
Lenyapnya empat buah komputer dalam semalam di sekretariat Keluarga Mahasiswa (Kama) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menunjukkan bahwa setan-setan di bulan Ramadan yang dikerangkeng rupanya tak terlalu memberi dampak yang signifikan. Sebab, selain dari golongan jin, masih ada setan dari golongan manusia yang berkeliaran bahkan berani menggasak empat komputer milik sejumlah ormawa FEB.
Namun, yang menjadi masalah, maling yang menggasak empat komputer itu belum ketemu hingga hari ini. Kualitas keamanan dan kinerja satuan pengaman (satpam) kampus patut dipertanyakan. Di sisi lain, renovasi pembangunan yang konon menjadi penyebab putusnya jaringan CCTV semestinya lekas diperbaiki itu tak kunjung pula diatasi kampus.
Pengabaian atas putusnya jaringan itu hanya akan disesali tatkala empat komputer sudah terlanjur raib dalam semalam. Setan berwujud manusia yang menggasak sudah pasti merupakan maling dengan jam terbang tinggi. Sebab, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FEB menduga pelaku menggunakan mobil demi melancarkan proses eksekusi penggarongan karena empat komputer itu tak masuk akal jika dibopong mengendarai motor.
Salah satu penghambat pengusutannya adalah tidak adanya CCTV yang memadai di Kama FEB. Akibatnya, proses penyelidikan pelaku pencurian komputer hanya jalan di tempat sejak sebulan kejadian itu berlangsung. Beruntung, mereka sudah mem-back up data dan bisa mengatasi proker atau produktivitas mereka dengan laptop masing-masing sehingga hilangnya komputer tak terlalu menjadi masalah.
Lagi pula, dengan jumlah UKT semesteran FEB yang cukup fantastis, kampus semestinya tak kekurangan duit untuk menunjang keamanan di Kama FEB dengan sekadar memasang CCTV di sekitarnya. Bayaran UKT yang semahal itu sepatutnya dapat lebih menjamin keamanan, atau setidaknya menjamin pelaku dapat segera dicokok dan diadili.
Percuma bila terus menggembar-gemborkan UMS sebagai World Class University jika maling komputer yang berkeliaran di sana saja tak bisa diatasi. Kampus tak perlu menunggu Gedung Siti Walidah atau ruang rektorat kemalingan lebih dulu untuk membereskan persoalan ini. Penindakan harus segera dilakukan sebelum rektorat tak menyangka ada maling yang berani menggasak komputer di ruangannya sendiri.
Di sisi lain, nasi sudah menjadi bubur. Meski kampus akhirnya membelikan dan memasang CCTV di TKP, itu tidak akan serta-merta membuat maling tertangkap atau ujug-ujug mengaku bersalah.
Namun, tak ada langkah yang lebih masuk akal selain harus melakukannya. Bagaimanapun, meningkatkan keamanan—dengan memasang CCTV atau menambah jumlah satpam jika perlu—adalah ikhtiar paling minimal yang bisa dilakukan oleh kampus.






