
Sebagaimana judulnya, Laut adalah mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang aktif dalam kegiatan organisasi rahasia demi menyuarakan dan memperjuangkan keadilan. Laut tumbuh dalam keluarga sederhana yang penuh dengan kasih sayang. Kala itu, banyak aktivis mahasiswa diculik dan dihilangkan secara paksa oleh orang-orang asing.
Ayahnya bekerja sebagai wartawan harian di Kota Solo, sebelum akhirnya berpindah ke Jakarta. Sementara ibunya bekerja menerima pesanan catering. Asmara adalah adik sekaligus pendengar setia dan penyimpan rahasia hati baginya. Kisah dalam novel ini dibagi menjadi dua bagian.
Bagian pertama adalah sudut pandang dari tokoh utama, Biru Laut atau yang biasa dipanggil sebagai Laut. Dalam kelompok rahasia yang bernama Winatra, Laut bersama kawan-kawannya membicarakan isu-isu petani dan buruh dan menyusun rencana aksi klandestin. Namun, hal itu membawa resiko besar karena perlahan, satu per satu dari mereka menghilang hingga akhirnya Laut sendiri ditangkap dan disiksa.
Dalam perjuangannya, Laut dan kawan-kawannya harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk bersembunyi dan hidup yang jauh dari ketenangan. Nasib, tanpa disadari, salah satu dari mereka ternyata adalah mata-mata. Ia berkhianat kepada Winatra karena membocorkan rencana aksi hingga lokasi persembunyian Laut dan kawannya yang lain.
Akibatnya, mereka ditangkap dan dibawa ke tempat penyiksaan rahasia yang entah berada di mana. Mereka pun tidak tahu siapa pelaku yang menghabisinya, Laut hanya menyebut mereka sebagai si “Mata Merah”, si “Lelaki Seibo”, “Manusia Pohon” dan si “Raksasa” yang menyeretnya dalam tempat penyiksaan. Laut dipaksa menyebutkan nama-nama yang berdiri di balik gerakan aktivis mahasiswa ini serta lokasi persembunyian kawannya yang lain.
Namun, Laut tetap memilih diam bahkan saat tubuhnya perlahan dihabisi dengan berbagai siksaan, ia tetap memilih tutup mulut apa pun yang terjadi. Ia tidak mungkin membocorkan semua karena mengingat betapa kerasnya perjuangan teman-temannya.
Pada bagian ini, Laut Bercerita menggambarkan bagaimana kehidupan aktivis klandestin yang sarat dengan perjuangan, rasa takut, solidaritas, dan rasa rindu pada keluarga maupun kekasih, hingga pengkhianatan yang tak pernah sekalipun terpikirkan oleh Laut maupun kawan-kawannya. Bagian ini juga menggambarkan bagaimana pedihnya proses penyiksaan para aktivis yang tertangkap.
Sedangkan, sudut pandang kedua berpindah ke Asmara Jati, adik Biru Laut. Bagian ini bercerita tentang perjuangan keluarga para korban dalam mencari keadilan lewat informasi yang didapatkan dalam kasus penculikan, serta menghadapi ketidakpastian antara harapan, apakah mereka masih hidup atau sudah mati.
Keluarga korban penculikan tak pernah tau di mana keberadaan Laut dan kawan-kawannya. Memang, beberapa dari mereka telah dikembalikan seperti Alex, Danel, dan beberapa kawan lainnya, tetapi mata mereka selalu ditutupi kain hitam saat dibawa dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Hal itu menjadikan mereka tak bisa menelusuri bahkan sekadar mengendus jejak pelaku.
Asmara Jati sendiri menjadi garda terdepan dalam pencarian korban hilang sembari memegang keyakinan bahwa mereka masih hidup—walaupun kejelasannya masih terkatung-katung. Ketabahan keluarga korban begitu menggambarkan rasa kehilangan pada masa itu. Mereka menunggu kepastian tanpa kabar hingga mencari kejelasan ke makam anak dan saudaranya.
Di dasar laut yang sunyi dan dingin, Laut menyimpan banyak cerita. Hingga bertahun-tahun kemudian, Laut memang tidak pernah kembali, bahkan sampai kedua orang tua mereka meninggal dunia.
Perpaduan fiksi dan fakta sejarah dalam kisah novel ini sangat menggugah emosi bagi pembacanya. Buku ini berhasil dibuat dengan narasi yang kuat sehingga membuat pembaca ikut merasakan bagaimana rasa luka yang dialami para tokoh. Dengan gaya penulisan Leila yang penuh emosi, karakter, dan suasana, cerita novel ini menjadi terasa hidup.
Karakter Biru Laut dan Asmara Jati dibangun dengan sangat apik, mereka tidak hanya menggambarkan simbol perjuangan, tetapi juga sosok yang penuh cinta dan hangat. Dengan membagi cerita menjadi dua sudut pandang, pembaca juga diajak untuk ikut memahami bagaimana dampak kehilangan pada keluarga yang ditinggalkan dan dampak penculikan yang dialami para korban.
Namun, di sisi lain pada bagian awal cerita bergerak sedikit lambat karena masih dalam pengenalan karakter. Pembaca yang belum mengetahui sejarah politik era reformasi dan akhir orde baru, mungkin perlu mencari informasi latar belakang pada masa ini agar dapat memahami konteks cerita secara utuh.
Novel fiksi sejarah karya Leila S. Chudori yang diterbitkan pada tahun 2017 ini berlatar belakang masa kelam Orde Baru pada akhir 1990-an hingga awal tahun 2000-an. Novel ini adalah salah satu bacaan yang berhasil menyuarakan kisah yang selama ini tidak dibeberkan dalam buku-buku sejarah di sekolah.
Penulis: Nadia Kusuma Ningrum






