LPM Pabelan

Dersik mengalun begitu merdu membelai daun telinga Daniel ketika tengah berada dalam terowongan bawah tanah. Suasana legam yang menyelimuti kawasan itu membuat bulu kuduk Daniel berdiri, suara langkah kaki nya yang jangkung terdengar cukup keras meskipun ia berjalan pelan. Hanya ada sesekali suara jagkring berbunyi menemani langkah Daniel pada pukul dua dini hari itu yang menambah kesan mencekam saat dirasakan dalam terowongan bekas penjajahan kolonial Jepang. Dengan penerangan yang berasal dari senter smartphone anak nya, Daniel mulai mencari sesuatu  yang ada di dalam ransel kecil miliknya. Sesuatu seperti brosur dengan foto seorang Gadis remaja berusia 17 tahun dikeluarkan oleh Daniel dengan susah payah dari dalam ransel yang terlihat sangat penuh dengan barang bawaan. Manik legam nya bergerak menelusuri wajah seorang gadis manis yang tercetak di atas kertas seukuran HVS itu. Rambut ikal dengan warna coklat kekuningan terlihat sangat cocok dengan warna kulit gadis itu yang putih bersih. Senyum tipis sempat tergurat di wajah sawo matang Daniel.

Tap Tap..

Nafas Daniel terhenti ketika mendengar suara derap kaki yang terdengar mendekatinya, Ia menyabet tas ranselnya dengan kasar kemudian berlari ketakutan sambil berteriak memanggil nama Margareth.

“Margareth.. Margareth, ayoo larii dari sinii.. serdaduu itu mengejar kita.. Cepat Margareth”

Dengan langkah kaki yang cepat dan nafas terengah-engah Daniel terus melaju tanpa henti dan terus memanggil nama Margareth seakan menyuruh nya untuk segera kabur dari kejaran serdadu yang jahat. Langkah nya yang grasa-grusu mebuat Daniel tanpa sengaja menjatuh kan ransel coklat nya ke tanah yang membuat langkah kaki nya terhenti karena berniat berputar arah untuk mengambil tas ranselnya. Namun ketika ingin mengambil tas nya, tiba-tiba Daniel berteriak ketakutan dan terjatuh tak sadarkan diri.

**

Keesokan pagi nya Daniel terbangun karena adanya lolongan Anjing dari mulut trowongan. Ia nampak kebingungan dengan keadaan nya yang tertidur di terowongan bawah tanah ini. Dengan kondisi yang belum sepenuhnya sadar Daniel kemudian mengambil ransel coklatnya yang tergeletak tak jauh dari posisi ia terbangun. Saat ransel itu hendak Daniel panggul selembar kertas yang mirip dengan brosur terjatuh tepat di kaki Daniel, melihat itu Daniel mengambilnya dan mendekapnya dengan kuat. Buliran air mata tak disangka jatuh membahasi pipi dan tanah yang Daniel pijak.

“Margareth… maaf kan aku Margareth karena tidak menjaga mu dengan baik. Maafkan aku..”

Tangisan Daniel pecah seketika ketika melihat foto gadis di brosur itu, air mata nya terus mengalir sampai beranak sungai, diri nya hampir terjatuh lagi sebelum sesaat seorang anak laki laki bertubuh sedikit gempal memanggil nya.

“Ayaah..” suara berat menggema ke seluruh terowongan itu

Daniel menoleh ke arah belakang, mata almond nya menagkap figur seorang laki laki dewas berusia 35 tahun dengan kaos merah oversize dan topi hitam bertulis Dead.

“Doni..” lirih Daniel

“Ayah kenapa bisa sampai disini, Hp ku kamu ambil ya yah!”

Dengan kasar laki-laki itu merebut ransel coklat dari tangan Daniel. Lalu menarik tangan Daniel dengan kasar.

“Ayo pulang Yah!”

Daniel yang nampak masih bersedih hanya menurut dengan ucapan anak nya. Sesampai nya di rumah, Daniel di giring masuk ke dalam ruangan kecil yang berada di bawah tanah dengan hanya ada satu pintu dan satu venilasi. Ruangan itu tidak memiliki sekat sama sekali, hanya ada sebalok kayu di ujung ruangan. Dengan warna dinding dan lantai yang putih memberikan kesan longgar meskipun ruangan itu hanya seukuran 3 x 1,5 meter.

Doni kemudian mendorong Daniel masuk dan menyeretnya ke sudut ruangan, kaki nya di pasung pada sebalok kayu yang ada disana. Daniel nampak linglung dan terus-terusan memanggil Margareth.

“Margareth.. Margareth.. Margareth…”

Kuping Doni yang memerah ketika mendengar nama itu seketika membating pintu kayu yang merupakan pintu masuk satu satu nya dengan keras, sampai seluruh ruangan terasa bergetar.

Daniel terkejut, membuat ia sadar sepenuh nya dengan kondisinya yang  kini telah terpasung. Dengan panik Daniel mencoba membuka balok kayu itu. Namun usaha nya sia-sia.

