Baso Muh Wahidin

Sumber: magnific.com

Pabelan-online.com, UMS – Menanggapi wacana Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) soal penutupan Program Studi (Prodi) yang dianggap tidak relevan dengan industri, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memilih fokus pada revitalisasi kurikulum. Langkah ini diambil sebagai strategi fakultas dalam meningkatkan kualitas lulusan.

Kemendikbudristek mewacanakan penutupan prodi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Melansir dari tempo.co, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco mengatakan sebelum ditutup, prodi akan dievaluasi dari segi peminatan, kualitas pembelajaran, kapasitas dosen, keberlanjutan akademik, kontribusi keilmuan, kebutuhan strategi nasional, dan pemerataan pembangunan daerah.

“Penutupan hanya menjadi opsi terakhir apabila suatu program studi berdasarkan evaluasi menyeluruh tidak lagi memenuhi standar mutu, tidak memiliki keberlanjutan akademik yang memadai, dan tidak dapat lagi dikembangkan melalui langkah-langkah pembinaan atau transformasi,” kata Badri pada Senin, (27/4/2026) dikutip dari tempo.co.  

Menanggapi wacana penutupan prodi Ketua Prodi (Kaprodi) PGSD UMS, Murfiah Dewi Wulandari, menegaskan bahwa kebijakan pusat ini tidak mempengaruhi semangat pengembangan di tingkat fakultas. Sebaliknya, ia memandang hal ini sebagai tantangan untuk meningkatkan kualitas dan mencari peluang baru.

 “Wacana di atas sebagai tantangan kami untuk meningkatkan kualitas dan tentu saja mencari peluang yang ada,” ujarnya saat diwawancarai melalui pesan WhatsApp, pada Rabu (6/5/2026).

Menurut Murfiah, anggapan bahwa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tidak relevan dengan industri adalah hal yang kurang tepat. Ia menjelaskan bahwa lulusan keguruan tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi guru di sekolah negeri, tetapi juga memiliki kemampuan lain seperti mengembangkan alat peraga Pendidikan.

“Sebenarnya wacana di atas memang kurang tepat karena FKIP selain mencetak Guru, juga bisa dibidang lainnya seperti mengembangakan alat peraga. Guru tidak hanya di Sekolah Negeri, tapi sekarang banyak sekolah-sekolah swasta berkualitas yang membutuhkan guru-guru berkualitas juga,” ujarnya.

Guna menyeimbangkan peran mencetak pendidik dengan tuntutan industri, Murfiah menyebut pihaknya tengah mengubah kurikulum agar mampu mengakomodir kompetensi profesional sekaligus kepribadian yang baik. Salah satu langkah konkretnya adalah persiapan pembukaan kelas bilingual bersertifikasi internasional di PGSD.

“Merubah kurikulum yang bisa mengakomodir keduanya dengan capaian pembelajaran lulusan kompetensi kepribadian yang baik dan kompetensi profesional. Melihat peluang banyak berdiri sekolah-sekolah swasta dengan kelas bilingual, maka di PGSD kedepan akan membuka kelas bilingual yang dipersiapkan untuk mengajar, selain di kelas bilingual juga bisa di sekolah-sekolah Luar Negeri,” tambahnya.

Bicara soal keresahan Mahasiswa, Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UMS, Annisa Qanita Istiqomah, menyatakan bahwa kabar penutupan prodi ini cukup memukul perasaan calon pendidik. Menurutnya, profesi guru adalah pintu utama manusia untuk membuka lembaran ilmu pengetahuan, sehingga menutup prodi keguruan akan membatasi banyak hal yang bisa dipelajari.

“Resahnya pasti resah ya, karena yang kita ketahui kalau sebagai calon guru, di mana kita juga tahu guru itu kebermanfaatannya seperti apa. Dia juga sebagai pintu pertama buat seluruh umat, seluruh manusia membuka lembaran baru, ilmu pengetahuan barunya,” tutur Annisa, Rabu (5/5/2026).

Annisa menekankan bahwa menjadi guru adalah sebuah keahlian (skill) yang tidak bisa dimiliki setiap orang pintar. Ia menilai alangkah baiknya jika pemerintah tidak menghapus prodi, melainkan memperketat seleksi agar sarjana Pendidikan yang lulus benar-benar memiliki kompetensi yang baik.

“Jadi alangkah baiknya bukan prodinya, bukan fakultasnya, tapi lebih ke seleksinya yang lebih diperketat lagi, harusnya nggak sembarang orang juga bisa menjadi guru. Soalnya, rata-rata sekarang nih, misal anak teknik kimia, dia pengen belok jadi guru aja, dia cukup ikut PPG (Pendidikan Profesi Guru -red), padahal untuk menjadi guru tuh gak cuma sekadar PPG gitu, tapi butuh proses yang panjang,” tegasnya.

Mengenai pilihan prodi, Annisa mengaku keputusannya menjadi mahasiswa keguruan bukan karena permintaan industri, melainkan sebuah panggilan. Ia berharap pihak Rektorat dapat meninjau ulang kebijakan pusat dan menggunakan hak otoritas kampus swasta untuk melindungi prodi-prodi di FKIP.

“Keputusan saya menjadi mahasiswa keguruan bukan karena alasan materi atau sekadar mendalami ilmu, melainkan karena panggilan jiwa yang membuat profesi guru tetap terasa berharga di tengah kondisi saat ini. Saya berharap pihak kampus dapat menggunakan hak otoritasnya untuk meninjau ulang kebijakan pemerintah tersebut, karena penghapusan fakultas ini bukanlah keputusan yang bijak bagi institusi swasta, tambahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Rektor UMS, Harun Joko Prayitno, belum memberikan respons atau keterangan resmi terkait wacana penutupan program studi tersebut. Reporter Pabelan-online telah berupaya menghubungi melalui pesan WhatsApp sejak Kamis (30/4/2026), tetapi tidak mendapatkan jawaban lanjutan.

Reporter: Baso Muh Wahidin

Editor: Fauziah Salma Anfihar

Penulis

Also Read

Tinggalkan komentar