LPM Pabelan

Kasus eksploitasi mahasiswa kembali mencuat di salah satu universitas di Indonesia yakni Unsoed. Hal itu ditandai dengan modus pencarian bintang iklan yang berujung pada kekerasan seksual dan perdagangan orang. Dugaan keterlibatan mahasiswa dalam eksploitasi ini tentunya memicu keprihatinan terhadap betapa lemahnya perlindungan bagi mahasiswa di lingkungan akademik.

Modus ini tak hanya terjadi di satu kampus saja, tetapi juga telah menyebar pada kampus-kampus lain, yang menunjukkan betapa rentannya mahasiswa terhadap kejahatan terselubung berkedok tawaran karier. Eksploitasi terhadap mahasiswa bukanlah hal baru. Banyak mahasiswa terjebak dalam situasi yang mengerikan setelah menerima tawaran pekerjaan, magang, atau pencarian bakat yang sepintas tampak menjanjikan.

Lazimnya, tawaran yang menggiurkan itu dimulai dari kesempatan magang di perusahaan bergengsi hingga peluang menjadi bintang iklan. Hal itu sering kali dijadikan sebagai pintu masuk bagi pelaku kejahatan untuk memperdaya korban.

Salah satu contoh nyatanya yakni kasus tawaran magang palsu yang menjebak beberapa mahasiswa dengan janji magang di luar negeri. Mereka dijanjikan pelatihan profesional dan pengalaman internasional. Namun nahas, pada akhirnya mereka malah menjadi korban perdagangan orang, dipaksa bekerja dalam kondisi buruk tanpa imbalan yang manusiawi.

Selain itu, modus yang belakangan terungkap tersebut melibatkan mahasiswa sebagai perantara dalam pencarian talenta untuk iklan. Modus tersebut membawa para korban ke hotel di luar kampus dan menjadi korban kekerasan seksual.

Kampus sebagai institusi pendidikan memegang peran penting dalam mencegah dan melindungi mahasiswa dari ancaman seperti ini. Pembentukan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) di kampus-kampus merupakan langkah yang tepat dalam memberikan perlindungan serta ruang aman bagi mahasiswa.

Maka dari itu, sudah seharusnya kampus lebih proaktif dalam melakukan verifikasi terhadap setiap tawaran magang, pekerjaan, atau program rekrutmen yang masuk ke lingkungan akademik. Tak hanya itu, pentingnya pengawasan yang lebih ketat, terlebih pada kegiatan yang melibatkan pihak eksternal. Setiap tawaran yang melibatkan mahasiswa harus melalui proses verifikasi yang cermat untuk memastikan keabsahan dan keamanan bagi para peserta.

Hanya saja, tanggung jawab terhadap persoalan itu tentunya tidak bisa dilepaskan pada kampus saja. Mahasiswa, juga harus lebih waspada dan kritis terhadap tawaran yang mereka terima. Tawaran pekerjaan atau magang yang terdengar begitu menggiurkan nyatanya sering kali menjadi penipuan yang dirancang untuk mengeksploitasi.

Pertemuan dengan orang asing di tempat-tempat seperti hotel atau lokasi terpencil tanpa pengawasan kampus harus dihindari sebisa mungkin. Kesadaran akan risiko eksploitasi harus terus ditanamkan di kalangan mahasiswa agar mereka dapat melindungi diri dari kejahatan terselubung. Seluruh civitas academica harus turut bergotong-royong untuk berwaspada dan mencegah agar kejadian serupa jangan sampai terjadi lagi.

 

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar