LPM Pabelan

pabelan-online.com – Monumen Pers Nasional bekerja sama dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Intuisi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Webinar Jurnalistik yang bertema “Jurnalisme Keberagaman Melalui Ruang Digital”.  Webinar tersebut bertujuan untuk mewadahi ruang diskusi jurnalis dalam mengawal pemberitaan di media.

Monumen Pers Nasional merupakan museum yang mengoleksi, merawat, dan memamerkan benda-benda bersejarah di bidang pers, dari mulai radio, mesin tik, kamera, hingga bukti terbit berupa surat kabar dan majalah.

Webinar yang diadakan pada Sabtu, 10 Juli 2021 melalui Platform Zoom Meeting ini menghadirkan dua pembicara yakni Tantowi Anwari dari Serikat Jurnalis Keberagaman (Sejuk) dan Mariyani Ricky dari Harian Solopos.

Oka Sugawa selaku Pimpinan Umum LPM Intiusi Surakarta menyampaikan dalam sambutannya bahwa mahasiswa memiliki peran dalam informasi. Mahasiswa menjadi sosok yang dekat dengan masyarakat, maka dari itu mahasiswa sebagai pemberi informasi bagi masyarakat.

“Hendaknya kita memberikan informasi yang benar dan valid supaya tidak terjadi kesalahan dalam memahami suatu berita atau sering kita sebut berita hoaks,” ujarnya, Sabtu (10/07/2021).

Thowik Anwari, selaku pembicara pertama menyatakan bahwa, pengguna media sosial di Indonesia sangatlah tinggi, secara umum dapat disimpulkan bahwa usia antara 16-24 tahun adalah usia yang sangat aktif mengakses media sosial. Ia mengatakan bahwa, rata-rata penduduk di Indonesia memerlukan kurang lebih tiga jam untuk mengakses media sosial.

“Mengakses media sosial terlalu lama dapat menyebabkan dampak-dampak yang ditimbulkan, seperti mendapat isu hoaks, isu-isu sara, dan isu-isu keberagaman dengan cepat menyebar,” lugasnya.

Baca Juga: Rancangan Perkuliahan Luring Perlu Dimatangkan Lagi

Ia juga menjelaskan tentang teori Malcom X tentang media. Media entitas itu memiliki kekuatan yang luar biasa di muka bumi ini. Media juga memiliki kekuatan untuk menjadikan yang sebenarnya tidak berdosa menjadi buruk, menjadi sesat, dan menjadi menyimpang. Sebaliknya,  yang sesat dan jahat diubah oleh media menjadi suatu yang baik.

“Dan kenapa Malcom X menggagaskan media seperti itu, karena media mempunyai kontrol yang kuat di pikiran masyarakat dan yang kita cemaskan akan pemberitaan-pemberitaan media itu terkait isu-isu keberagaman,” jelasnya, Sabtu (10/07/2021).

Mariyana Ricky, selaku pembicara kedua menjelaskan bahwa media berperan besar dalam pembentukan publik dan  memiliki efek yang sangat besar. Media memiliki peran untuk digunakan oleh individu atau kelompok tertentu dalam menanamkan pesan melalui informasi-informasi yang disajikan tersebut.

“Mengapa saya bilang begitu, karena di Indonesia banyak sekali media-media yang belum terkomfirmasi, belum terverivikasi oleh dewan pers,” ujarnya dalam webinar tersebut, Sabtu (10/07/2021).

Ia juga menjelaskan bahwa saat ini masyarakat sangat mudah untuk terprovokasi oleh media massa maupun media digital yang memiliki dampak besar di dalamnya. Ia menegaskan bahwa ketika jurnalis sudah memegang kode etik jurnalisme itu belum tentu kualitas pemberitaannya sudah bisa berpihak kepada isu keberagaman.

“Tapi paling tidak kalau sudah berpegang kepada kode etik jurnalistik dan jurnalisme mereka sudah menghasilkan jurnalistik yang sudah bisa dikatakan sudah tidak biasa,” tambahnya, Sabtu (10/07/2021).

 

Reporter         : Andika

Editor             : Mulyani Adi Astutiatmaja

 

Also Read

Tinggalkan komentar