
UMS, pabelan-online.com – Limbah Pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) sampai sekarang masih mencemari Sungai Bengawan Solo. Hal tersebut mendorong masyarakat Sukoharjo yang tergabung dalam Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) mendatangi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk audiensi sekaligus melakukan aksi teatrikal.
Tak patah semangat memperjuangkan lingkungan sehat dan bersih, Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) Kabupaten Sukoharjo mendatangi BBWS Bengawan Solo di Pabelan pada 28 April yang lalu untuk audiensi sekaligus melakukan aksi teatrikal. Audiensi dan aksi teatrikal ini dilakukan lantaran masyarakat kesal akan adanya pencemaran Sungai Bengawan Solo.
Pencemaran Bengawan Solo terjadi akibat adanya limbah cair PT RUM yang dialirkan ke Bengawan Solo secara langsung. Aksi teatrikal dilakukan oleh 10 masa aksi dengan membawa foto-foto sungai dan bebatuan yang terkena limbah cair PT RUM. Masa aksi juga membawa air dan tanah yang terkena limbah cair PT RUM.
Herman, selaku Koordinator Aksi mengatakan, bahwa aksi ini dilakukan karena limbah cair PT RUM mencemari sungai kecil di sekitar tempat tinggal masyarakat yang juga bermuara ke Sungai Bengawan Solo. Ia mengatakan bahwa GPL ingin meminta BBWS sebagai institusi yang mempunyai tanggung jawab untuk memelihara sungai, serta tidak tutup mata dan diam atas pencemaran yang dilakukan oleh PT RUM.
Berdasarkan riset yang dilakukan bersama Ecoton, LBH Semarang, dan Walhi Jateng, masyarakat yang tergabung dalam GPL mengatakan bahwa ditemukan banyak rembesan dari saluran limbah cair yang dipendam dalam tanah. Adanya kebocoran pada saluran pipa dan itu merupakan sebuah bentuk pelanggaran yang telah dilakukan PT RUM. Kebocoran tersebut mengakibatkan pencemaran air sungai dan dikhawatirkan akan mengancam kesehatan masyarakat.
Maka dari itu, GPL menuntut kepada BBWS agar melakukan tindakan-tindakan seperti, segera menghentikan pencemaran di Sungai Bengawan Solo, memberikan sanksi kepada PT RUM atas limbah cair tersebut, segera menghentikan pembuangan limbah cair ke bengawan solo, dan segera melakukan pengendalian daya rusak air Sungai Bengawan Solo yang tercemar limbah cair.
Aksi yang dilakukan tersebut turut menuai respon dari kalangan civitas academica. Alif Noor Anna selaku Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan tanggapannya terkait kejadian tersebut. Ia mengatakan bahwa tim UMS sudah pernah melakukan penelitian terhadap air sungai yang tercemar limbah dan hasilnya limbah tersebut mengakibatkan ikan mati.
Ia juga menambahkan bahwa respon dari pemerintah kurang dan pemerintah kurang terbuka sehingga kejadian ini terus menerus terjadi. “Harus ada iktikad baik dari perusahaan untuk dapat mengolah limbahnya dengan baik dan pemerintah kabupaten Sukoharjo harus segera merespon karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tuturnya, Selasa (4/5/2021).
Reporter : Jannah Arruum Sari
Editor : Mulyani Adi Astutiatmaja






