LPM Pabelan

UMS, pabelan-online.com – Salah satu mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) diduga bunuh diri akibat perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Hal itu membuat Rektor Undip meminta untuk berhenti memperdebat terkait kematian mahasiswi tersebut hingga keluarnya hasil penyidik resmi dari kepolisian.

Dugaan kasus perundungan di Universitas salah satunya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia kembali terjadi. Dugaan kasus perundungan tersebut terjadi di Universitas Diponegoro (Undip) yang menewaskan dokter Aulia Risma hingga diperdebatkan oleh civitas academica.

Melansir dari cnnindonesia.com, berdasarkan press release yang disampaikan oleh Suharmono selaku Rektor Undip, meminta jajaran civitas academica untuk berhenti memperdebatkan kasus kematian mahasiswa PPDS Anestesi dan Reanimasi hingga keluarnya hasil penyidikan resmi dari kepolisian.

Suharmono juga meminta kepada pihak di luar Undip untuk melakukan hal serupa agar proses penyidikan dapat berjalan dengan tenang. Ia juga menyampaikan jika pihak Polda Jawa Tengah sudah bergerak menangani kasus ini setelah ibunda korban, Nuzmatun Malinah resmi melaporkan dugaan perundungan.

“Rasanya pembahasan kematian dokter Aulia Risma Lestari sudah menjadi masalah hukum, sehingga pihak-pihak di luar penyidik sebaiknya menahan diri. Jangan sampai masalah ini menjadi keruh dan menjadi bola liar,” ujarnya dalam press release, Jumat (06/09/2024).

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto telah menyelidiki langsung serta meminta keterangan kepada Nuzmatum dan mendalami 11 orang yang telah diperiksa penyidik Polrestabes Semarang.

“Apabila terdapat pihak-pihak yang telah menjadi korban perundungan di lingkungan PPDS Undip, serta apabila ada masyarakat luar yang menjadi korban perundungan agar dapat melaporkannya kepada polda Jawa Tengah,” ujar Artanto, Kamis (05/09/2024).

Menanggapi kasus perundungan yang terjadi di PPDS Undip, reporter pabelan-online.com berhasil mewawancarai Ilham Faizha, salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ilham menyayangkan kasus tersebut, karena menurutnya menjadi dokter adalah pekerjaan yang mulia.

Ia juga turut menyampaikan jika budaya senioritas di Fakultas Kedokteran memang ada. Namun selama ini budaya tersebut tidak menjadi konotasi yang negatif dan lebih kepada bagaimana cara kita menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.

“Hal tersebut sering disalahartikan dan dimanfaatkan oleh oknum yang gila hormat dan ingin memberi makan egonya. Hal seperti itulah yg harus diperhatikan,” ungkapnya, Senin (09/09/2024).

Ilham juga mengungkapkan bahwa, setelah selesai menempuh S1, lulusan Sarjana Kedokteran harus menjalani masa koas atau dokter muda di rumah sakit. Tidak hanya belajar akademik saja di masa koas, namun juga belajar untuk menghormati yang lebih tua.

Menurutnya penerapan adab sebelum ilmu sudah diterapkan dalam Islam, namun seringkali dimanfaatkan sehingga menghilangkan esensi dari budaya tersebut. Ia berharap agar ke depannya budaya senioritas di PPDS dapat dihilangkan.

“Karena PPDS dalam stigma anak FK pasti lebih parah dari pre-klinik atau S1, sebenarnya tidak bagus untuk dinormalisasi maka harapan saya budaya tersebut bisa diganti dengan budaya baru yang membawa perubahan dan banyak orang lebih sadar,” pungkasnya.

 

Reporter: Hanifa Eka Rahmadani

Editor: Mariska Jasiaat

 

Also Read

Tinggalkan komentar