
Ilmuwan penemu nanomaterial, Wang Miao, direkrut oleh pihak militer untuk menyelidiki kasus serangkaian bunuh diri ilmuwan yang terjadi belakangan. Banyak ilmuwan yang melakukan bunuh diri tanpa sebab yang jelas, salah satunya adalah Yang Dong, putri Ye Wenjie.
Mundur ke Masa Revolusi Kebudayaan Tiongkok, yang berlangsung selama sepuluh tahun dari tahun 1966 hingga 1977, itu merupakan gerakan sosial-politik yang memakan banyak korban jiwa. Salah satunya adalah profesor fisika, Ye Zhetai, sekaligus ayah dari Ye Wenjie. Dari pengalaman traumatis tersebut, Ye merasakan kekecewaan yang amat mendalam terhadap manusia, yang kemudian menjadi muasal dari keseluruhan alur cerita Trisurya.
Setelah diasingkan dan diinterogasi, Ye direkrut ke sebuah proyek militer rahasia, Pantai Merah, yang bertujuan melakukan kontak dengan kehidupan di luar angkasa. Di sinilah Ye Wenjie menemukan bahwa matahari dapat digunakan sebagai pengeras sinyal untuk mengirim pesan ke alam semesta.
Dipenuhi oleh rasa putus asa dan kekecewaan terhadap sifat manusia, saat kesempatan itu ada, Ye Wenjie secara diam-diam dan sesegera mungkin mengirimkan pesan kepada peradaban alien di luar angkasa. Ia menginginkan agar alien menginvasi Bumi karena manusia sudah terlalu rakus, kurang ajar, dan rusak, sehingga tidak mampu membereskan masalah tersebut kecuali dengan bantuan alien.
Setelah bertemu dengan Mike Evans, Ye semakin merasa bahwa keputusannya mendatangkan alien guna menginvasi Bumi dan membentuk peradaban manusia yang baru adalah keputusan yang tepat. Hal ini disebabkan karena Evans amat kecewa dengan ayahnya, seorang taipan minyak, yang telah banyak menyumbang masalah perusakan lingkungan melalui tumpahan minyak dari kapal tanker, sehingga menyebabkan lautan luas menjadi hitam dan lengket.
Merasa sepemahaman, Ye pun memberitahu Evans mengenai rencananya menginvasi Bumi melalui alien. Evans, yang juga mengadopsi pandangan radikal bahwa umat manusia telah gagal dan tidak layak untuk diselamatkan, kemudian mendirikan Organisasi Bumi-Trisurya (OBT) yang mendukung kehancuran peradaban manusia melalui intervensi dari makhluk Trisurya.
Namun, di luar perhitungan, dampak keputusan Ye Wenjie mengubah alur sejarah menjadi tidak terkendali. Akhirnya, Ye menyesal karena keputusannya mengirimkan pesan ke Trisurya ternyata membuka pintu bagi dampak yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Ia tak bisa menyetop dampak luasnya.
Awalnya, ia merasa bahwa bantuan dari peradaban alien dapat menjadi solusi bagi kekejaman dan kekacauan umat manusia. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa pesan tersebut telah memicu serangkaian peristiwa — seperti terbentuknya OBT dan konflik internal di antara faksi-faksi manusia — yang mengakibatkan penderitaan dan perpecahan besar di Bumi.
Dilihat dari sudut pandang penyajiannya, Liu Cixin sejatinya telah mengemas cerita ini dengan sebaik dan sesederhana mungkin. Meskipun demikian, alur cerita Trisurya tetap saja kompleks dan rumit. Perpindahan alur maju-mundur sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dipahami, namun banyaknya istilah fisika dan penjelasan sains mengharuskan pembaca mengerahkan fokus ekstra untuk memahami cerita tersebut.
Penerjemahnya, Oni Suryaman, pun memerlukan waktu yang cukup lama karena trilogi — Trisurya, Belantara, dan Pralaya — harus diterjemahkan secara bersamaan agar ketiga bagian tersebut dapat disajikan secara berkesinambungan. Novel Trisurya masuk dalam kategori Sci-Fi hard (hard sci‑fi). Alasannya, dalam Trisurya dijelaskan secara mendetail “bagaimana” konsep-konsep fisika dihubungkan dengan teori-teori. Hal ini berbeda dengan Sci-Fi soft yang hanya menjelaskan “mengapa” saja.
Konsep tentang tiga matahari juga dijabarkan oleh Liu Cixin secara perlahan agar pembaca dapat memahaminya dengan baik. Pendekatan tersebut membuat bobot sains dan fisika dalam Trisurya menjadi sangat kental. Selain cerita yang sarat dengan pengetahuan sejarah dan sains, juga isu lingkungan serta keserakahan manusia yang diangkat oleh Liu Cixin juga menjadi pembahasan penting yang memperkaya isi novel.
Tak heran jika Trisurya menjadi salah satu novel fiksi sains terpopuler di Tiongkok. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Three-Body Problem pada 2014 pun, karya Liu ini menjadi fenomena di kancah dunia dan memperoleh berbagai penghargaan, seperti Hugo Award 2015, Kurd-Laßwitz-Preis 2017, dan Premio Ignotus 2017.
Sayangnya, kompleksitas alur dan penjelasan sains yang mendalam pada novel ini dapat membuat orang yang malas membaca menjadi semakin enggan untuk membaca. Terlebih lagi bagi mereka yang tidak menyukai pengetahuan ilmiah. Bisa dibilang, meski lebih dari setengah awal cerita ini menjadi bagian yang paling penting, bagian itu justru amat membosankan.
Trisurya sangat tidak direkomendasikan untuk pembaca pemula. Sebaliknya, bagi penyuka atau pegiat sains dan fisika, novel ini akan sangat memuaskan pengetahuannya.
Penulis: Han






