LPM Pabelan

Topo Pepe: Ketua BEM Unnes Kuat Nursiam melakukan aksi Topo Pepe sebagai bentuk permohonan agar kasus penahanan mahasiswa Semarang diselesaikan dengan restorative justice di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (2/6/2025).

Pabelan-online.com, UMS – Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar aksi Topo Pepe di Simpang Tujuh sejak Senin, 7 Juni 2025 untuk mendesak rektor agar memberikan jaminan pendampingan mahasiswa yang tertangkap pada saat aksi May Day. Rektorat hanya pernah turun sekali menemui peserta aksi Topo Pepe.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KM) Unnes Kuat Nursiam menyatakan, dirinya sudah melakukan lima sampai enam kali pertemuan dengan rektorat. Pertemuan itu bertujuan agar kampus dapat menjamin dan mendampingi mahasiswanya yang tertangkap saat aksi May Day. Namun, rektor hanya menghadiri sekali pertemuan saja.

“Aksi dari Unnes sudah dilaksanakan di Simpang Tujuh dan menyadarkan temen-temen keluarga massa Unnes bahwasannya sampai hari ini terdapat kawan-kawan ditahan di rumah tahanan,” tuturnya lewat WhatsApp pada Sabtu, (14/06/2025).

Kuat Nursiam mengaku sudah banyak turut andil untuk menyuarakan kasus ini dengan cara mendesak rektorat, melakukan advokasi, menyurati Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah, dan Komisi 3 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). 

Topo Pepe, dalam filosofis Bahasa Jawa, topo artinya bertapa, pepe artinya berjemur. Aksi itu dilangsungkan sebagai bentuk simbolik di mana rakyat atau orang kecil yang ingin bertemu dengan rajanya. Dalam konteks ini adalah mahasiswa yang ingin menemui rektornya. Singkatnya, Topo Pepe secara filosofisnya merupakan bentuk kekecewaan.

“Siapa yang kemudian turun? Ya keluarga dan juga mahasiswa. Nah, kemudian kita menyuarakan aksi-aksi kecil dulu ke tingkat besar,” kata Kuat menjelaskan tentang Topo Pepe.

Ia juga menyebutkan upayanya yang telah dilakukan untuk mendapat pendampingan hukum terhadap mahasiswa yang ditangkap. Antara lain, membuat kronologis-kronologis, mencari kuasa hukum, melakukan pendampingan dari awal penangkapan, dan melakukan aksi-aksi solidaritas. Selain itu, pada akun Instagram BEM KM Unnes terdapat sepuluh unggahan terkait dengan ‘Bebaskan kawan kami’.

“Bahkan setiap Selasa dan Kamis kita jenguk teman-teman yang ditahan di Rutan,” ungkapnya.

Reporter pabelan-online.com telah menghubungi S Martono selaku Rektor Unnes melalui via Direct Message (DM) Instagram sejak 12 Juni, tetapi ia tidak merespons. Sama halnya dengan Humas Unnes, ia tidak merespons saat dihubungi via surat elektronik. Hingga berita ini diterbitkan, Humas dan Rektor Unnes kompak tidak memberi respons atas kasus ini.

Reporter: Visel Westzona

Editor : Aulya Rahma Santi 

Also Read

Tinggalkan komentar