
UMS, pabelan-online.com – Belakangan ini, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta digegerkan atas dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2020. Melalui wawancara kepada Tim Reporter LPM Pabelan, pelaku memberikan klarifikasi mengenai berita yang beredar di media sosial sementara kasus masih dalam proses penyelesaian.
Pada Senin, 26 Juli 2021 pukul 18.51 WIB, Reporter LPM Pabelan menghubungi Adi (nama samaran), mahasiswa psikologi UMS, yang diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap temannya sendiri. Dari isu terkait yang beredar selama ini, Adi memberikan klarifikasi kepada reporter tentang bagaimana runtutan peristiwa yang terjadi pada saat itu.
Adapun penyintas, sebut saja Ani (nama samaran), merupakan anak dari tetangga kontrakan yang sebelumnya ditempati oleh pelaku bersama kedua temannya.
Pernyataan dari Pelaku Mengenai Kronologi Pelecehan
Kejadian bermula ketika Adi sedang membereskan barang-barang di kontrakannya. Menurut penuturan Adi, Ani menawarkan bantuan karena katanya disuruh oleh ibunya, meskipun pada awalnya Adi mengaku sempat menolak penawaran tersebut.
Pada saat itu, Adi berencana untuk mengembalikan guling ke kos temannya yang berada di daerah Kartasura. Ia pun akhirnya berangkat menuju kos tersebut bersama Ani. Sesampainya di lokasi, Adi langsung mengembalikan guling tersebut, sementara itu Ani menunggu di area parkir yang berada di bawah kos teman Adi. Tak berselang lama, Ani memberikan pesan singkat kepada Adi.
“Dia nge-chat dengan kalimat ‘suruh naik enggak?’. Karena ini kos-kosan bebas, maka aku minta dia untuk naik. Pintu kos tidak bisa ditutup karena rusak jadi saya menguncinya pakai slot,” ucapnya, Senin (26/07/2021).
Ketika Ani telah berada di dalam kos, ia hanya duduk sambil memainkan handphone. Selepas salat, Adi kemudian berbaring di kasur. Di situlah terjadi pelecehan, Adi mulai menyentuh tangan dan pipi Ani yang saat itu sedang duduk di sampingnya. Ani pun meminta keluar. Adi juga mengaku sempat berusaha merangkul Ani, tetapi langsung ditolak. Tanpa adanya paksaan, Adi melepas rangkulan tersebut dan bergegas pulang sesuai keinginan Ani.
Mengklarifikasi isu yang selama ini beredar, Adi menjelaskan bahwa sebelum kejadian tersebut, bukan Adi yang meminta bantuan, tetapi ibu Ani yang menawarkan dan meminta agar Ani membatu membawa barang pindahan tersebut (berdasarkan pengakuan Ani kepada Adi, jadi ibunya tidak menawarkan secara langsung-red). Tidak ada unsur paksaan yang terjadi. Adi mengungkapkan bahwa selama di dalam kos, ia tidak menarik atau bahkan memaksa melakukan hal tak senonoh pada Ani.
“Iya, saya memegang tangan dan pipi Ani. Namun, saya tidak memegang pundak dan saya juga tidak berkata bahwa Ani wangi dan kaku,” jelasnya, Senin (26/07/2021).
Setelah isu atas dugaan pelecehan tersebut beredar, banyak hujatan yang Adi dapatkan dan pada kesempatan yang sama, terdapat beberapa mahasiswa yang memberikan dukungan pula. Mengingat dan menyikapi hal tersebut, Adi hanya dapat berharap permasalahan dapat segera terselesaikan.
Ketika Pelaku Mencoba Berdamai dengan Penyintas
Kepada Reporter LPM Pabelan, Adi mengakui kesalahan yang ia perbuat dan merasa bersalah atas tindakan yang sempat dilakukannya kepada Ani. Meskipun pada saat itu tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk, tetapi hal tersebut sudah membuat Ani kaget dan merasa takut. Merasa dirinya dilecehkan, Ani langsung meminta untuk diantar pulang dan selama perjalanan pulang, Adi terus meminta maaf kepada Ani karena ia merasa khilaf dan bersalah.
