LPM Pabelan

Setelah dua tahun lebih berkutat dengan pembelajaran daring akibat pandemi, dunia pendidikan tinggi Indonesia akhirnya bisa bernapas lega dengan kembalinya aktivitas tatap muka. Namun, belakangan muncul fenomena yang cukup mengkhawatirkan, yakni pengalihan pembelajaran tatap muka ke mode daring untuk mengakomodasi kegiatan non-akademik kampus.

Kasus terbaru yang menjadi sorotan adalah kebijakan pengalihan perkuliahan selama dua minggu untuk pelaksanaan PIMNAS ke-37 di UNAIR. Meski PIMNAS ke-37 merupakan ajang prestisius yang membanggakan, kebijakan pengalihan pembelajaran ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang prioritas institusi pendidikan tinggi. Apakah pantas mengorbankan kontinuitas pembelajaran demi sebuah event, sekalipun event tersebut sekaliber PIMNAS ke-37?

Solusi yang lebih bijak seharusnya bisa diupayakan. Mengapa tidak mengeksplorasi opsi penggunaan venue alternatif untuk PIMNAS ke-37? Atau melakukan pengaturan ruang yang lebih strategis sehingga kegiatan akademik dan non-akademik bisa berjalan beriringan? Komitmen terhadap kualitas pendidikan seharusnya tidak perlu dikorbankan demi accommodating kegiatan lain, seberapa penting pun kegiatan tersebut.

Yang perlu digaris bawahi yakni tujuan utama mahasiswa datang ke kampus adalah untuk belajar. Setiap kebijakan yang berpotensi mengganggu proses pembelajaran, bahkan untuk periode singkat, perlu dikaji ulang dengan seksama. Prestasi institusi memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan esensi pendidikan itu sendiri.

Namun pada kenyataannya mahasiswa tidak hanya diberi perkuliahan daring, namun juga diberi tugas untuk turut menyemarakkan acara tersebut. Seperti halnya yang disampaikan oleh mahasiswa di akun Instagram dan X, yang justru kontra terhadap acara tersebut. Mahasiswa jadi tidak bisa kuliah sepenuhnya, seperti halnya ketika ada kelas praktikum yang harus reschedule di minggu-minggu sebelum dan selanjutnya sehingga memberatkan mahasiswa.

Tugas tambahan yang diberikan oleh kampus untuk memeriahkan acara perlu dikaji ulang. hal ini dikarenakan mahasiswa harus tetap kuliah, namun masih diberi tugas tambahan. jika ini memberatkan mahasiswa, kampus perlu mengkaji ulang agar tidak memberatkan tugas mahasiswa yang notabenenya mencari ilmu.

Selain adanya perkuliahan daring dan tugas tambahan, fasilitas di kampus juga menjadi lebih baik. Namun apakah fasilitas tersebut menjadi lebih baik hanya saat ada acara PIMNAS ke-37? Jika memang hal itu terjadi, maka sudah seharusnya kampus turut memperhatikan sarana dan prasarana (sarpras) tanpa adanya acara tersendiri.

Perbaikan sarpras yang hanya diperbaiki saat ada acara, memang sudah menjadi hal yang lumrah. Namun itu menunjukkan minimnya kampus dalam melek sarpras. Kampus hanya memperhatikan hal-hal lain ketimbang lingkungan kampus yang nyaman. Meskipun sudah menjadi hal yang lumrah, namun jika kampus-kampus seperti ini terus dilestarikan tentu akan menjadi hal yang buruk.

Hal itu menunjukkan kurangnya persiapan kampus dalam menunjang perkuliahan mahasiswa. Meskipun kampus memang baik menjadi tuan rumah PIMNAS ke-37, namun sudah seharusnya kampus lebih memperhatikan mahasiswa dan kebutuhannya. Ke depannya hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi kampus sehingga mahasiswa tetap menjadi prioritas kampus untuk belajar.

 

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar