LPM Pabelan

Ilustrasi: Pabelan Online/Aqill Adhitya

Tak hanya di kampus tercinta kita, UMS, sejatinya minat membaca buku di Indonesia pun terbilang jongkok. Jangankan di tempat umum, di lingkup akademik saja, potret mahasiswa yang membaca buku pun tampak seperti orang yang sungguh spesial dan unik—atau lebih tepatnya langka. 

Sebaliknya, sebagian mahasiswa malah memandang mereka yang selalu membawa buku, sebagai mahasiswa “sok pintar,” “ambis,” atau bahkan “kutu buku.” Masalahnya, julukan itu tak selalu bermakna positif. Sebaliknya, justru mengandung konotasi negatif di era ponsel pintar menjadi bagian yang tak terpisahkan, sehingga mereka sering dianggap norak, kaku, cupu, polos, hingga caper.

Faktor lahirnya stereotipe itu tidak hanya dari kebiasaan orang lama yang kian tergerus lantaran adanya ponsel pintar. Lingkungan yang kurang mendukung sebetulnya juga turut menyumbang adanya pandangan sungsang itu.

Terlebih jika bicara dalam lingkup akademik, silakan lihat saja berapa banyak orang yang mendatangi perpustakaan? UMS Library yang konon perpustakaan terbaik itu nyatanya sepi pengunjung karena mahasiswanya bahkan tak terlalu suka membaca buku. Syukur-syukur masih ada yang datang untuk ngadem karena ada AC dan mencari hotspot untuk menongkrong di sana. 

Namun, UMS Library itu tidaklah cukup untuk menunjang kebutuhan literatur dan referensi mahasiswa. Sebagai jalan keluar, mahasiswa biasanya mengunjungi UMS Bookstore untuk memenuhi kebutuhan referensi, membeli buku yang disuruh dosen, atau hanya sekadar menukarkan voucer semesteran agar tidak hangus.

Sayangnya, penyediaan buku di UMS Bookstore belum memadai. Mahasiswa sering kehabisan buku yang dibutuhkan karena stok kosong. Laporan pabelan-online.com mengungkap adanya miskomunikasi antara pihak dosen dan percetakan. Tidak tersedianya buku ini menimbulkan masalah lain manakala buku-buku baru di-restock setelah voucer hangus. 

Masalah itu membuat mahasiswa kian ogah mengunjungi UMS Bookstore karena saat kesempatan menukar voucer pun tak dapat dilakukan karena buku yang dikehendaki tidak tersedia. Kalaupun ada, voucernya sudah keburu hangus.

Dampak miskomunikasi ini sejatinya tidak terlalu fatal. Hanya saja, itu juga menyulitkan mahasiswa yang membutuhkan referensi. Jika penyedia berbagai macam kategori bukunya saja malah tidak menyediakan buku yang dikehendaki mahasiswa, itu berarti UMS Bookstore telah kehilangan kegunaannya. 

Di sisi lain, mahasiswa juga akan terlalu jenuh jika buku yang tersedia kurang variatif, bahkan malah didominasi oleh buku-buku kuliah cetakan Muhammadiyah University Press (MUP) saja. Mengingat banyaknya voucer semesteran UMS Bookstore yang hangus, UMS Bookstore perlu memperkaya variasi ketersediaan buku-buku bacaan selain buku kuliah.

Dengan menambah variasi buku-buku bacaan, besar kemungkinan mahasiswa akan lebih tertarik mengunjungi UMS Bookstore ketimbang Gramedia karena mereka dapat menukarkan voucer dan memperoleh buku dengan murah bahkan gratis. Kondisi ini adalah kesempatan bagi UMS Bookstore untuk dapat gencar mengupayakan eksistensinya agar lebih diingat mahasiswa.

Kampus harus lebih kreatif, aktif dan cerdas dalam menggenjot ekonomi, juga literasi mahasiswanya. 

Also Read

Satu pemikiran pada “Nirguna UMS Bookstore”

Tinggalkan komentar