
Bangkitnya Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) menjadi buah bibir dan topik yang hangat bagi sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, karena memang tak semua mahasiswa kampus ini sungguhan antusias menyambut kebangkitannya. Buktinya, banyak mahasiswa masih tetap abai akan urgensi adanya BEM di sebuah kampus, entah karena tak tahu fungsi dan pengaruhnya atau memang karena tak peduli sejak dulu meski ujungnya tetap terdampak juga.
Setelah nyaris selama tiga tahun tak terlihat batang hidungnya, akun Instagram BEM-U @bem.ums akhirnya kembali mengunggah konten pertama untuk mengucapkan selamat atas pelantikan Rektor UMS Harun Joko Prayitno. Unggahan ini muncul pasca Muhammad Naufal Fajar dan Teguh Jairyanur Akbar dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden BEM-U. Mahasiswa angkatan tahun 2023 dan 2024 pun setidaknya dapat tahu jika rupanya di kampus ini juga ada BEM-nya.
Hadirnya kembali BEM-U di kampus ini bagai angin segar bagi mahasiswa. Meskipun terdapat desas-desus dilantiknya mereka hanya merupakan upaya “tak ada rotan, akar pun jadi”, setidaknya civitas academica UMS kini punya harapan baru untuk lekas berbenah. Itu jelas lebih baik ketimbang kekosongan kursi BEM terus berlanjut dan kondisi mahasiswanya terkatung-katung berpendar tanpa pemimpin.
Sayangnya, dalam proses perekrutan, ada kendala persiapan yang kurang matang. Sebab, hingga saat ini kabinetnya juga belum terbentuk, sementara ini sudah masuk di pertengahan tahun. Pangkal soalnya adalah administrasi yang belum beres, pun Standar Operasional Prosedur (SOP) belum ada. Konon, proses rekrutmen diperkirakan bakal dilakukan di akhir April hingga pekan pertama Mei, tetapi hingga saat ini belum ada sosialisasi yang memadai sejauh mana progresnya.
Bau-baunya, presiden akan lebih berjarak dengan media untuk dimintai transparansi. Sebab, ia cukup sulit manakala berkali-kali dihubungi. Kalaupun hendak ditemui, sekretariat BEM juga belum aktif. Bagi para mahasiswa, kondisi ini berpotensi menciptakan sumbatan komunikasi dalam pemenuhan hak atas informasi kepentingan mahasiswa yang transparan dan akuntabel.
Tak hanya itu, meski sudah dilantik pada pertengahan Maret lalu, presiden maupun wakilnya tak ada wujudnya di aksi Indonesia Gelap dan tuntutan pernyataan sikap kampus di depan Gedung Siti Walidah. Padahal, kehadirannya sangat diharap-harap oleh para peserta aksi waktu itu. Para peserta Aksi Kamisan yang mulai rutin digulirkan sejak awal April lalu juga sudah menanti-nanti hadirnya massa dari kampus tercinta kita yang dipelopori oleh BEM-U.
Selama ini, dalam aksi-aksi yang digelar di Solo, mahasiswanya bahkan tak percaya diri mengenakan almamater hijau tosca UMS. Mereka malu jika ditanya-tanyai perihal bagaimana BEM-nya oleh peserta aksi lain sehingga lebih memilih mengenakan baju hitam-hitam ketimbang harus berterus terang menjawab eksistensi BEM yang tak jelas.
Oleh sebab itu, BEM-U harus segera menuntaskan pembentukan kabinet, dan lekas menjalankan tupoksinya termasuk menjadi wadah aspirasi mahasiswa. Jika tidak, BEM hanya akan terus-terusan dihujani kritik dari banyak pihak. BEM-U tak semestinya meneladani Firdaus, Presiden BEM-U sebelumnya yang sarat dengan masalah hingga akhirnya menghilang begitu saja.
Publik akan segera menyaksikan dan menilai bagaimana kinerja BEM-U nantinya. Seleksi rekrutmen BEM-U harus ketat karena kualitas kinerjanya akan menentukan maju atau mandeknya organisasi di masa mendatang. Terlebih, pembentukan BEM-U yang dimulai dari dasar (ground zero) menjadikan satu kesalahan fatal saja dapat berpotensi merusak citra positif kebangkitan lembaga ini di mata publik. Kerentanan tersebut dapat menggerus kredibilitas BEM-U dalam menjalankan program kerja maupun fungsi representasinya.
Penyusunan kabinet BEM-U tidak boleh asal pilih, terlebih jika hanya berdasarkan bagi-bagi kursi IMM Sukoharjo dan IMM Surakarta agar tidak ribut. Bibit kabinet BEM-U harus sungguh-sungguh dipastikan kompetensinya. Sudah saatnya BEM-U membuktikan bahwa stigma para mahasiswa terhadapnya tak semuanya terbukti buruk. Di periode ini, nama baik sekaligus harga diri BEM-U sangat dipertaruhkan sejak dimulainya pembentukan kabinet.







