Diskusi Publik LPM Pabelan: “Pers dan Kematian Demokrasi.”

LPM Pabelan

IMG_1620-300x200

Reporter: Verlaandy Donny

LPM Pabelan gelar Diskusi Publik dengan mengangkat tema utama, “Pers dan Kematian Demokrasi”. Pers yang terlahir sebagai pilar demokarsi kini justru menjadi sisi lain didalamnya. Pers kini dinilai tak idependen dan sebagai aktor utama melemahnya demokrasi di Indonesia.

Diskusi yang menghadirkan pembicara Bandung Mawardi dan Fajar Junaidi ini, berlangsung di Griya Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Rabu, (30/4) sore. Bagi kedua pembicara, pers telah mengambil peran penting dalam mematikan demokrasi di Indonesia. Para pemilik media yang berlatar belakang politisi, ataupun pengusaha kini justru mengancam  demokrasi di Indonesia. Media ditangan politisi dan pengusaha dinilai pula mempunyai tujuan berbeda dengan semestinya. Tak heran, dimana sebelumnya media menjadi pengawas kini justru perlu pengawasan. “Awalnya pers menjadi pengawas namun kini juga perlu diawasi,” ungkap Bangung.

Hampir senada dengan Bandung, Mas Jun (sapaan Fajar Junaidi), mengatakan pers di Indonesia lebih liberal dari pada Amerika. Digadang-gadang sebagai negara yang memiliki etika dan budaya ketimuran, pers di Indonesia dinilai lebih bebas dari pada negeri Paman Sam, Amerika. Misalnya tentang kepemilikan media di Indonesia yang tak diatur secara real, hingga lembaga sensor yang tak begitu berkontribusi dalam mengawasi hak siar media. “Di Amerika, siaran live music didilay tigapuluh menit guna dapat mengalihkan hal yang tak layak atau sensor,” ujar Mas Jun.

Bandung dan Mas Jun berharap pers mahasiswa mampu berkarya sekreatif mungkin untuk mengasah intelektual. Dengan produk-produk yang dikeluarkan kiranya mampu semakin bermutu dan memperlihatkan intelektual mahasiswa.

Also Read

Tinggalkan komentar