
Pabelan-online.com, UMS – Setiap 1 April, Indonesia memperingati Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) sebagai momentum refleksi perjalanan dunia broadcasting atau penyiaran dari era radio konvensional hingga digital. Di tengah gempuran platform modern, eksistensi radio, termasuk radio kampus masih bertahan dengan kekuatan khasnya, yakni kedekatan dan interaksi langsung dengan pendengar.
Harsiarnas ini diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 9 Tahun 2019 tentang Hari Penyiaran Nasional. Melansir dari kpi.go.id pemilihan tanggal 1 April sebagai Harsiarnas dikarenakan pada 1 April 1933 itulah Lembaga Penyiaran Radio milik pribumi di Solo yaitu Solosche Radio Vereeniging (SRV) yang digagas oleh KGPAA Mangkunegoro VII, berdiri.
Sejarah penyiaran di Indonesia mulai berlangsung pada tahun 1927, persisnya sejak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Sri Mangkunegoro VII yang menerima hadiah dari Belanda berupa pesawat radio penerima. Tanggal berdirinya SRV ini kemudian dijadikan oleh para pencetus Harsiarnas sebagai hari lahirnya penyiaran nasional.
Zukhrofa Rizkiana Ramadhani selaku dosen mata kuliah Pengantar Penyiaran di Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi sekaligus penyiar radio sejak 2013 menilai dunia kepenyiaran khususnya radio saat ini sudah mulai berinovasi ke platform digital seperti halnya media sosial dan YouTube.
“Sekarang pun orang juga nggak (semua-red) mendengar radio konvensional, tapi bisa mendengar via streaming. Mungkin juga ada beberapa yang ada di Spotify yang on demand,” tutur Zukhrofa saat dimintai keterangan via WhatsApp Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, dunia kepenyiaran di era sekarang tidak hanya berkutat pada radio dan televisi saja. Menurutnya, produksi konten media sudah bisa disebut broadcasting. Ia juga menambahkan sampai saat ini radio masih bisa hidup dan menemani aktivitas pendengarnya.
“Jadi radio masih bisa bertahan walaupun tetap ikut berkembang, harus ikut adaptasi, dengan perkembangan teknologi,” imbuhnya.
Selain itu, nilai khas radio yang tidak bisa digantikan ialah interaksi dengan pendengar. Sebab, menurutnya program seperti podcast atau siniar hanya berinteraksi dengan bintang tamu yang diundang sedangkan radio penyiar dan pendengar bisa berinteraksi.
“Kedekatan personal kali, ya? Jadi itu yang menurut saya nggak bisa digantikan media lain,” ujarnya.
Ia berharap, anak muda sekarang tidak berpikir kalau dunia kepenyiaran cuma radio dan televisi. “Penyiaran adalah jalan untuk kita bisa bersinar dengan caranya sendiri,” tuturnya.
Zaky Mohammad Rizwar selaku General Manager Rapma FM UMS menilai, radio kampus masih layak didengar di tengah banyaknya platform digital karena menurunnya radio punya keunggulan dalam hal kedekatan dan interaksi langsung dengan pendengarnya.
“Ada rasa ‘hidup’ yang mungkin aja nggak selalu bisa didapat dari podcast atau media sosial,” ujarnya saat dimintai keterangan via WhatsApp Rabu (1/4/2026)
Ia mengatakan, Rapma FM selalu konsisten melakukan siaran setiap hari. Upaya itu dilakukan sebagai bentuk komitmen Rapma FM untuk memastikan radio tetap hidup dan tetap ada.
“Identitas radio kampus itu masih ada dan harus tetap dijaga. Memang sekarang radio bukan menjadi platform yang paling digemari, tapi bukan berarti kita harus kehilangan ciri khasnya,” katanya.
Ia berharap radio kampus tidak hanya sebagai media alternatif tapi bisa menjadi media yang lebih luas.
“Selama masih ada yang mau bersuara dan mendengarkan, radio akan tetap hidup. Tinggal bagaimana kita terus jaga semangat itu,” katanya.
Selaras dengan Rizwan, Aditya Ihza Mahendra selaku General Manager Radik FM (Radio Ilkom) merasa radio kampus masih relevan dengan masyarakat dan bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman yang ada. Menurutnya, minat audiens dalam mendengarkan radio kampus masih cukup rendah.
“Di Radik FM sendiri selain memproduksi siaran On Air kami juga memproduksi podcast,” ujarnya saat di hubungi via WhatsApp Rabu, (1 April 2026).
Digitalisasi media, ujarnya, adalah sebuah peluang dan momentum untuk transformasi media audio menjadi media digital yang fleksibel. Ia berharap agar radio kampus dapat diminati masyarakat khususnya mahasiswa.
“Harapanya radio kampus dapat menjadi inkubator bagi mahasiswa yang mempunyai minat dibidang penyiaran dan media untuk dapat terus berkembang dan berinovasi agar radio kampus dapat terus didengar dan terus mengudara,” harapnya.
Reporter : Aqnan Syandi Syahsena
Editor: Muhammad Farhan







