
Student Government (SG) alias pemerintahan mahasiswa yang semestinya dianggap sebagai wadah aspiratif, pengembangan minat bakat, dan kepemimpinan bagi mahasiswa, hari ini kenyataannya, esensi dan eksistensinya justru berbanding terbalik. Problematika yang kita rasakan hari ini bukan cuma politik, adu kepentingan antar kelompok atau pun perseorangan saja, melainkan banyak variabel lain yang memengaruhinya.
Hari ini, kita perlu bermuhasabah dan membuka mata terhadap kondisi ini. Cita-cita pemerintahan mahasiswa yang digadang-gadang sebagai penyambung lidah dan wadah perubahan mahasiswa kini tak lagi disadari secara penuh oleh mahasiswa UMS. Sangat disayangkan jika mahasiswa hari ini tidak lagi memedulikan kondisi yang terjadi. Ini adalah salah satu bentuk kegagalan akademik dalam kampus!
Sebagaimana mestinya, kampus dianggap sebagai laboratorium keilmuan guna menunjang daya kritis dan rasionalitas mahasiswa terhadap gejolak politik, sosial, dan lain sebagainya. Tak heran jika SG hari ini mengalami kemunduran dan kegagalan sistemik di dalam tubuh mahasiswa.
Hari ini, kita perlu memahami kembali peran dan nilai dari pemerintahan mahasiswa itu sendiri. Yang seharusnya dapat kita lakukan dengan melihat kemunduran ini adalah, kita sebagai mahasiswa, segera mengasah kembali kompetensi, nalar kritis, dan kepekaan sosial kita agar SG tak lagi dianggap sebagai lumbung kepentingan beberapa kelompok atau perseorangan.
Dalam hal ini, cita cita dan nilai luhur dari pemerintahan mahasiswa harus kita kumandangkan kembali layaknya seruan aksi di jalan yang menuntut ketidakadilan negara terhadap rakyatnya. Sedari sinilah, kita bisa menyadari seberapa pentingnya kehadiran SG dalam tubuh mahasiswa hingga elemen masyarakat secara umum.
Maka dari itu, ruang-ruang kritis di dalam kampus harus dihidupkan kembali karena itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai sosok intelektual yang bermartabat. Aktivisme dan gerakan kritis mahasiswa bagaikan nadi di dalam tubuh setiap mahasiswa. Walaupun aktivisme dan gerakan kritis mahasiswa hari ini jauh dari kata sempurna, gejolak yang terjadi hari ini, banyak mahasiswa menganggap pemahaman dan gerakan tersebut hanya dimiliki oleh orang yang berorganisasi saja.
Tentu tak seharusnya paham dan gerakan itu malah menjadi kesadaran kolektif dan kewajiban kita sebagai mahasiswa. Hal ini pula menjawab sebagaimana bentuk kegagalan akademik di dalam tubuh universitas. Kerap kali kita temui banyak mahasiswa tak lagi memiliki kemauan untuk menyadari seberapa pentingnya kita sebagai mahasiswa, untuk memahami aktivisme atau bahkan gerakan kritis mahasiswa.
Masalah kita hari ini adalah mahasiswa cenderung apatis dan egosentris terhadap kepentingan diri sendiri tanpa ingin membuka mata terhadap gejolak sosial hari ini. Melihat kondisi negara hari ini, naluri seorang mahasiswa sudah selayaknya marah dan kesal. Tapi itu tak cukup. Sedari situ kita dapat mengetahui sejauh mana kita dapat menghadirkan diri kita sebagai mahasiswa untuk kepentingan sosial dengan memperkuat paham aktivisme dan gerakan sosial.
Menyambung dari ihwal kegagalan akademik, kampus hari ini sudah tak peduli lagi dengan pertumbuhan daya kritis dan jiwa revolusioner di dalam diri mahasiswanya. Kampus hanya ingin jumlah mahasiswanya banyak tanpa memperhitungkan daya kritis dan solutif sebagaimana nilai pada tiap-tiap mahasiswa itu sendiri. Sistem akademik di kampus pun tampak sengaja diarahkan agar daya pikir mahasiswa menjadi tumpul tanpa mereka sadari, melalui doktrin orientasi kerja sebagai budak korporat: yang penting lulus, dan langsung dapat kerja.
Berkaca pada sejarah terdahulu, peran kritis mahasiswa sangat penting dalam tubuh mahasiswa untuk membentuk stabilitas sosial dan kemaslahatan sosial, seperti yang diucapkan oleh salah satu tokoh pergerakan, “Jika masih ada mahasiswa yang merasa lebih pintar ketika terjun di lingkungan masyarakat, maka lebih baik pendidikan ditiadakan saja”.
Melihat kondisi gerakan mahasiswa hari ini, ada jarak yang terasa kian melebar antara kampus dan realitas sosial. Gerakan yang seharusnya hidup, responsif, dan berpihak, justru kerap stagnan dalam menjawab persoalan-persoalan konkret di tengah masyarakat. Padahal, sejak awal mahasiswa justru dilekatkan pada peran historis sebagai “agent of change” dan penyambung aspirasi publik yang kerap terpinggirkan dari ruang-ruang kekuasaan.
Mahasiswa semestinya tidak cuma hadir ketika kepentingannya tengah terusik, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi ketidakadilan struktural, krisis demokrasi, hingga problem sosial-ekonomi yang terus berulang. Ketika mahasiswa hanya membatasi dirinya pada isu internal kampus, maka peran etik dan sosialnya perlahan akan segera kehilangan makna. Kampus pun berisiko menjadi menara gading: ramai diskursus, sunyi keberpihakan.
Dalam konteks inilah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seharusnya dimaknai lebih dari sekadar organisasi administratif. Urusan BEM bukan hanya soal program kerja, agenda seremonial, atau pengelolaan event mahasiswa. Ia adalah basis gerakan sosial di dalam kampus sebagai ruang konsolidasi intelektual, politik, dan moral, yang bertugas merespons persoalan mahasiswa sekaligus masyarakat luas.
Sebagai basis gerakan sosial, BEM memiliki posisi strategis untuk menjembatani dunia akademik dengan realitas sosial. Pengetahuan yang lahir di ruang kelas seharusnya diterjemahkan menjadi sikap dan keberpihakan. Diskusi tidak berhenti pada wacana, tetapi menjelma menjadi gerakan yang sadar, terorganisir, dan berorientasi perubahan. Di titik ini, BEM dituntut untuk peka membaca perubahan zaman, berani mengambil sikap, serta konsisten menjaga independensi gerakan mahasiswa.
Jika makna BEM direduksi hanya sebagai pelengkap birokrasi kampus, maka ia langsung kehilangan ruhnya. Sebaliknya, ketika BEM mampu berdiri sebagai wadah konsolidasi intelektual dan gerakan, kampus dapat kembali menjadi ruang lahirnya kritik sosial yang lebih relevan dan bermakna. Walhasil, gerakan mahasiswa tidak sekadar hidup di poster dan media sosial, tetapi hadir secara nyata di tengah denyut persoalan masyarakat.
Rekonstruksi peran BEM sebagai basis gerakan sosial bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Sebab, di sanalah mahasiswa diuji: apakah tetap setia pada mandat sejarahnya sebagai agen perubahan, atau justru larut menjadi penonton dalam pusaran problem sosial yang kian kompleks.
Penulis: Naufal Aulia Darojat








