LPM Pabelan

UMS, pabelan-online.com – Gerakan Aksi Kamisan menggandeng Zainal Arifin Mochtar untuk berorasi pada Aksi Kamisan di Tugu Golong Gilig Yogyakarta. Aksi yang mengangkat isu memudarnya nilai-nilai demokrasi di Indonesia yang turut diikuti oleh mahasiswa dan masyarakat umum, pada 21 Maret 2024.

Aksi yang diselenggarakan oleh Aksi Kamisan Yogyakarta menjadi momentum penting bagi aktivis dan mahasiswa untuk mengekspresikan keprihatinan mereka terhadap kondisi negara Indonesia. Aksi yang senantiasa dilakukan pada hari kamis tersebut, menyoroti isu-isu krusial yang berkaitan dengan kondisi politik dan nilai – nilai demokrasi.

Aksi Kamisan di Jogja yang sudah rutin berlangsung selama 13 tahun telah menjadi wadah penyampaian aspirasi mahasiswa dalam mengawal kehidupan demokrasi di Tanah Air. Aksi ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat umum, namun juga diikuti oleh mahasiswa.

Dalam orasinya, Zainal Arifin Mochtar selaku dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menanggapi kondisi demokrasi pada saat ini yang semakin memburuk. Bagaimana tidak seorang pelanggar konstitusi dan pelanggar HAM menjadi pejabat negara dengan mudah, kemudian ketika pelanggar tersebut menjadi pejabat, ia dijadikan panutan dalam bernegara.

“Ini saatnya merapatkan barisan untuk memperjuangkan demokrasi yang lebih baik dan sehat. Jangan sampai orang-orang yang dipilih secara demokrasi, malah merusak demokrasi,” ujarnya, Kamis (21/03/2024).

Ia juga menekankan pentingnya mahasiswa untuk kritis terhadap pemerintah dan menjaga semangat perlawanan. Persatuan antar korban penindasan dan kesewenang-wenangan penguasa juga dipandang sebagai hal yang sangat penting.

Ketika demokrasi mengalami kemunduran dan pemerintahan yang rusak, maka kita lah yang akan menjadi korban. Kita yang akan tertindas dan merasakan sakit karena hak asasi, hak konstitusi, dan hak ekonomi tidak didapatkan secara penuh.

“Kita adalah korban dari kesewenang-wenangan penguasa, oleh karena itu mempersatukan perlawanan menjadi hal yang sangat penting,” terangnya.

Zainal mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan semangat oposisi dalam perjuangan melawan segala bentuk kezaliman, pelanggaran hukum, dan penindasan Hak Asasi Manusia (HAM). Siapapun boleh berakhir menjadi seorang mahasiswa akan tetapi semangat perlawanan tidak boleh padam dalam dirinya, hingga demokrasi membaik dan pemerintahan kembali ke fungsinya sesuai dengan Undang-Undang (UU).

“Saatnya kita menjadi pemberhenti, orang yang kritis terhadap kekuasaan. Kita harus mempertahankan endurance dan daya tahan agar semangat perlawanan tidak pernah padam,” tutupnya.

Salah satu mahasiswa berinisial A dari salah satu universitas yang ada di Indonesia, menganggapi bahwa mahasiswa perlu mengawal demokrasi baik dari segi ekonomi, ekologi, dan sosial. Ia menyampaikan jika Aksi Kamisan merupakan bagian dari menyampaikan pendapat dan aspirasi selagi disampaikan dengan baik dan tertib.

“Harapannya generasi milenial dan generasi z, mungkin juga generasi alpha yang dalam waktu 5 tahun dari sekarang bisa menjadi generasi usia produktif Indonesia, dapat berpartisipasi aktif dalam politik jalan tengah, yaitu menjadi penyeimbang antara pemerintah dan masyarakat,” harapnya, Sabtu (23/03/2024).

 

Reporter: Ferisa Salwa Adhisti

Editor: Bagas Pangestu

Also Read

Tinggalkan komentar