
Setiap Jumat sore, taman cerdas di daerah Kerten, Surakarta, itu penuh dengan anak-anak. Bedanya dengan hari-hari biasa, di Jumat sore, ada sejumlah anak muda mengenakan almamater hijau tosca yang mendampingi anak-anak itu. Mereka adalah segerombolan mahasiswa dari Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) yang dibersamai oleh sejumlah anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari fakultas mereka.
Mahasiswa FKI itu juga didampingi oleh dua orang mentor dari Transid, sebuah komunitas gerakan pemberdayaan masyarakat berbasis rumah baca. Di sana, para mahasiswa mengajarkan hal-hal sederhana yang sering luput dari pendidikan formal, dan membekali anak-anak dengan pengetahuan dasar yang bermanfaat. Peserta kegiatan ini umumnya anak-anak usia TK hingga SD.
Transid sendiri merupakan kependekan dari Sentra Transformasi Peradaban. Namun, secara literal, Transid berarti seseorang yang sedang transit, bagaimana komunitas itu mengajak mahasiswa, kawula muda yang ada di Solo Raya, untuk mendidik generasi muda di kota itu agar berdampak pada masyarakat.
“Menghadirkan ruang bercerita. Jadi kita memandang bahwa organisasi itu kan transit; teman-teman transit meluangkan waktu untuk berdampak, dan healing lah. Nah, tapi healing-nya itu berkualitas,” ujar Hassan pendiri Transid melalui WhatsApp, Rabu, (24/9/2025).
Basis awal dari Transid adalah rumah baca yang bernama Terasering. Pada tahun 2020, Muhammad Taufiq Hassan—yang kerap disapa Hassan, mendirikan rumah baca yang berlokasi di rumahnya sendiri. Saat itu pengunjungnya hanya dari kalangan mahasiswa. Sampai tahun 2024, ia menggelar program Transid mendidik.
Hassan bersama sejumlah temannya mulai menggelar taman baca di sekitar Solo. Tempat taman baca pun diperoleh lewat melobi seorang koneksi dari Muhammadiyah—lebih tepatnya Taman Kanak-kanak (TK) Muhammadiyah. Transid pun memiliki tempat belajar Sriwedari dan Putri Cempo setelah mendapat izin dari Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) dan warga.
Lalu, di tahun 2025, Transid mulai mencoba berekspansi ketika melihat potensi dari banyaknya taman cerdas yang ada di Solo Raya. Taman cerdas,yang dimaksud di sini adalah semacam public space, dan ada sekitar 18 public space di kawasan Solo Raya. Sayangnya, dari sekian banyak taman cerdas itu malah tidak terlalu aktif dimanfaatkan; hanya seperti gedung publik yang dibiarkan begitu saja.

Potensi itulah yang kemudian digunakan oleh tim Transid untuk kemudian bisa mendidik anak-anak di situ. Mengingat adanya taman cerdas, tetapi programnya kurang maksimal, hadirnya Transid di situ menjadi wadah bagi para mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga perlu menerapkan tridarma perguruan tinggi untuk dapat terjun ke masyarakat. Sebab, taman cerdas memang sudah ada hampir di setiap kelurahan.
Di Kerten, taman cerdas buka sejak pukul 8 pagi sampai 4 sore. Mulai dari orang tua, anak kecil, juga mahasiswa diperbolehkan mengunjungi taman cerdas. Di sore hari, banyak anak-anak mulai berkumpul di taman cerdas untuk bermain layangan atau sekadar bersepeda dan berlari-lari.
Izzul, yang berperan sebagai Sekretaris, turut menyampaikan Visi dari Transid adalah pemberdayaan masyarakat berbasis rumah baca untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Sebab, kata Izzul, masyarakat harus bisa memberdayakan masyarakat lainnya itu sendiri. Mereka yang masih dini itu akan menjadi agen perubahan yang nantinya dapat memberdayakan masyarakat sekitar.
Oleh sebab itu, Transid memandang bahwa internalisasi diri diperlukan agar dapat memberdayakan dirinya dan masyarakat di taman cerdas. Dalam kegiatannya, Transid telah mendapat izin dari pihak taman cerdas itu sendiri dan kelurahan. Transid juga sudah memiliki modul tersendiri yang dibuat oleh tim kurikulum Transid yang bernama FIDS: feel (merasakan), image (membayangkan), do (melakukan), dan share (membagikan).
