
Akun Instagram resmi @perpusums alias perpustakaan yang ada di kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperbarui jadwal layanan. Terhitung mulai Rabu, 14 Mei lalu, perpustakaan beserta layanan digital di hari Senin–Jumat dibuka dari pukul 7 pagi hingga 8 malam. Sementara pada hari Sabtu, layanan dibuka mulai pukul 8 pagi hingga 4 sore.
Perlu dicatat, jam operasional pelayanan hingga malam hari sejatinya bukanlah hal baru. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, perpustakaan UMS sudah pernah menerapkannya. Di sisi lain, banyak perpustakaan di kampus-kampus lain telah menerapkannya jauh-jauh hari bahkan sejak awal perpustakaan itu dibangun. Di sejumlah perguruan tinggi lain, kebijakan semacam ini telah menjadi standar sejak awal keberadaan perpustakaan mereka.
Walaupun mungkin terkesan lambat, alasan perpustakaan UMS baru menerapkannya kembali baru-baru ini sejatinya masih bisa dimaklumi. Pemulihan pasca-pandemi tentunya menuntut waktu dan kesiapan. Mungkin saja, butuh lima tahun bagi perpustakaan UMS untuk menata kembali kondisi hingga mampu menjalankan layanan seperti sedia kala.
Kendati demikian, upaya tersebut tetap patut diapresiasi oleh seluruh sivitas akademika. Apalagi, sampai hari ini kampus belum memiliki co-working space resmi yang dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa baik untuk melakukan aktivitas akademik maupun non-akademik, atau sekadar memerlukan ketenangan batin.
Dengan jam buka pelayanan yang lebih lama, siapa pun yang memerlukan tempat hingga matahari terbenam untuk membaca buku, belajar, dan kerja kelompok akan lebih terakomodir. Tak hanya dari segi kenyamanan, tetapi juga efisiensi biaya. Mahasiswa tak perlu lagi menghambur-hamburkan duit karena terpaksa mengikuti kerja kelompok di kafe dan membeli kopi seharga dua kali makan siang.
Sayangnya, penerapan kebijakan baru ini tidak lahir tanpa konsekuensi. Meski perpanjangan jam operasional adalah kabar yang menggembirakan, lonjakan pengunjung membuat ruang baca di sana terasa sesak. Ini terjadi karena karakteristik pengunjung yang beragam. Tak semua pengunjung perpustakaan merupakan segerombol mahasiswa yang hendak kerja kelompok; sebagian besar justru hadir sendirian untuk belajar, membaca, atau bahkan sekadar menyendiri saja.
Masalah muncul karena mayoritas furnitur di perpustakaan itu berupa meja kelompok berkapasitas 4–6 kursi, sementara jumlah meja dan kursi tunggal untuk satu orang sangat terbatas. Akibatnya, mahasiswa yang datang sendirian terpaksa duduk di meja kelompok. Alhasil, meja yang seharusnya bisa dimanfaatkan bersama justru hanya terisi oleh satu orang.
Imbasnya, mahasiswa lain yang datang bergerombol hendak kerja kelompok kesulitan menemukan ruang duduk yang memadai. Meja kelompok yang terisi satu orang menjadi mubazir karena banyak kelompok yang membutuhkan meja serupa untuk berdiskusi. Inilah yang membuat perpustakaan terasa penuh, meskipun secara kapasitas fisik masih cukup luas.
Sudah saatnya perpustakaan UMS lebih memerhatikan lagi pengunjung-pengunjungnya. Jika memungkinkan, menambah jumlah meja tunggal adalah langkah yang layak dipertimbangkan demi mengakomodasi para pengunjung individu. Jika belum memungkinkan, setidaknya perlu ada regulasi untuk pengunjung tunggal agar menempati bangku tunggal lebih dulu dan meja kelompok tidak mubazir ditempati.