Dua hari berselang, ketika Adi berkunjung ke kos temannya di Kartasura, adik Ani-lah yang akhirnya menghubungi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan berbicara baik-baik, tetapi saat bertemu sang adik, hal tak terduga terjadi. Dengan memberikan bukti visum, Adi menyampaikan hal yang terjadi pada dirinya setelah kejadian di kos tersebut.
Adik Ani menghajar, menendang, dan menginjak kepala Adi bersama seorang temannya. Melihat kejadian tersebut, teman Adi yang ikut mengawasi pun memisah perkelahian, lalu memanggil Ani untuk datang. Sembari menangis, Ani mengatakan tidak ingin ada kekerasan pada masalah tersebut, ia hanya ingin masalah dapat diselesaikan secara baik-baik. Kepada Ani dan adiknya, Adi pun kembali meminta maaf.
Karena tak ingin memperpanjang masalah dengan pihak kepolisian, sang adik dan Adi sepakat menyelesaikan masalah kekerasan itu dengan cara kekeluargaan dan saling memaafkan. Melalui record layar yang Adi berikan, terdengar bahwa kedua belah pihak sudah saling berdamai.
Tak berhenti sampai di situ, Adi juga dihubungi oleh pacar Ani di hari berikutnya. Adi diberi pilihan untuk meminta maaf melalui media online atau bertemu secara langsung. “Aku memutuskan untuk memilih cara yang aman, yaitu dengan meminta maaf melalui aplikasi WhatsApp. Aku terus berusaha untuk meminta maaf,” ungkapnya, Senin (26/07/2021).
Namun, ketika di telepon, Adi kembali mendapat ancaman. Ia pun mengaku diteror berkali-kali oleh nomor tak dikenal. Menurut Adi, situasinya sangat tidak aman untuk bertemu, apalagi sang pacar juga membawa-bawa nama perkumpulan bela diri. Adi memilih diam dan tidak memenuhi “undangan” pacar Ani. Imbasnya, isu ini pun diviralkan.
Ketika Reporter menghubungi Ani selaku penyintas pada Rabu, 28 Juli lalu, ia hanya sempat mengungkapkan tentang keadaannya. Ia mengabarkan, kondisinya saat ini belum siap untuk bercerita mengenai kejadian tersebut dan masih membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Melalui kabar terbaru, pihak fakultas saat ini sedang melakukan pengawasan terhadap isu yang beredar. Fakultas Psikologi telah mengambil langkah untuk melaporkan isu tersebut kepada Tim Disiplin UMS. Adi juga menyampaikan, bahwa Presiden BEM UMS sudah mengajak dirinya bertemu untuk membahas permasalahan yang beredar saat ini.
Menyikapi isu yang beredar, Zulfata Ziad Ma’aruf sebagai ketua angkatan Fakultas Psikologi 2020 menyampaikan tanggapannya. Ia menyampaikan bahwa narasi terkait kejadian pelecehan seksual yang beredar selama ini dianggap terlalu berlebihan. Ia memberi saran kepada para mahasiswa untuk menunggu konfimasi dan informasi yang valid.
Ziad juga berharap permasalahan tersebut dapat segera selesai. Menurutnya, jika kejadian tersebut benar, maka perlu adanya tindak lanjut dan jangan dibiarkan bergulir tanpa kejelasan. “Karena saat ini, kita tidak tahu kebenarannya kayak gimana, maka jangan dulu sebar yang belum pasti,” tambahnya, Sabtu (24/07/2021).
Baca Juga: Wisma Sehat, Tempat Isolasi Civitas Academica UMS
Reporter : Mulyani Adi Astutiatmaja
Editor : Akhdan Muhammad Alfawwaz






