LPM Pabelan

Pergerakan mahasiswa punya klaim sebagai agent of change, social control, moral of force, dan iron stock sebagai jantung dan denyut nadi masyarakat. Euforia aktivisme mahasiswa dahulu kala yang selalu di garda terdepan terlebih saat meruntuhkan rezim Orde Baru untuk Reformasi. Gerakan Mahasiswa Soloraya disebut-sebut sebagai Pergerakan Nasional itu, entah sebatas klaim semata atau benar adanya hari ini khususnya di Soloraya?

Tak pelak klaim itu ada manakala sepak terjang gerakan mahasiswa dengan kisah heroik mahasiswa dan golongan muda yang bahkan mewarnai momen penting negeri ini. Sebut saja peristiwa Rengasdengklok yang didengungkan sebagai peristiwa pintu gerbang untuk membuka kemerdekaan Indonesia. Dilanjutkan kisah pelengseran Soekarno dan Soeharto sebagai aktor pemimpin negeri otoriter yang pelopornya adalah mahasiswa.

Kisah klasik yang terukir begitu mewah dalam catatan sejarah kemahasiswaan. Kiranya kita sebagai mahasiswa baru atau basi wajib mengetahui sejarah gerakan mahasiwa sebagai pecut untuk membangunkan spirit perjuangan dalam diri mahasiswa. Jangan sampai klaim sebatas klaim dengan catatan-catatan indah romantisme masa lalu yang dilambungkan kemudian tinggal menjadi kisah-kisah saja.

Rasa-rasanya mengiris hati melihat dan mendengar kabar yang tak mengenakan bahwa sebuah desa akan digusur paksa oleh aparat secara sewenang-wenang. Di sisi lain ada yang mengaku gerakan mahasiswa tapi masih duduk di hotel mewah berjamuan dengan pemerintah dan aparat.

Tak elok saja dipandang terlebih masih satu regional jawa tengah dengan fenomena paradoks itu. Jika hanya poster dengan pernyataan mengecam akan tindak represif aparat tapi terjadi korporatisme itu sama saja kemunafikan yang tak pantas dilakukan oleh pengemban peran profetik.

Sungguh, betapa keparatnya pemuja penguasa yang diasakan sebagai sosok pembawa harapan bangsa. Gerakan yang seharusnya kolektif sesuai peran untuk kemudian oposisi terhadap pemerintah yang tiran, aparat yang sewenang-wenang. Akan tetapi, belakangan berujung jamuan makan di tempat yang berkelas jauh dari masyarakat menengah ke bawah dengan pemerintah dan aparat dalam kegiatannya.

Bersamaan dengan korporatisme itu, gerakan mahasiswa diajak mengikuti ritme budaya banal yang pada gilirannya dikritik Amien Rais: “Makin dibelenggu kemewahan hidup akibat kapitalisme yang berkembang”.

Kritikan Amien Rais mengenai mati surinya gerakan mahasiswa karena bergulat dalam tawaran alat-alat negara. Saat yang sama mereka juga telah bergantung dengan budaya banal yang biasa mereka konsumsi. Semua ini akhirnya menyebabkan mereka memilih langkah pragmatis, berkecimpung di dunia akademis tanpa harus pusing memikirkan persoalan rakyat.

Terlihat gerakan mahasiswa mengalami arah aktivitas yang anomali di mana terjadi represif dari aparat tapi malah di saat yang sama terjadi duduk manis bersama dengan jamuan yang mewah. Walaupun sebenarnya bukan fenomena baru adanya relasi antara pemerintah dengan aktivis mahasiswa. Bagi pemerintah, bentuk relasi ini bagian dari menciptakan harmoni agar program pembangunan berlangsung lancar.

Sedangkan bagi mahasiswa, relasi dengan pemerintah pastinya memiliki spektrum kepentingan yang luas mulai dari persekutuan jangka pendek hingga membangun jaringan kerja pada masa mendatang. Relasi ini begitu tak beradab jika elemen rakyat masih ada dan di posisi yang dirugikan apalagi tertindas.

Seyogyanya gerakan mahasiswa merupakan gerakan kemanusiaan yang berpihak kepada rakyat. Di setiap gerakan mahasiswa selayaknya terpatri kasih bagi negeri bukan sebagai ajang aji mumpung untuk menggalang pundi-pundi rupiah. Sebab rakyat sudah cukup menderita dengan perilaku oknum pemerintah yang korup, jual beli pasal, dan anti demokrasi.

Sangat ironis dan tak punya hati jika menambahnya dengan pengkhianatan. Apalagi memakai label perjuangan untuk rakyat padahal fenomena yang terjadi adalah gerakan oportunitis yang dibalut dan dikemas gerakan rakyat.

Alih-alih menciptakan seorang aktivis yang progresif, independensi gerakan mahasiswa tampaknya rentan menjadi slogan berwajah ganda. Bagaimana tidak, satu sisi independensi menuntut tidak boleh adanya keberpihakan gerakan mahasiswa. Namun di sisi lain independensi digunakan sebagai pelegitimasi perubahan orientasi gerakan mahasiswa.

Aktivisnya yang diserap dalam sistem kekuasaan biasanya akan melegitimasi dengan klaim-klaim idealisme perjuangan dalam sistem. Gerakan intelektual itu yang seharusnya harga mati atas idealisme menjadi mati harga yang begitu pragmatis.

Pungkasnya, klaim-klaim yang tersemat dalam gerakan mahasiswa khususnya Soloraya sebagai kota pergerakan nasional wajib hukumnya memberikan tauladan dengan harga matinya idealisme. Menghindari korporatisme dan menjauhi pragmatisme serta masif dalam bersentuhan dengan masyarakat menengah ke bawah guna menumbuhkan kepercayaan publik. Sudah sepantasnya gerakan mahasiswa seperti itu sebagai jantung dan denyut nadi masyarakat tertindas untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan serta mencela kebobrokan.

 

Penulis            : Izzul Khaq

Mahasiswa Fakultas Agama Islam

 

Editor             : Rio Novianto

Baca Juga: Harus Ada Hukum yang Tegas dan Mengikat

 

Also Read

Tinggalkan komentar