pendidikan Bahasa dan Jawa. Meskipun demikian prodi ini tidak pernah sepi peminat sejak awal dibuka.
“Peminatnya tidak kurang dari 3 kali kuota yang tersedia, bahkan bisa lebih. Ini paling tidak menunjukkan bahwa minat anak muda terhadap Sastra Jawa tetap ada meski belum bisa dibilang banyak,” ungkapnya, Kamis (20/06/2024).
Lebih lanjut ia menjelaskan, keunikan dari Prodi Sastra Jawa terlihat dari kegiatan yang diselenggarakan sebagai Ujian Akhir Semester (UAS). Kegiatan yang dimaksud berupa pertunjukan Sastra Jawa seperti festival ketoprak gaul, pergelaran wayang, hingga pertunjukan pawiwahan pengantin.
Dengan adanya pagelaran tersebut, akan semakin menarik peminat bukan hanya mahasiswa Sastra Jawa saja, melainkan dari mahasiswa yang berbeda prodi serta universitas lain.
Prodi Sastra Jawa ini akan terus berupaya untuk menarik minat anak-anak muda untuk masuk ke dalamnya. Perlu adanya inovasi dan pembaharuan untuk menunjukkan Sastra Jawa menjadi lebih kekinian.
Sucipto menambahkan, Prodi Sastra Jawa di seluruh Indonesia sudah menjalin komunikasi dan bekerjasama dengan baik pada tingkat pengelola, dosen, dan mahasiswa.
“Namun saya kira jaringan itu perlu makin dikuatkan dan perlu perlu juga mendapatkan dukungan optimal dari para pemimpin perguruan tinggi,” pungkasnya.
Viona Pangesti Widyandary, mahasiswa Prodi Sastra Jawa UNNES mengungkapkan alasan memilih prodi ini yaitu berawal dari keluarganya yang sering melakukan ritual-ritual kecil berlatar belakang kejawen. Dimana sejak kecil dikenalkan dengan seni dan budaya sehingga tidak lepas dari budaya Jawa.
Ia juga menjelaskan dibandingkan dengan program Pendidikan Bahasa dan Jawa, prospek dari Sastra Jawa lebih luas. Mereka bisa menjadi pelaku kesenian, peneliti dari praktik bahasa di masyarakat dan bisa juga sebagai filolog meneliti maupun kurasi naskah kuno beraksara Jawa maupun berbahasa Jawa dengan media lontar, batu, maupun kertas.
“Kalau tertarik ke arah pendidikan, tetap bisa ambil Pendidikan Profesi Guru maupun lanjut pendidikan lagi untuk jadi Dosen. Sastra Jawa juga dibekali buat ke arah broadcasting atau redaksi,” ungkapnya, Jum’at (21/06/2024).
Proses perkuliahan sendiri dibagi menjadi beberapa perkuliahan teori dan praktik yang mana sudah ada persiapan ke penjurusan linguistik, filologi, dan literatur. Mata kuliah praktik berkaitan dengan Master Of Ceremony (MC) Jawa tradisional, pagelaran kethoprak, dan mengelola pagelaran wayang.
“Semoga Prodi Sastra Jawa ini bisa bersaing dan unggul,” harapnya.
Reporter : Nizam Rifyal Aufa & Nurrahman Assa’adah
Editor: Kania Aulia Nazmah Nabilla






