
Savana
Beranjak menanjak setapak demi setapak
Jejak-jejak bergerak serentak menginjak
Mendesak sesak merusak semak
Mendobrak congkak menolak tamak
Lelah perjalanan menyusuri lembah
Kawah kesunyian memberi telaah
Suara nyanyian malam menjadi petuah
Semua penantian menemani amarah
Kesabaran diuji seakan keras mencekik
Penyesalan diri perlahan pulas mengusik
Kegigihan hati melawan keras si cerdik
Perhitungan kami akan jelas menukik
Tibalah apa yang telah dinantikan
Megah savana terbentang menumpu perkemahan
Tanda jiwa-jiwa usang sedang kelelahan
Bersama cerahnya bintang juga rembulan
Menyumbui malam bersama secangkir kopi
Menikmati alam juga mengukir imaji
Mengobati lebam luka didalam hati
Melucuti bermacam lara tak bertepi
Pagi telah datang, isi perut mulai bergoyang
Mentari berkilau terang menyinari dengan lantang
Berseri wajah manusia, tersenyum, tertawa riang
Berlari kencang menuju lebatnya ilalang
Bukit menjulang menghias padang savana
Sengit menerjang menghempas tekadnya
Menjerit senang melepas penatnya
Terbangkit, bersiap menantang buas dunia
Sejuk
Sejuknya udara di pegunungan
Segar terasa merasuk pernafasan
Menariknya dalam dalam
Melepaskannya secara perlahan
Dingin suhunya menyentuh badan
Bersama hangatnya cokelat asli dari perkebunan
Seluas luasnya pandangan
Hanya tertuju pada hijaunya pepohonan dan sayuran
Rasanya tak boleh ada hal lain
Selain dari melihat keindahan
Merenungi, menysukuri, mengagumi kuasa Tuhan
Menghayatinya sugguh sangat menenangkan
Meresapi arti dari sebuah ciptaan
Meruntuhkan seluruh keangkuhan
Melenyapkan seluruh beban
Menghapuskan seluruh kesakitan
Aku hanyalah manusia biasa, yang bermukim di perkotaan
Namun aku telah jatuh cinta
Pada suasana desa di pegunungan
Salahkah aku tuk merindukan?
Segala keasrian serta keelokan
Segala kehangatan serta keramahan
Segala kelembutan serta kebersamaan
Dan segala hal yang tak ada di perkotaan
Apa arti banyak harta, bila terkekang keserakahan?
Lebih baik bebas, hidup nyaman dalam kesederhanaan
Sungguh tak ada yang dapat menggantikan
Indahnya kenangan saat di pegunungan
Penulis : Muhammad Busyro Al Muqoddas
Mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Editor : Mulyani Adi Astutiatmaja
Baca Juga: Diskusi tentang BTS Meal McDonalds dan Kapitalisme Bersama LPM Justissica







