Pabelan-online.com, UMS – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Locus baru saja neluncurkan Majalah Lajur edisi ke-10, digelar di Lantai 1 Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta pada Senin, 5 Januari 2026. Acara ini mengundang dua narasumber Ketua Solo Societeit sampai penggiat isu perempuan.
Nayla Hafadzah Fillah selaku Ketua Panitia mengatakan tema ini diangkat karena kegelisahan dan diskusi untuk mengingat apa yang telah dilupakan. Dari situlah “Urat Luka Surakarta: Api, Amnesia Kolektif, dan Tubuh yang Dijauhi” ditulis.
“Diluncurkan untuk membuka dan melihat ruang, siapa sih yang disisihkan oleh publik?” ujarnya, Senin (5/1/2026).
Pembina LPM Locus, Dwi Puji Astuti memberi sambutan dengan menjelaskan tema majalah edisi kali ini adalah gema marginal dan humanis. Dwi menyebut pers kampus tidak hanya media informasi tetapi juga edukasi.
“Dengan ini locus hadir untuk menghadirkan praktek yang humanis,” tuturnya, Senin (5/1/2026).
Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Pemimpin Umum Kukuh Satria bersama Dwi Puji Astuti sebagai penanda Majalah Lajur edisi ke-10 telah resmi dirilis. Selanjutnya, para tamu pun disuguhkan penampilan puisi. Puisi itu berisikan kritik terhadap pemerintah yang tak menjalankan tugas sebagaimana mestinya, sembari mengajak untuk kembali mengingat tragedi kelam tahun 1998.
Pada sesi gelar wicara, LPM Locus menghadirkan dua tokoh yaitu Dani Saptoni Ketua Solo Societeit dan Roudhotul Jannah sebagai Pegiat Isu Perempuan dan Dosen UIN Raden Mas Said.
Dani menyampaikan topik 1998 adalah topik yang kontemporer dan lebih sensitif dibandingkan ketika membicarakan 1965. Menurut Dani, konflik 65 lebih fundamental korbannya sedangkan konflik 98 menjadi hal unik karena banyak tokoh yang menjadi penyintas, masih hidup sampai saat ini.
“Jadi 98 ini sejarah Indonesia, wajah Indonesia aktual terbentuk dari pondasi 98 ini,” ujarnya, Senin (5/1/2026).
Sebagai saksi yang melihat langsung tragedi 98, Dani berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. “Karena banyak dari saudara saudara di Surakarta menghilang,” lanjutnya, “mahasiswa adalah muara, jadi dalam sejarah tidak ada yang berubah kecuali oleh pemuda,” tutur Dani.
Jannah, sebagai aktivis isu perempuan bercerita tentang pemerkosaan massal pada etnis Tionghoa di tahun 1998. Tragedi itu, ujarnya, terjadi begitu memilukan sampai pada titik di mana para korban harus mencari perlindungan ke luar negeri, karena Indonesia tak lagi dapat dipercaya.
“Negara yang seharusnya menjadi rumah, menjadi tempat aman, tapi itu tidak ada lagi,” ujarnya, Senin (5/1/2026)
Kala itu, jelas Jannah, stereotipe berkembang di tengah masyarakat yang melekat pada etnis Tionghoa, sehingga kekerasan banyak tertuju pada etnis tersebut, terlebih, banyak dari korban kekerasan seksual berasal dari kalangan perempuan.
“Yang diserang adalah perempuan karena tubuh perempuan adalah kehormatan kolektif, sehingga jika ingin mencederai suatu kelompok, yang diserang adalah perempuan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa trauma etnis Tionghoa masih sangat melekat hingga ke generasi keturunan mereka. Sebab, bagi mereka tragedi ini begitu mengerikan karena para pelakunya masih hidup dan berkeliaran sampai saat ini.
“Korban saat itu tidak mendapatkan perlindungan karena relasi kuasa pelaku saat itu sangat tinggi,” tuturnya.
Akmal, salah seorang peserta acara Launching Majalah itu memberi kesan bahwa acara kali ini begitu menarik, sehingga membuatnya mengenang kembali tragedi kelam tahun 1998 yang di dalamnya kita dibuat amnesia kolektif.
“Semoga LPM Locus menjadi lebih baik lagi kedepannya, dan lebih lagi dalam mengulik setiap isunya,” harapnya, Senin (5/1/2026).
Reporter: Farhat Abdillah To Ngili
Editor: Aqnan Syandi Syahsena







