
Pernyataan sikap yang dideklarasikan oleh jajaran rektorat di depan Gedung Siti Walidah tentu patut diapresiasi. Meski itu adalah bare minimum sebuah universitas yang berintegritas dan berempati, tak semua kampus berani menyatakan pendiriannya di saat iklim politik seperti ini.
Sayangnya, UMS masih harus didemo mahasiswanya lebih dulu agar sudi menunjukkan sikapnya. Jika tidak didemo, belum tentu kampus bakal menyatakan posisinya. Meskipun setidaknya, itu lebih baik daripada tak bersikap sama sekali.
Kalau dicermati dengan seksama, sikap kampus itu sejatinya masih normatif saja. Andai saja ada lomba kampus paling main aman dalam menyatakan sikap, peluang UMS menang akan sangat besar.
Ironisnya, UMS adalah kampus swasta yang tidak dinaungi oleh pemerintah seperti halnya kampus-kampus negeri. Kampus negeri mungkin cenderung rentan diintervensi atau bahkan dikendalikan pemerintah, tetapi tidak dengan UMS. Hal itu adalah privilese yang menjadikannya dapat lebih leluasa mengecam keras kebijakan dan tindak-tanduk pemerintah yang tidak pro-kepentingan rakyat.
UMS sudah barang tentu bisa lebih vokal menyuarakan masalah negara yang menyangkut kepentingan orang banyak. Toh, pemerintah (seharusnya) tak bisa cawe-cawe dengan UMS. Kampus ini bisa hidup independen dengan sentosa tanpa bantuan pemerintah. Namun, UMS justru memilih untuk tidak melakukan itu.
Toh, ada cara lain untuk melejitkan kualitas kampus. Buku Antifragile karya Nassim Nicholas Taleb mendalilkan bahwa alih-alih hanya bertahan, kampus justru dapat memanfaatkan kekacauan yang ada untuk berkembang. Ada baiknya UMS memandang kondisi ini sebagai upaya manuver untuk mendongkrak citra dan integritas kampus yang layak dicoba.
Sebab, sekali saja pernyataan sikap (yang normatif saja) itu tentu tidaklah cukup. Dalam iklim politik saat ini, menyatakan sikap yang jelas adalah hal yang biasa saja. UMS bisa lebih gahar jika pernyataan sikap itu diperkokoh dengan gencarnya kritik yang masif terhadap kondisi saat ini.
Pernyataan sikap bukanlah sebuah ujung. Peran kampus sebagai penjaga marwah intelektualisme adalah senantiasa, bukan hanya sekali dua kali apalagi merasa seolah sederet masalah yang ada bisa beres secara ujug-ujug dengan pernyataan sikap.
Bukankah begitu mengecewakan kalau aksi kemarin hanya dihadiri oleh sepersekian dari total keseluruhan mahasiswanya? Sedikitnya massa aksi yang hadir adalah bukti bahwa mahasiswanya masih apatis dan apolitis. Padahal UMS bertanggung jawab atas empati mereka.
Kampus perlu menaruh perhatian lebih pada antipati mahasiswanya terhadap musibah negara. Ketimbang hanya berkoar-koar soal gedung yang megah satu itu, alangkah baik jika UMS mulai meneladani kampus-kampus top yang kerap mengundang tokoh-tokoh intelek dan tersohor untuk menjadi pembicara di banyak forum yang diselenggarakan di UMS.
Upaya pencerdasan politik dan penghidupan empati ini harus menjadi prioritas kampus demi perbaikan paham para mahasiswa. Maka tugas kampus adalah mengakomodasi kebutuhan upaya itu. UMS tidak usah menunggu didemo mahasiswanya dulu untuk mewujudkan upaya pencerdasan ini. Titel sebagai kampus terbesar kedua di Solo hanyalah ampas jika realisasi upaya pencerdasan itu masih sulit diwujudkan.
Kalau memang kampus masih tutup kuping, tak masalah pula jika BEM makin sering mendemo, semata agar para mahasiswa melek dengan realitas yang ada. Pemahaman yang ada di benak mahasiswa bahwa negara sedang baik-baik saja juga menjadi bukti kepayahan BEM dalam mengedukasi rakyatnya.
Isu yang terdekat adalah potensi bangkitnya darurat militer yang telah diendus oleh sejumlah influencer kritis. Masalahnya, tak semua mahasiswa juga mendapat algoritma konten edukasi itu. Maka, sebagai katalisator, setidaknya BEM bertanggung jawab mengedarkannya kepada civitas academica UMS. Upaya konkret doktrin gerakan itu bisa disublimkan melalui UKM-UKM dan ormawa yang ada di UMS. Dari situlah kampus bisa memfasilitasi jika memang menghendaki.
Meski bukan hal yang mudah, tak ada salahnya upaya ini dicoba. Menempuh segala cara untuk mengedukasi adalah sebaik-baik opsi tindakan yang ada. Mau bagaimanapun, civitas academica UMS harus terlepas dari antipati terhadap politik dan apatisme dari masalah negara.






