LPM Pabelan

Suasana penampilan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKM-F), di hadapan mahasiswa baru yang mengenakan caping dalam kegiatan Fakultaria FHIP UMS di halaman depan Gedung Fakultas Hukum & Geografi. (28/08) Foto: Dok. Fakultaria FHIP 2025

Pabelan-online.com, UMS – Penyelenggaraan Fakultaria di Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) menuai keluhan dari mahasiswa baru (maba). Tim Disiplin (Timdis), yang bertugas menertibkan jalannya acara, dinilai terlalu keras hingga membuat maba merasa tertekan. Bentakan, teriakan, hingga penyitaan barang bawaan disebut-sebut menjadi pola yang kerap muncul.

Salah satu mahasiswa baru FHIP, Muhammad Arifai, mengaku Timdis sering membentak hanya karena kesalahan kecil. Ia menilai sikap itu membuat mental para mahasiswa baru menurun.

“Menurut saya, Timdis lumayan bertindak dengan tegas, karena maba juga melakukan kesalahan, mulai dari perlengkapan hingga kedisplinan yang masih kurang,” keluhnya saat ditemui di Gedung FHIP, Kamis (28/08/2025).

Arifai menambahkan, petunjuk tugas atau clue yang diberikan penitia kerap menimbulkan kebingungan. Akibatnya maba menjadi salah paham dan berujung dimarahi Timdis.

“Contohnya, Milku. Itu bilangnya ‘milikku’. Kiranya kan belinya susu Milku, jadi susu Milo. Menurut saya itu kurang masuk akal,” jelasnya.

Keluhan lain datang soal penyitaan barang bawaan. Menurut Arifai, penyitaan yang dilakukan panitia terkesan masif dan tidak ada kejelasan pengembalian. Ia bahkan khawatir barang-barang tersebut dijual oleh panitia.

“Menurut saya itu tidak dikembalikan ya, karena kayaknya tidak ada informasi tentang pengembalian barang yang disita,” ujarnya. Keluhan ini banyak disuarakan oleh maba perempuan, tetapi ketika protes, Timdis tak banyak menanggapi dan hanya menyuruh mereka untuk taat.

Ketua Panitia Fakultaria, Miko Ardiansyah, membantah anggapan tersebut. Ia menegaskan pelaksanaan tahun ini justru lebih ringan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, respon maba berbeda-beda: ada yang menanggapi secara biasa, ada yang serius.

Hal tersebut mengacu pada larangan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk tidak melakukan kekerasan dalam bentuk verbal dan mental.

“Tapi sebenarnya dari tahun ke tahun semakin berkurang. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya lebih keras dibandingkan sekarang,” ujar Miko saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (01/09/2025).

Terkait penyitaan, Miko menyangkal barang dijual oleh panitia. Ia menjelaskan barang sitaan berupa makanan ringan (snack) akan dikembalikan kepada mahasiswa melalui pembagian untuk peserta atau kelompok terbaik.

Ia juga menekankan bahwa penyitaan tidak dilakukan secara keseluruhan, melainkan hanya sebagian kecil. Selain itu, Miko menambahkan, maba yang barangnya disita tetap bisa membeli makanan di stand resmi yang telah disediakan panitia.

“Maba tidak hanya diminta membawa satu jenis snack, tetapi berbagai macam. Misalnya lima jenis snack. Kalau salah, paling hanya satu atau dua saja yang disita, sisanya masih bisa mereka makan,” jelas Miko.

Reporter: Nashiruddin Amin

Editor: Ridhwan Nabawi

Also Read

Tinggalkan komentar