LPM Pabelan

Ilustrasi: Pabelan Online/Fitria Nabilatunnisa

Mundurnya Direktur Pondok Hajjah Nuriyah Shabran, Rizqi Febriandika meninggalkan jejak-jejak keganjilan di kalangan civitas academica UMS. Alasan Rizqi mundur dari jabatannya adalah karena ia hendak melanjutkan studi ke Newcastle, Inggris. Padahal, masa baktinya baru berakhir pada Agustus mendatang. Itu berarti masih sekitar 2–3 bulan lagi sebelum secara resmi menanggalkan jabatan.

Mundur dari jabatan demi melanjutkan studi sejatinya adalah hal yang lumrah. Salah seorang dosen Prodi Ilmu Komunikasi baru-baru ini juga mengundurkan diri karena hendak melanjutkan program doktoralnya.

Namun, pamit dan hengkang secara tiba-tiba di saat masa bakti yang belum sepenuhnya tuntas dan masa studinya masih dimulai beberapa bulan lagi tentu bukan hal yang biasa. Sebab, melanjutkan studi bukan berarti harus melepas jabatan secara mendadak. Terlebih, saat berpamitan dalam grup, pesan terakhirnya yang dibagikan oleh salah seorang mahasantri Pondok Shabran kepada kami, terdapat kalimat yang gamblang. Berikut isi pesannya:

Terakhir, dan yang paling penting, saya mohon dengan sangat dari lubuk hati yang paling dalam untuk tidak membesarkan-besarkan terkait mundurnya saya sebagai direktur (apalagi sampai diliput Pabelan). Ala kulli haal, saya merasa memang sudah waktunya saya berhenti dan undur diri, untuk merenung dan bermuhasabah diri. Mohon tidak untuk dipolitisasi.”

Rizqi menegaskan agar pembaca surat itu tak perlu membesar-besarkan mundurnya ia sebagai direktur, dan melalui dalam kurung, ia bahkan terang-terangan menyebut agar jangan sampai media kami meliputnya. Keganjilan yang pada awalnya hanya asumsi dan wasangka, justru dipertebal olehnya.

Menghindari peliputan justru mengundang publik untuk mempertanyakan: adakah ketidakadilan yang ingin disembunyikan?

Keganjilan itu juga diperkuat saat Rizqi menolak diwawancarai via WhatsApp, juga saat didatangi langsung setelah usai mengajar kelas. Kami pun menyimpulkan bahwa mundurnya Rizqi dari jabatannya sebelum habis masa baktinya ini benar-benar janggal. Namun, pernyataan dari Wakil Rektor IV Em Sutrisna justru bertentangan dengan fakta yang ditemukan: Rizqi telah berpamitan dan mundur dari jabatannya, bahkan tak lagi bermukim di Pondok Shabran.

Sanggahan dari Wakil Rektor IV Em Sutrisna itu dapat dinilai sebagai upaya menutup-nutupi kejanggalan akan mundurnya Rizqi dari jabatannya sebelum habis masa bakti. Sayangnya, upaya itu tampaknya sia-sia saja. 

Publik terlanjur tahu dan lebih percaya bila mundurnya Rizqi adalah hal yang ganjil ketimbang hal yang lazim dari penolakannya saat diwawancara, makna tersirat dari pesan yang disampaikan, serta waktu mundur yang tergesa-gesa. Isu semacam ini mudah sekali diendus serta menghasilkan wasangka dan kecurigaan yang tidak-tidak.

Hanya jajaran rektorat dan sejumlah mahasantri Shabran yang mungkin tahu penyebab sebenarnya. Namun, satu‑satunya cara meredam kecurigaan publik adalah memberi jawaban tegas: mengapa Rizqi tergesa‑gesa mengundurkan diri padahal masa baktinya hampir habis? Apakah studi di Newcastle memang menuntutnya segera mengundurkan diri? Dan mengapa ia begitu khawatir jika media kami meliputnya? 

Pabelan‑online.com tidak bisa pula memaksa siapa pun buka suara atas desas‑desus ini. Demi menjaga integritas sebuah media, yang bisa kami lakukan hanyalah meng-crosscheck. Meski pada akhirnya hanya Tuhan dan Rizqi yang tahu persis apa yang terjadi dibalik kemundurannya, mau dimungkiri hingga bagaimanapun, surat dan sanggahan itu telah menyiratkan kejanggalan dan wasangka. 

Amat wajar jika publik mencurigai hal yang tak berjalan dengan semestinya, alias bengkok. Berkilah dari keganjilan ini tak akan mengaburkan fakta yang ada, maka menutup-nutupinya adalah upaya yang sia-sia karena sekali lagi, publik sudah terlanjur curiga.

Also Read

Tinggalkan komentar