Berdasarkan kurikulum FIDS, anak-anak harus bisa merasakan bagaimana kondisi realitas saat ini, karena kadang, mereka tidak tahu apa yang terjadi hari ini. Contohnya, dalam memahamkan pengelolaan sampah, anak-anak harus paham apa konsekuensi jika sampah tidak terkelola dan terolah dengan baik. Sementara image, membayangkan anak-anak bisa melakukan kegiatan semacam itu dengan nyata.
Misal, ke depannya anak-anak dapat membuat gerakan peduli sampah. Namun, penerapan FIDS bukanlah waktu yang singkat. FIDS adalah kurikulum untuk jangka panjang. “Feel setahun dua tahun, image setahun, do itu setahun,” jelas Izzul, Jumat, (19/9/2025).
Saat ini, Transid di taman cerdas sudah berjalan sekitar satu tahun. Transid telah bekerja sama dengan BEM tingkat universitas dan yang ada di fakultas-fakultas di UMS, seperti BEM Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) di taman cerdas Panularan, BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di taman cerdas Gilingan.
Tim atau pengurus Transid sendiri terdiri dari sepuluh orang, yang terbagi menjadi beberapa divisi, yaitu tim kurikulum, tim media, dan tim event program, dengan Hassan sebagai Ketua dan Izzul sebagai Sekretarisnya.
Uniknya, untuk memberdayakan para mahasiswa, tantangannya bukanlah melobi rektorat atau akademisi; Transid melobi para mahasiswa lewat BEM-BEM di universitas di Solo Raya. Rencananya, ketika nanti BEM-BEM sudah mewadahi, ia akan mengabarkan ke pihak rektorat. Selanjutnya, tinggal bagaimana dukungan dari kampus. “Mungkin bisa jadi konversi dari SKS (Satuan Kredit Semester -red), misalnya. Tapi setidaknya kita sudah konfirmasi,” ujar Izzul.
Cara Transid bertahan hidup
Sejauh ini, pengurus Transid bekerja secara pro bono alias tidak digaji siapa pun. Belum ada pihak atau instansi yang menyokong hidup komunitas itu secara finansial. Komunitas itu bertahan hidup hanya bermodalkan semangat dan keresahan.
Memang, ada program Ruwat Sampah yang tengah diupayakan. Program ini berupa pengumpulan barang bekas untuk dijual, lalu hasilnya dialokasikan sebagai uang bensin bagi para pelaksana kegiatan itu. Namun, pelaksanaannya masih belum maksimal.
Oleh sebab itu, Transid merupakan organisasi murni untuk seseorang mengabdi, bukan organisasi penghasil uang. Sejak awal, Transid memang menawarkan pengabdian, sehingga komitmen dan orientasi para pengurus sudah dipastikan sejak open volounteer. “Kalau mau cari kerja ya bukan disini. Kalau pengabdian, di sinilah tempatnya,” kata Izzul tersenyum.
Selain itu, ada tahap tertentu untuk menjadi pengurus Transid. Mereka harus mengikuti kegiatan volounteer lebih dulu, kemudian mengikuti kegiatan Transid Mendidik, dan berkolaborasi dengan BEM-BEM lain. Dari situ, calon pengurus harus merasakan lebih dulu seperti apa dinamika di Transid.
Memang, belum ada jenjang pastinya untuk menjadi pengurus. Tapi, untuk kegiatan volounteer di taman cerdas masing-masing, periodisasinya adalah tiga bulan. Misalnya, Januari, Februari, Maret untuk satu angkatan volounteer dari FKI.
Sementara waktu, Transid hanya membuka untuk mahasiswa lebih dulu. Ke depannya, tidak menutup kemungkinan, Transid akan membuka untuk kalangan umum. Belakangan, Transid sudah berekspansi ke Universitas Sebelas Maret (UNS). Dimulai dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS, kemudian FEB UNS, dan Himpunan olahraga.
Reporter: Muhammad Farhan
Editor: Herlina Damayanti