**

Malam pun menyapa, Daniel yang tertidur dengan bersandar tembok tiba-tiba terbangun dan memanggil nama Margareth. Emosi nya nampak tak terkendali dan entah bagaimana Daniel bisa lepas dari pasung nya, Meskipun dengan kaki yang terluka akibat gesekan dengan balok kayu Daniel berjalan kearah pintu keluar, dengan ganas ia membuka pintu dengan balok kayu yang lalu di gunakan untuk memasung dirinya. Seketika pintu dari ruagan itu terbuka, dengan nafas yang terengah-engah Daniel berlari kembali ke terowongan bawah tanah. Matanya kembali menulusuri terowongan itu sambil sesekali melihat kertas brosur dengan foto seorang gadis dengan rambut ikal.

“Margareth.. Margareth..kamu dimana”

Dengan kaki penuh lebam dan luka Daniel menelusuri jalur kereta api dengan tertatih, sampai langkah nya tiba-tiba terhenti ketika matanya menangkap figur seorang gadis muda nan tinggi di ujung trowongan. Daniel berlari segera menghampiri figur itu dan memeluk nya dengan erat. Tangan keriput nya menyentuh ujung rambut ikal gadis itu.

*jlebb

“aarrghhh… Mar.. gaa.. reeetth’”

Cairan merah kecoklatan secara tiba-tiba mengalir deras dari bawah ulu hati Daniel, sebilah pisau tertancap ke dalam perut Daniel mengakibatkan Daniel terjatuh seketika.

“kenapaa kau melukai ku.. Monaa” rintih Daniel dengan meneyebut nama panggilan kesayangan nya pada Margareth sembari terus memegangi perutnya yang mengeluarkan darah segar. Sesosok gadis cantik nan tinggi yang di peluknya tadi hanya menangis meihat keadaan Daniel, lalu pergi meninggalkan Daniel sendirian. Dengan sisa tenanga yang di punya, Daniel berdiri dan mencoba mengejar Margareth yang pergi entah kemana. Langkahnya tak tentu arah karena kesadaran nya hampir hilang yang disebabkan oleh keluarnya banyak darah. Akhirnya Daniel tumbang dan tak sadarkan diri.

**

Keesokan pagi nya Daniel tersadar dengan tangan yang terinfus dan menggunakan baju khas rumah sakit. Ia menemukan anaknya tengah tertidur di kursi yang tak jauh dari ranjang yang ia tiduri.

klekk..

Pintu kayu yang merupakan pintu masuk ruangan yang Daniel tempati sekarang terbuka dengan pelan, menampilkan figur seorang pria dengan kacamata dan stetoskop menggantung di bahu nya.

“Selamat Pagi pak” sapa figur itu dengan senyum ramah kepada Daniel. Namun ia acuh dengan ucapan hangat itu dan membuang pandangan nya ke arah lain. Di waktu yang bersamaan figur yang tak lain seorang dokter itu kemudian membangunkan Doni dengan lembut.

“Pagi pak Doni”

“eeh” Doni yang mendengar sapaan itu langsung terbangun dan menatap Dokter itu dengan tatapan  sayu.

“Bisa bicara di ruangan saya sebentar pak” pinta dokter itu sembari mengalihkan pandangan ke Daniel. Doni yang paham akan maksud dokter langsung mengiyakan permintaan nya.

“Baik Dok” Doni pun keluar mengikuti langkah Dokter tanpa sedikit menoleh kearah ayahnya.

Selang beberapa menit Doni dan Dokter itu keluar, pintu yang tadinya tertutup rapat, kembali terbuka dengan pelan dan menampilkan sosok gadis cantik dengan rambut ikal coklat nya. Menangkap sosok itu seutas garis senyuman tergores dalam raut wajah Daniel.

“Margareetthh..” lirihnya.

Gadis itu pun mendekati Daniel dengan berjalan pelan kemudian mengelus kepala Daniel dengan penuh kelembutan. Seutas garis kebahagiaan juga terlukis dalam wajah Margareth, dengan perasaan bahagia Daniel pun berniat menyapukan tangan keriputnya ke rambut gadis cantik itu, namun dengan cepat tiba tiba sebilah pisau buah menancap tepat di luka Daniel sebelumnya yang mengakibatkan Daniel menjerit kesakitan. Di tengah jerit sakitnya Daniel terus memandangi Margareth yang hanya terdiam kaku melihat Daniel terluka. Dengan kondisi yang begitu menyakitkan akhirnya Daniel meregang nyawa karena kehabisan darah.

Di lain sisi, Doni yang masih berada di ruang Dokter nampak terkejut setelah mendengar  informasi yang baru saja di sampaikan dokter padanya.

“Jadi Ayah saya selama ini memiliki Delusi Dok?”

“iyaa pak” jawab Dokter menegaskan.

Doni yang khawatir akan keadaan ayah nya kemudian bergegas meninggalkan ruangan dokter untuk melihat keadaan ayah nya. Begitu kasar nya Doni membuka pintu dengan nomor 25 itu, dan seketika mata Doni membulat sempurna ketika melihat kondisi orang yang disayangi nya yang telah meninggal dengan tangan yang memegangi pisau buah yang tertancap di luka perutnya.

 

Penulis            : Wike Tri Wulandari

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor             : Mulyani Adi Astutiatmaja

Baca Juga : Kronologi 9 Mahasiswa UTI Kena Sanksi Skorsing Hingga DO

Also Read

Tinggalkan komentar