LPM Pabelan

Akhirnya ada kabar baik mengenai kejelasan kuliah luring yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, setelah sebelumnya hanya ketidakpastian kabar yang mereka terima. Kali ini, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Sofyan Anif, mengumumkan rencana perkuliahan luring yang akan dilaksanakan secara bertahap pada bulan Agustus mendatang.

Kesusahan mengikuti proses pembelajaran, kesulitan mengerjakan tugas karena keterbatasan media dan alat pendukung, akan sedikit terobati bilamana dosen dan mahasiswa tidak lagi terhalang oleh jarak. Berkaca pada liku masalah pembelajaran daring, semua itu akan teratasi bilamana perkulihan luring bisa dilaksanakan segera mungkin.

Memang kabar mengenai perkuliahan luring ini menyegarkan para mahasiswa yang sudah sangat jenuh dengan kuliah daring, dan segala tekanan serta beban yang mereka rasakan. Namun, jika ditilik lebih teliti, kini banyak muncul varian baru hasil mutasi Covid-19 dengan berbagai nama dan asalnya. Dengan munculnya varian baru, apakah rencana tersebut dapat terlaksana di bulan Agustus. Pertanyaan tersebut masih mengganjal sampai saat ini.

Kembali dilaksanakan perkuliahan luring memang rencana dan harapan bagi setiap mahasiswa. Tetapi, hal tersebut juga harus dilakukan sembari memikirkan perencanaan yang matang sesuai dengan keadaan. Keselamatan mahasiswa dan dosen adalah prioritas paling utama. Sehingga pihak pemerintah dan kampus wajib mengambil sikap paling matang sebelum nantinya bisa terealisasi dengan baik sesuai prosedur.

Rencana perkuliahan luring yang akan dimulai bertahap bulan Agustus ini harus memperhatikan beberapa syarat. Meskipun syarat yang harus dipenuhi mahasiswa terbilang rumit, tetapi hal tersebut sangat penting dalam rencana menghadapi perkuliahan tatap muka.

Dengan merencanakan perkuliahan secara luring di bulan Agustus mendatang, seharusnya pihak kampus sudah mempertimbangkan banyak hal secara mendasar terkait rencana tersebut. Sebab, faktor risiko penularan akan lebih tinggi karena banyak mahasiswa UMS yang tidak hanya berasal dari satu daerah. Hal ini dapat beresiko semakin meningkatnya penyebaran virus Covid-19.

Selain itu, perkuliahan luring ini juga akan dilakukan secara bertahap yang artinya tidak semua mahasiwa dapat merasakan pembelajaran secara tatap muka. Hal ini dilakukan sebagai tahap awal, karena mengingat jika virus Covid-19 belum sepenuhnya hilang. Sampai harapan terkait perkuliahan luring benar-benar nyata, yang dapat dilakukan mahasiswa saat ini hanya tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada.

Sebagai seorang mahasiswa sudah sepatutnya menanggapi setiap persoalan dengan kritis. Keadaan yang tidak jelas ujungnya ini sangat berdampak buruk pada pendidikan dan nasib mahasiswa. Namun, seharusnya mahasiswa juga paham dan mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Bukan terus menuntut pemerintah dan kampus untuk segera bertindak memutuskan perkuliahan tatap muka.

Jika memang rencana perkuliahan luring tersebut tetap dilaksanakan, dari pihak kampus sendiri dan mahasiswa harus bekerja sama untuk mematuhi syarat yang ada. Tetap menjalankan protokol kesehatan dan mendapatkan vaksinasi.

Kemudian, pihak UMS harus kembali berdiskusi dan mempertimbangkan segala resiko dengan melihat keadaan saat ini. Vaksinasi yang dilakukan adalah tahap awal pencegahan, sedangkan penularan Covid-19 masih dapat terjadi pada tubuh yang sudah divaksin sekalipun. Jangan sampai ada klaster baru yang dimulai dari pekuliahan luring ini.

Pihak pemerintah dan kampus baiknya mempunyai strategi tatap muka sesuai dengan standar keamanan kesehatan. Penerapan standar protokol kesehatan di tiap kampus wajib tersedia seperti tempat cuci tangan, tatanan model ruang kelas mengacu pada physical distancing, dan sterilisasi berkala juga perlu diupayakan.

 

Baca Juga: BEM KM UNNES Mendapat Tekanan dari Pihak Kampus Usai Kritik Petinggi Negara

Also Read

Tinggalkan komentar