
Permasalahan pandemi rupanya membawa dampak yang berlarut-larut dalam segalan sektor kehidupan. Mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, pendidikan, kebudayaan hingga politik.
Membahas perpolitikan di kala pandemi mungkin memang menjadi suatu hal yang riskan. Di satu sisi permasalahan kesehatan dan ekonomi miliki urgensi yang patut diutamakan, karena menyangkut hajat hidup orang banyak yang tengah berjuang untuk hidup dan mati. Namun, di sisi lain permasalahan ini mulai merembet pada banyak sektor yang tidak dapat disepelekan dan banyak dampaknya.
Di Indonesia sendiri mulai mengalami situasi yang cukup panas oleh adanya isu penundaan pemilihan umum (Pemilu), yang banyak ditentang oleh berbagai kalangan tak terkecuali golongan civitas academica. Kabar terbaru wacana penundaan Pemilu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.
Dalam hal ini, Luhut berpendapat diundurnya Pemilu merupakan momentum perbaikan ekonomi akibat pandemi yang tidak kunjung hilang dan memungkinkan sektor ekonomi mengalami penurunan karena terganggu oleh hajatan politik terbesar di lingkup negara. Ada pendapat yang menyatakan wacana penundaan pemilu itu merupakan sarana cek ombak untuk mengetes angka suara, layaknya seperti survei dan kampanye jelang pemilu di tahun yang sudah-sudah.
Sementara di tengah perdebatan mengenai wacana penundaan pemilu tersebut, muncul beberapa perkumpulan pendukung yang mulai mengusung nama calon presiden untuk Pemilu 2024. Dalam hal ini rupanya tak ketinggalan dari kalangan mahasiswa yang mengambil peran dalam dukungan tersebut.
Mereka tergabung dalam beberapa perkumpulan pendukung beberapa calon Presiden Republik Indonesia yang digembar-gemborkan akan maju dalam Pemilu. Meski di satu sisi, alasan para mahasiswa tersebut beragam. Namun hal ini menimbulkan banyak asumsi mengenai tujuan dan agenda dari para mahasiswa simpatisan pendukung Capres 2024.
Padahal, mahasiswa yang merupakan bagian dari civitas academica masih dalam proses belajar dalam lembaga pendidikan tinggi. Mereka masih terlalu hijau untuk condong dalam beberapa nama capres yang diusung.
Apalagi mahasiswa sebenarnya diharapkan dapat bersifat netral sebagai pengawal jalannya demokrasi politik. Mahasiswa diharapkan dapat berpikir dan beropini bebas tanpa adanya konflik kepentingan. Meski begitu bukan berarti mahasiswa hanya diam dan tidak mengambil peran demokrasi dengan cara golongan putih (golput).
Namun yang harus diingat pula yaitu agar mahasiswa tidak termakan hoaks yang banyak beredar di masa-masa kampanye jelang pemilu. Penting bagi mahasiswa untuk tidak terburu-buru mengambil langkah kampanye yang impulsif. Mahasiswa diharapkan untuk mengamati terlebih dahulu siapa yang akan maju menjadi calon presiden dan mempertimbangkan sebaik-baiknya.






