
Gerimis Senja
Dingin suasana di minggu sore menyelimutiku bersama sejuknya gerimis senja
Berteduh aku di balik bayang-bayang keterpurukan
Bersama masaku kala kelam itu
Di ujung hari minggu ini bersama gerimis senja
Syahdu menerpaku..
Ku tersadar aku hanyalah lentera redup yang terus berjuang
Menembus kegelapan pekat dengan api yang menguning
Berjalan dalam deraan kekhawatiran dan ketakutan
Tertindas penghinaan yang mengurat akar dalam jiwa yang remuk redam dan sakit
Waktu tlah merampas hari-hariku
Bagai badai musim dingin yang menerpa ranting-ranting pohon kering
…..
Aku bagai terasing pada kedalaman yang suram
Tak ada menolongku kecuali air mata isak tangis
Dan tak ada yang menemaniku melainkan ketakutan dan ketidakpastian
Aku terjebak dalam pergulatan yang tak berkesudahan
Dalam pergolakan yang tak berkeputusan
Hari-hariku menjadi panjang
Malamku menjadi gelap
Bahkan tak kutau lagi indah sang mentari
Dan merah saga di langit senja
Ikhlasku
Semilir angin berhembus seraya membawa luka
Tanpa tersadar batin terkoyak tanpa berontak
Tak lain luka yang kau berikan hanya kulihat,
Sebagai pecahan kaca yang siap menusukku lebih dalam
Tak berdarah seakan berdarah
Pupus sudah semua harapan oleh sebuah lamaran
Jangan pernah berkata bila ku sedang baik
Berlandaskan keikhlasan kalbu
Kan kuubah bait sendu ini menjadi sajak rindu
Mengalirkan air mata peribahasa sarat makna
Melantunkan simfoni firmanNya yang hakiki sepenuh hati
Melakonkan khalifah dalam dienNya yang kaffah
Menghanyut dalam simpuh sujud beriring tetesan keikhlasan
Bersahaja dalam raga yang berpuasa
Berbekal ketetapan hati yang mampu menenangkan
Beriring kesadaran yang mencegah jiwa yang gundah
Meniti titian harapan penuh perjuangan
Penganggit : Muhamad Ismail Hidayatullah






