LPM Pabelan

Ilustrasi: Pabelan Online/Aqill Adhitya

Proses pembangunan Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang baru ditargetkan bakal kelar pada akhir Oktober mendatang. Setelah berkali-kali diliput, diprotes, dan dikritik karena parkiran fakultas itu terendam banjir saat hujan lebat, kampus akhirnya bersedia menindaklanjuti persoalan tersebut.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Lebih dari sekadar menyelesaikan masalah parkiran, kampus rupanya juga membangunkan gedung megah untuk fakultas itu, bahkan nyaris menyamai megahnya Gedung Siti Walidah meski bentuknya persegi panjang. Sudah sepatutnya kita mengapresiasi kampus yang telah menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni membludaknya parkiran FEB, ditambah pula membludaknya mahasiswa sejak dibukanya program studi baru di fakultas itu tahun lalu: bisnis digital.

Namun, realisasi proyek itu tidak lahir tanpa efek samping. Sampai perkuliahan semester gasal 2025/2026 dimulai, pembangunan gedung itu rupanya belum bisa diselesaikan. Akibatnya, ketika para mahasiswa sudah mulai masuk dan Gedung FEB baru belum bisa ditempati, kegiatan perkuliahan mereka terpaksa dialihkan ke Gedung Pascasarjana, yang melekat dengan Gedung Psikologi. 

Buntut masalahnya adalah penuhnya parkiran kendaraan dan sesaknya ruang kelas mahasiswa. Sebab, memarkir kendaraan di depan Gedung Olahraga (GOR) membuat mereka harus berjalan kaki lebih jauh ketimbang ketika memarkir kendaraannya di parkiran Fakultas Psikologi.

Parkiran Fakultas Psikologi membludak pun menjadi keniscayaan. Di sisi lain, mahasiswa FEB juga terpaksa harus dijejalkan ke ruang kelas di Gedung Pascasarjana yang sempit.

Meskipun, bukan berarti mahasiswa FEB bisa serta-merta disalahkan dalam urusan perparkiran. Sebab, tidak semua yang memadati parkiran Fakultas Psikologi hanya kendaraan milik mahasiswa FEB saja, tetapi juga mahasiswa Fakultas Teknik, bahkan mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) juga memarkir kendaraanya di sana tatkala parkiran dekat fakultas mereka penuh di jelang siang hari.

Namun, apa boleh buat? Pihak Biro Aset Universitas (BAU) tidak bisa membereskan masalah parkiran yang membludak dan kelas yang sesak dalam sekejap. Artinya, opsi yang ada hanyalah mahasiswa, dari fakultas mana pun yang terdampak, harus bersabar dalam menghadapi keterbatasan lahan parkir dan ruang kuliah hingga waktu yang telah dijanjikan Gedung FEB itu beres dibangun: akhir Oktober mendatang.

Dosen pengampu kelas yang sesak karena overload juga sudah berikhtiar mengakali dengan membagi kloter jam kuliah dan jatah daring masing-masing kelas. Sepanjang pihak kampus sudah mengikhtiarkan, tidak ada yang bisa didesak untuk melakukan ini dan itu.

Selain bersabar, upaya yang bisa dilakukan mahasiswa mungkin hanyalah mawas diri, disiplin memarkir kendaraannya supaya tidak merepotkan mahasiswa lain yang hendak memarkir motor. Terlepas dari latar belakang fakultas yang memarkir kendaraannya di parkiran Fakultas Psikologi, mau di mana pun itu, memarkir kendaraan memang sudah sepatutnya ditata dengan rapi. 

Memarkir kendaraan secara sembarangan adalah buah dari cara berpikir yang berantakan. Alangkah baik jika BEM dari masing-masing fakultas yang terdampak bersedia menghimbau mahasiswanya agar disiplin dalam menata rapi kendaraannya di parkiran mana pun. Meskipun, kemampuan memarkir kendaraan dengan rapi sejatinya adalah bare minimum yang harus dimiliki seseorang, (lebih tepatnya) siapa pun yang tidak dungu demi mencegah orang lain kerepotan memarkir kendaraannya.

Namun, apabila pembangunan Gedung FEB baru yang dijanjikan ternyata melewati tenggat waktu yang telah dijanjikan, kita bisa menagih ke pihak kampus dan mendesak mereka melakukan sesuatu. Sebab, mengawal proyek yang ujungnya untuk kesejahteraan sivitas akademika adalah tugas kita bersama, seluruh sivitas akademika UMS.

Also Read

Tinggalkan komentar